Logo SantriDigital

amalan apa saja yang harus dilakukan di bulan dzul hijjah

Ceramah
W
Waryono
2 Mei 2026 5 menit baca 0 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. وَالَّذِي نُفْسِي بِيَدِهِ، لَا تَنْقُصُ الْأَيَّامُ وَاللَّيَالِي حَتَّى تَنْقُصَ الدُّنْيَا، وَلَا يَنْقُصُ الدُّنْيَا شَيْءٌ، وَلَكِنْ هَلْ تَدْرُونَ أَيُّ شَيْءٍ يَنْقُصُ؟ يَزْدَادُ الزَّمَانُ، وَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ: "وَالْفَجْرِ ﴿١﴾ وَلَيَالٍ عَشْرٍ ﴿٢﴾" (الفجر: 1-2) رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي Ibu-ibu yang senantiasa dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala. Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Yang terhormat para alim ulama, para zuama, Bapak/Ibu tokoh masyarakat, serta seluruh hadirin tamu undangan yang berbahagia, khususnya kepada ibu-ibu pengajian yang saya muliakan. Senang sekali rasanya pada kesempatan yang berbahagia ini kita dapat dipertemukan kembali dalam sebuah majelis ilmu yang insya Allah penuh berkah. Terima kasih atas kehadiran Ibu-ibu sekalian. Sungguh, kehadiran Ibu-ibu di sini menunjukkan semangat yang luar biasa dalam menuntut ilmu dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Semoga setiap langkah yang Ibu-ibu ambil dicatat sebagai amal kebaikan oleh Allah SWT. Hari ini, izinkan saya sedikit berbagi dan mengingatkan diri kita bersama, khususnya menjelang datangnya bulan yang penuh kemuliaan, yaitu bulan Dzul Hijjah. Bulan Dzul Hijjah bukanlah sekadar pergantian kalender, melainkan sebuah kesempatan emas yang Allah berikan untuk meningkatkan kualitas spiritual dan ibadah kita. Pertanyaannya, amalan apa saja yang seyogianya kita persiapkan dan laksanakan di bulan yang mulia ini? Bulan Dzul Hijjah memiliki keistimewaan yang sangat luar biasa dalam Islam. Keistimewaan ini terbentang dalam beberapa aspek, terutama berkaitan dengan dua peristiwa agung: ibadah haji dan ibadah kurban, serta keutamaan sepuluh hari pertamanya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'anul Karim: "Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan menunggang unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh." (QS. Al-Hajj: 27). Ayat ini secara tegas menyebutkan pentingnya ibadah haji yang puncaknya dilaksanakan di bulan Dzul Hijjah. Selain itu, Allah SWT juga berfirman yang menunjukkan keutamaan beberapa waktu yang istimewa: "Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan demi bulan apabila menampakkannya, dan demi siang apabila menampakkannya, dan demi malam apabila menutupinya, dan demi langit serta pembinaannya, dan demi bumi serta penghamparannya, dan demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan rugi orang yang mengotorinya." (QS. Asy-Syams: 1-10). Para ulama tafsir sepakat bahwa "malam-malam yang sepuluh" dalam ayat tersebut merujuk pada sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah. Ini menunjukkan betapa istimewanya waktu tersebut di mata Allah. Keistimewaan ini juga dipertegas oleh sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Tidak ada hari-hari yang lebih Allah sukai untuk beribadah kepada-Nya daripada sepuluh hari Dzul Hijjah. Berpuasa setiap hari di dalamnya sama dengan berpuasa setahun. Berdiri shalat pada setiap malamnya sama dengan shalat pada malam Lailatul Qadar." (HR. Tirmidzi). Melihat keutamaan ini, sudah sewajarnya kita mempersiapkan diri untuk memaksimalkan ibadah di bulan ini. Amalan pertama yang sangat ditekankan adalah puasa. Terutama puasa di hari Arafah, yaitu tanggal 9 Dzul Hijjah. Puasa ini memiliki keutamaan yang luar biasa, bahkan disebutkan dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Puasa Arafah menghapus dosa dua tahun, yaitu dosa yang terlewat dan dosa yang akan datang." (HR. Muslim). Selain puasa Arafah, puasa pada hari-hari lain di sepuluh hari pertama Dzul Hijjah juga sangat dianjurkan. Ini adalah kesempatan bagi kita yang mungkin belum berkesempatan menunaikan haji untuk turut merasakan atmosfer keberkahan bulan ini melalui ibadah puasa. Amalan kedua yang paling ikonik di bulan Dzul Hijjah adalah ibadah kurban. Kurban adalah simbol ketaatan dan kepatuhan seorang hamba kepada Allah, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim alaihissalam dan putranya, Nabi Ismail alaihissalam. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah." (QS. Al-Kautsar: 2). Ibadah kurban di sini bukan hanya sekadar menyembelih hewan, tetapi lebih dalam lagi mengandung makna keikhlasan, kepedulian sosial, dan meneladani ketundukan Nabi Ibrahim terhadap perintah Allah, meskipun perintah itu sangat berat. Bagi yang mampu, menyembelih hewan kurban adalah salah satu amalan yang paling dicintai Allah di hari raya Idul Adha. Amalan ketiga yang tidak kalah penting adalah takbir. Mengumandangkan takbir di hari-hari Dzul Hijjah, terutama dari tanggal 1 hingga 13 Dzul Hijjah, adalah syiar Islam yang sangat dianjurkan. Takbir dapat kita kumandangkan di waktu-waktu shalat, di rumah, di jalan, di lingkungan masing-masing. Kalimat takbir: "Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha illallah, wallahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd." Mengagungkan kebesaran Allah adalah bentuk pengingat diri bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah titipan-Nya dan kekuatan terbesar ada pada-Nya. Selain itu, jangan lupakan amalan-amalan dasar yang harus terus kita jaga dan tingkatkan, seperti shalat fardhu tepat waktu, shalat sunnah rawatib, shalat malam (qiyamul lail), membaca Al-Qur'an, sedekah, berzikir, dan menjaga silaturahmi. Sepuluh hari pertama Dzul Hijjah adalah momentum terbaik untuk lebih giat lagi dalam menjalankan ibadah-ibadah ini. Bayangkan, setiap kebaikan yang kita lakukan di hari-hari ini dilipatgandakan pahalanya. Bagi ibu-ibu sekalian, amalan-amalan ini bisa diintegrasikan dalam keseharian. Saat memasak untuk keluarga, kita bisa sambil berzikir. Saat membersihkan rumah, kita bisa sambil bertakbir. Saat mendidik anak, kita bisa sambil menanamkan nilai-nilai keikhlasan meneladani Nabi Ibrahim. Mengajak anak-anak untuk berpuasa sunnah, bahkan jika hanya sebagian hari, adalah edukasi yang sangat berharga. Mari kita jadikan momentum bulan Dzul Hijjah ini sebagai titik balik untuk memperbaiki kualitas ibadah kita. Bukan hanya sekadar rutinitas, tetapi dengan hati yang penuh keikhlasan dan harapan agar amalan kita diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ingatlah firman Allah: "Dan berbekallah, maka sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa..." (QS. Al-Baqarah: 197). Marilah kita renungkan, apakah kita sudah benar-benar memanfaatkan setiap detik yang Allah berikan? Apakah kita sudah mempersiapkan diri menyambut bulan Dzul Hijjah dengan sebaik-baiknya? Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua. Sebagai penutup, marilah kita simpulkan beberapa amalan utama di bulan Dzul Hijjah ini: pertama, puasa, khususnya puasa Arafah. Kedua, kurban bagi yang mampu. Ketiga, takbir untuk mengagungkan kebesaran Allah. Dan keempat, meningkatkan seluruh amalan ketaatan lainnya. Mari kita bulatkan tekad untuk mengamalkan ilmu yang telah kita dapatkan hari ini. Semoga Allah memberkahi setiap langkah kita dan menerima seluruh amal ibadah kita. Astagfirullah wa atubu ilaih. Segala puji bagi Allah yang telah memudahkan segala urusan kita. Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kesalahan dalam penyampaian, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Kepada Allah kita memohon ampunan. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →