Logo SantriDigital

ciri ciri orang beriman

Khutbah Jumat
A
adim
28 April 2026 3 menit baca 1 views

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ...

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Ayah, Bunda, Saudara-saudari seiman yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada hari yang mulia ini, tatkala bumi bersujud dan langit menyaksikan, marilah kita renungkan, di lubuk hati yang terdalam, siapakah diri kita di hadapan Sang Pencipta? Adakah kita termasuk dalam golongan hamba-hamba-Nya yang beriman, yang hatinya senantiasa tersinari cahaya Ilahi, ataukah kita terombang-ambing dalam lautan kelalaian dan kedurhakaan? Pertanyaan ini menggema di relung jiwa, menggetarkan sanubari. Sungguh, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, namun azab-Nya pedih bagi mereka yang melampaui batas. Di mana hati kita tertambat? Adakah rindu untuk bertemu Allah, ataukah justru takut dan cemas yang membayangi setiap langkah? Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Iman itu bukan sekadar ucapan di lisan. Iman adalah kenyataan yang meresap ke dalam lubuk hati, kemudian mewujud dalam setiap gerak dan tingkah laku kita. Para ulama kita telah menggariskan banyak tanda-tanda orang beriman, namun pada kesempatan yang penuh kesedihan ini, saya ingin mengajak kita merenungi dua sifat utama yang membedakan mukmin sejati. Pertama, adalah ketakutan yang membuncah tatkala nama Allah disebut, dan kegembiraan yang meluap tatkala ayat-ayat-Nya dibacakan. Ini adalah tanda mukmin yang hatinya hidup. Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang mulia: "Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambah (kuat) iman mereka dan kepada Tuhan mereka, mereka bertawakal." (QS. Al-Anfal: 2) Bayangkan, Saudaraku, ketika kita mendengar kumandang azan, apakah hati kita bergetar merindu panggilan-Nya? Ketika ayat-ayat suci dibacakan, apakah ada rasa haru yang mengalir, seolah Allah sedang berdialog langsung dengan kita? Jika jawaban kita masih ragu, atau bahkan acuh tak acuh, maka inilah saatnya kita menangis. Menangis meratapi hati yang mungkin telah membeku. Menangis memohon cahaya kembali menyinari jiwa yang redup. Bukankah kita mengaku mencintai Allah? Bukankah kita merindukan surga-Nya? Bukankah kita takut akan murka-Nya? Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Tanda kedua yang tak kalah pentingnya adalah kesabaran yang teguh di kala ujian datang, dan rasa syukur yang tak terhingga di kala nikmat dilimpahkan. Mukmin sejati memahami bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah takdir Allah. Ketika musibah menimpa, mereka tidak berputus asa, melainkan beristighfar dan kembali merangkak menuju rahmat-Nya. Dan ketika kebahagiaan menghampiri, mereka tidak menjadi sombong, melainkan berujar, "Ini adalah karunia dari Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau ingkar." Ingatlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: "Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, karena urusannya seluruhnya baik baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia mendapatkan kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya. Dan tidaklah demikian itu kecuali bagi seorang mukmin." (HR. Muslim) Saudariku fillah, lihatlah kepada diri kita. Saat ujian datang, apakah kita malah semakin jauh dari Allah? Apakah lisan kita malah mengeluarkan keluh kesah yang sia-sia, mempertanyakan keadilan-Nya? Ataukah kita berpelukan erat dengan kesabaran, tawakal, dan doa, memohon pertolongan dari-Nya? Dan ketika Allah berikan sedikit nikmat, apakah kita teringat untuk bersyukur? Atau justru kesibukan dunia melenakan kita dari mengingat Sang Pemberi nikmat? Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Air mata yang menetes karena takut kepada Allah, adalah permulaan keselamatan. Rindu yang memuncak untuk bertemu Allah, adalah bekal utama kehidupan akhirat. Marilah kita pandang wajah kita di cermin kehidupan ini. Adakah pantulan mukmin sejati di sana? Adakah gelora iman yang membakar jiwa, membimbing langkah menuju ridha-Nya? Jika hati kita masih terasa dingin, jika ayat-ayat-Nya tak lagi menggetarkan, jika ujian justru menjauhkan kita dari-Nya, maka ini adalah tangisan penyesalan yang sesungguhnya. Ya Allah, kami adalah hamba-Mu yang lemah. Ampuni segala khilaf kami. Sejukkanlah hati kami dengan cinta-Mu. Bangkitkan kembali iman kami dari tidur panjangnya. Jangan Kau biarkan kami terpisah dari rahmat-Mu. Jadikanlah lisan kami senantiasa basah dengan dzikir kepada-Mu, hati kami senantiasa merinduimu, dan raga kami senantiasa patuh pada perintah-Mu. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →