Dzikir mujahadah
Kultum
A
AHMAD KHOIRON
4 Mei 2026
3 menit baca
0 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ و...
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:
"إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ" (آلِ عِمْرَان: 190-191)
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Hadirin wal hadirat, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Terbang tinggi burung kenari,
Hinggap sebentar di dahan cemara.
Teruslah berdzikir dalam setiap hari,
Agar hati tentram, jiwa pun gembira.
Pada kesempatan yang penuh berkah ini, izinkan saya mengajak kita semua untuk merenungi satu amalan luhur yang seringkali terlupakan di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, yaitu dzikir mujahadah. Mujahadah, sebuah kata yang identik dengan perjuangan, namun dalam konteks dzikir, ia berarti sebuah perjuangan untuk terus menerus menyebut nama Allah, melawan segala bentuk kelalaian dan godaan yang menjauhkan diri kita dari Sang Pencipta.
Allah Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Anfal ayat 24:
"يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ"
"Wahai orang-orang yang beriman, patuhilah Allah dan Rasul-Nya apabila mereka memanggilmu pada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya hanya kepada- Nyalah kamu akan dikumpulkan."
Ayat ini mengingatkan kita bahwa kehidupan sejati adalah ketika hati kita senantiasa menyadari kehadiran Allah. Dzikir mujahadah adalah bentuk ketaatan kita untuk menjawab panggilan Ilahi ini, sebuah ikhtiar untuk menghidupkan hati kita dengan cahaya keimanan. Seringkali, hati kita tertutup oleh bisikan duniawi, terlena oleh kesibukan yang fana. Dzikir, terutama yang dilakukan dengan penuh kesungguhan (mujahadah), adalah obat mujarab untuk membersihkan hati tersebut.
Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ"
"Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dengan orang yang tidak berdzikir kepada Rabbnya adalah seperti perumpamaan orang yang hidup dengan orang yang mati." (HR. Bukhari)
Bayangkanlah, betapa mengerikannya hati yang mati. Ia tidak lagi merasakan keindahan ibadah, tidak lagi tergerak oleh ayat-ayat peringatan, bahkan kebaikan pun terasa berat. Dzikir mujahadah adalah bagaimana kita berusaha menghidupkan kembali hati yang mungkin telah lama tertidur. Para ulama salaf senantiasa menjaga dzikir mereka dengan sungguh-sungguh. Imam An-Nawawi rahimahullah pernah berkata, "Dzikir itu membangkitkan hati dari kelalaiannya."
Mari kita hadirkan dzikir tidak hanya sekadar gerakan lisan, namun sebuah perjuangan ruhani. Saat kita mengucapkan "Subhanallah", kita sedang melawan rasa sombong. Saat kita mengucapkan "Alhamdulillah", kita sedang melawan sifat kufur nikmat. Saat kita mengucapkan "La ilaha illallah", kita sedang melawan berbagai macam syirik dan keraguan. Ini adalah medan pertempuran, medan mujahadah ruhani.
Oleh karena itu, hadirin sekalian, mari kita berkomitmen untuk menjadikan dzikir mujahadah sebagai bagian tak terpisahkan dari keseharian kita. Luangkan waktu, meski hanya beberapa menit, untuk duduk dalam keheningan, menyadari kebesaran Allah, dan menyebut nama-Nya dengan penuh kekhusyukan. Jadikan dzikir sebagai bekal kita, pelipur lara di kala susah, penenang hati di kala resah, dan cahaya di akhir perjalanan kita.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa menjaga hati kita tetap hidup dalam dzikir, dan menganugerahkan kita ketenangan serta kebahagiaan dunia akhirat. Aamiin.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ