Hari buruh
Khutbah Jumat
A
abdullah Salam
1 Mei 2026
7 menit baca
1 views
(Khutbah dimulai dengan nada tenang dan berwibawa, perlahan menaikkan intensitas emosional seiring berjalannya waktu) الحمد لله الَّذِيْ خَلَقَ السَّ...
(Khutbah dimulai dengan nada tenang dan berwibawa, perlahan menaikkan intensitas emosional seiring berjalannya waktu)
الحمد لله الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّوْرَ، ثُمَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Hari ini, kita dipertemukan kembali di hari yang mulia, hari Jumat. Bulan Mei ini, identik dengan peringatan Hari Buruh. Sebuah momen yang mengingatkan kita pada usaha, kerja keras, dan perjuangan mencari nafkah. Namun, sebagai seorang Muslim, mari kita tengok peringatan ini dari sudut pandang yang lebih dalam, yang lebih menyentuh relung jiwa kita. Mari kita renungkan hakikat bekerja dalam pandangan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Bekerja adalah sebuah perintah dan anjuran dari Allah. Bukan sekadar kewajiban duniawi, melainkan ibadah yang mendatangkan ridha-Nya. Setiap tetes keringat yang menetes karena bekerja dijalan yang halal adalah bukti taat kita pada Sang Pencipta. Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
"Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’” (QS. Thaha: 114)
Ayat ini mengajarkan kita bahwa ilmu, termasuk ilmu yang membawa kepada perbaikan dalam bekerja dan kehidupan, adalah sesuatu yang patut kita mohonkan kepada Allah. Bekerja dengan sungguh-sungguh, dengan ilmu, dengan niat yang lurus, adalah bentuk pertanggungjawaban kita di hadapan-Nya. Kita diberikan akal, tenaga, dan kesempatan untuk berkarya. Jangan sampai potensi ini kita sia-siakan hanya untuk kesenangan sesaat atau keuntungan duniawi yang fana.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Ketika kita berbicara tentang "buruh" atau "pekerja", mari kita mengingat bahwa setiap usaha yang kita lakukan, sekecil apapun itu, memiliki nilai di sisi Allah, asalkan dilakukan dengan niat yang ikhlas dan cara yang benar. Jangan pernah meremehkan pekerjaan yang halal, sebab di mata Allah, yang terpenting adalah kejujuran dan ketekunan kita. Ingatlah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدَيْهِ، وَإِنَّ نَبِىَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدَيْهِ.
"Tidak ada seorang pun yang memakan satu makanan pun yang lebih baik daripada berasal dari hasil usaha tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Allah Daud 'alaihissalam memakan dari hasil usaha tangannya sendiri." (HR. Bukhari)
Lihatlah teladan para nabi! Mereka bekerja keras, mencari nafkah dari jerih payah mereka sendiri. Ini membuktikan bahwa pekerjaan yang kita lakukan, bahkan yang dianggap rendah oleh pandangan manusia, akan terangkat nilainya jika kita melakukannya dengan penuh tanggung jawab dan berserah diri kepada Allah.
Namun, seringkali pekerjaan duniawi ini membuat kita lupa. Lupa akan hakikat diri kita sebagai hamba Allah. Lupa akan tujuan akhir kita. Kita terlalu sibuk mengejar dunia, hingga melupakan bekal akhirat. Keringat kita mungkin bercucuran untuk mendapatkan materi, namun apakah hati kita juga bercucuran demi taat kepada Sang Pemberi Materi?
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Pernahkah kita merenung? Berapa banyak waktu yang kita habiskan di tempat kerja? Berapa banyak energi yang kita keluarkan? Lalu, berapa banyak waktu yang kita sediakan untuk Allah? Untuk membaca kalam-Nya, untuk merenungi kebesaran-Nya, untuk memohon ampun dari segala khilaf yang mungkin kita lakukan saat bekerja?
Sungguh, dunia ini hanyalah sementara. Perjuangan di dunia ini, termasuk perjuangan mencari nafkah, adalah ladang amal yang akan menentukan nasib kita di kehidupan abadi. Marilah kita jadikan setiap pekerjaan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Niatkan setiap langkah, setiap usaha, sebagai ibadah.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِى يَدِ أَحَدِكُم صَلِيحَةٌ ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لاَ تَقُومَ حَتَّى يَغرِسَهَا، فَلْيَغرِسْهَا
"Apabila hari kiamat terjadi sedangkan di tangan salah seorang dari kalian ada bibit pohon, lalu ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, maka hendaklah ia menanamnya." (HR. Ahmad)
Hadits ini, meskipun berbicara tentang menanam pohon di akhir zaman, mengajarkan kita sebuah prinsip yang sangat mendalam: teruslah beramal, teruslah berusaha, hingga nafas terakhir. Jangan pernah berhenti berbuat baik, sekecil apapun itu. Termasuk dalam pekerjaan kita, teruslah berusaha memberikan yang terbaik, bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga untuk orang lain, dan yang terpenting, untuk meraih ridha Allah.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Mari kita jujur pada diri sendiri. Apakah kita sudah bekerja sesuai dengan syariat-Nya? Apakah kita tidak pernah sedikitpun menyalahgunakan amanah yang diberikan? Apakah kita tidak pernah menipu, membohongi, atau merugikan orang lain dalam pekerjaan kita?
Jika ada sedikit saja keraguan dalam hati kita, inilah saatnya untuk merenung. Inilah saatnya untuk tunduk. Inilah saatnya untuk kembali. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dia menunggu taubat kita, Ia menunggu tangisan penyesalan kita.
Tangisan air mata yang membasahi pipi karena takut akan siksa-Nya, atau karena terharu akan rahmat-Nya, adalah bukti keimanan yang hidup dalam hati. Marilah kita jangan hanya menjadi pekerja yang giat di dunia, namun menjadi hamba yang lalai di akhirat. Jadikan setiap pekerjaan kita sebagai tangga menuju surga, bukan jalan menuju neraka.
Bukan sekadar menuntut hak sebagai pekerja, namun juga menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah. Bukan semata mencari keuntungan dunia, namun lebih utama mencari bekal untuk kehidupan abadi.
Di akhir khutbah pertama ini, marilah kita memohon ampunan kepada Allah, memohon agar diberikan kekuatan untuk senantiasa bekerja keras dalam kebaikan, dan menjadikan setiap lelah kita sebagai penambah timbangan amal di sisi-Nya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
(Jeda sejenak, khatib kemudian melanjutkan ke khutbah kedua dengan nada yang lebih menghentak, mengajak umat untuk memohon kepada Allah)
---
(Khutbah kedua dimulai dengan nada yang lebih menghentak, penuh semangat namun tetap meresapi)
Alhamdulillah Rabbil 'alamin, wash sholatu was salamu 'ala Asrofil Anbiya'i wal mursalin, wa 'ala alihi wa sohbihi ajma'in.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Di penghujung waktu peringatan Hari Buruh ini, mari kita bawa kesadaran kita lebih dalam lagi. Kita telah mendengar tentang perintah bekerja dalam Islam, tentang keutamaannya, dan tentang bagaimana menjadikannya sebagai ibadah. Namun, apakah sudah cukup?
Ingatlah, bahwa setiap pekerjaan kita sesungguhnya adalah pertaruhan besar. Pertaruhan antara keuntungan dunia yang fana dengan kebahagiaan akhirat yang abadi. Jika kita memilih dunia dengan melupakan Allah, maka sungguh kerugian itu nyata. Betapa banyak orang yang bekerja keras sepanjang hidupnya, mengumpulkan harta, namun lupa bahwa ia akan meninggalkan semuanya di hadapan Sang Khaliq.
Allah Ta'ala berfirman dengan nada peringatan yang menusuk hati:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ . حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ . كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ . ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk kubur. Sekali-kali tidak; kelak kamu akan mengetahui. Kemudian sekali-kali tidak; kelak kamu akan mengetahui." (QS. At-Takatsur: 1-4)
Ya Rabb, betapa hebat peringatan-Nya! Kita terlalu sibuk dengan "bermegah-megahan" dalam pekerjaan, dalam kedudukan, dalam harta, hingga kita lupa bahwa ujung dari semua itu adalah tanah kubur. Di sanalah semua kesibukan duniawi berakhir. Di sanalah setiap orang akan mempertanggungjawabkan segala amalnya.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Jika kita merenungkan kematian, bagaimana rasanya ketika malaikat maut datang menjemput? Apakah kita sudah siap? Bekal apa yang kita bawa? Apakah hanya tumpukan materi yang takkan bernilai di hadapan Allah? Atau amal shalih yang akan menjadi penerang kubur dan jembatan menuju surga-Nya?
Jadikanlah setiap pekerjaan, setiap jerih payahmu hari ini, sebagai amal jariyah. Niatkan untuk menghidupi keluarga dengan cara yang halal, itu pahala besar. Niatkan untuk membantu sesama melalui pekerjaanmu, itu kebaikan berlipat ganda. Niatkan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran bahkan dalam urusan pekerjaanmu, itu adalah perjuangan seorang mukmin.
Marilah kita bermohon kepada Allah. Kita mohon agar Allah mudahkan urusan pekerjaan kita. Kita mohon agar Allah jauhkan kita dari segala bentuk kecurangan, penipuan, dan kemaksiatan dalam bekerja. Kita mohon agar Allah selalu membimbing hati kita untuk senantiasa mengingat-Nya, di tengah segala kesibukan dunia.
Doa-doa kita, harapan-harapan kita, haruslah mengarah kepada Allah.
اَللّٰهُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا
(Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, menyukai ampunan, maka ampunilah kami.)
اَللّٰهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ اِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ اَوْ عَمَلٍ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ اِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ اَوْ عَمَلٍ.
(Ya Allah, kami memohon kepada-Mu surga dan apa saja yang mendekatkan diri padanya berupa perkataan atau perbuatan. Dan kami berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa saja yang mendekatkan diri padanya berupa perkataan atau perbuatan.)
Mari kita hadirkan rasa takut yang mendalam kepada Allah. Takut akan siksa-Nya yang pedih. Dan hadirkan harapan yang membuncah akan rahmat-Nya yang luas. Rahmat yang dapat mengalahkan murka-Nya. Kasih sayang-Nya yang meliputi segala sesuatu.
Ya Rabb, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang pandai bersyukur atas nikmat pekerjaan, yang senantiasa amanah dalam menjalankan tugas, dan yang menjadikan setiap kelelahan sebagai peningkat derajat di sisi-Mu. Jagalah hati kami dari kesombongan dunia, dan ingatkan kami bahwa kami hanyalah sekedar musafir di dunia ini.
Aamiin Allahumma Aamiin.
(Khutbah diakhiri dengan nada yang lebih lembut namun penuh permohonan, mengajak umat untuk mengamini)
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
(Jeda sebelum shalat, khatib turun dari mimbar)