Idul adha
Khutbah Jumat
H
hasansultoni
28 April 2026
4 menit baca
0 views
Jamaah sekalian yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala. Alhamdulillahilladzi nahmaduhu wa nasta'inuhu wa nastaghfiruh, wa na'udzubillahi min syuruu...
Jamaah sekalian yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Alhamdulillahilladzi nahmaduhu wa nasta'inuhu wa nastaghfiruh, wa na'udzubillahi min syuruuri anfusina wa min sayyi'aati a'maalina. Man yahdihillahu falaa mudilla lah, wa man yudlil falaa haadiya lah. Wa asyhadu an laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariika lah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuuluh.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Hadirin yang terhormat, Allah SWT memerintahkan kita untuk senantiasa menjaga ketakwaan kepada-Nya. Ketakwaan inilah bekal terbaik kita, bukan harta, bukan jabatan, bukan pula pangkat dunia. Ketakwaan adalah bagaimana hati kita senantiasa terjaga dari murka Allah, bagaimana lisan kita terjaga dari perkataan yang sia-sia, dan bagaimana amal perbuatan kita senantiasa mengharapkan ridha-Nya.
Hari ini, kita berada di momen yang agung, di salah satu hari terbaik dalam hitungan tahun Islam, yaitu Idul Adha. Momentum yang mengingatkan kita pada pengorbanan yang luar biasa dari seorang nabi pilihan, Nabi Ibrahim Alaihissalam, dan keluarganya yang mulia. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ، فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ، فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
"Dan ketika Ibrahim berkata, ‘Wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) dari (kalangan) orang-orang saleh.’ Maka Kami kabarkan kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak laki-laki yang sangat lembut akhlaknya. Maka ketika anak itu sampai (pada usia) ia dapat bekerja bersama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?’ Ia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu (Allah); engkau akan mendapati aku, insya Allah, termasuk orang-orang yang sabar.’" (QS. Ash-Shaffat: 100-102)
Lihatlah, wahai Saudara-saudariku sekalian, betapa beratnya ujian yang menimpa seorang ayah dan seorang anak. Seorang ayah yang diperintahkan Allah untuk menyembelih buah hatinya yang telah lama dinanti, dan seorang anak yang dengan ikhlas bersedia menyerahkan nyawanya demi ketaatan kepada perintah Tuhannya. Ini adalah puncak dari ketakwaan. Ini adalah kesediaan untuk mengorbankan yang paling dicintai demi Sang Pencipta yang Maha Mencintai.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Idul Adha bukan sekadar perayaan menyembelih hewan kurban. Lebih dari itu, ia adalah panggilan untuk mengorbankan sebagian dari ego kita, dari keserakahan kita, dari cinta dunia kita. Kurban mengajarkan kita tentang keikhlasan dan kepedulian. Daging hewan kurban itu kita sedekahkan, kita bagikan kepada mereka yang membutuhkan. Keuntungan dari berbagi adalah kebahagiaan yang berlipat ganda, baik bagi yang memberi maupun yang menerima. Allah SWT berfirman:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
"Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa sahaja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya." (QS. Ali 'Imran: 92)
Bayangkanlah, Saudaraku, betapa indahnya dunia ini jika setiap dari kita memiliki kesadaran untuk berkurban, untuk berbagi, untuk mengutamakan sesama. Hari Idul Adha adalah manifestasi cinta kita kepada Allah melalui kepatuhan dan cinta kita kepada sesama manusia. Kebaikan yang kita lakukan hari ini akan menjadi cahaya bagi kita di akhirat kelak.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Namun, seringkali hati kita terhijab oleh dunia. Kita terlalu sibuk mengumpulkan harta, mengejar pangkat, dan melupakan bekal untuk kembali kepada Allah. Kita lupa bahwa setiap helaan napas adalah waktu yang terus berkurang menuju tujuan akhir, yaitu surga atau neraka. Tidakkah kita merenungi firman Allah:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
"Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah balasanmu itu disempurnakan. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia telah memenangkan kehidupan dunia. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu." (QS. Ali 'Imran: 185)
Merenunglah sejenak, Saudaraku. Kematian itu pasti datang. Setiap detik yang berlalu adalah satu langkah mendekati kematian. Apakah kita sudah siap menghadapinya? Apakah kita telah mengumpulkan amal shalih yang cukup untuk menerangi kegelapan kubur kita? Apakah kita memiliki bekal yang cukup untuk melewati sirathal mustaqim?
Idul Adha ini adalah seruan dan kesempatan emas untuk kembali kepada Allah. Mari kita sucikan hati kita dari segala dosa dan kemaksiatan. Mari kita perbaiki hubungan kita dengan Allah melalui shalat, dzikir, dan tilawah Al-Qur'an. Mari kita tinggalkan segala bentuk kedzaliman, kebencian, dan permusuhan. Mari kita rapatkan barisan ukhuwah Islamiyah.
Ingatlah, Allah Maha Pengampun. Sekalipun dosa kita setinggi langit, selama kita mau bertaubat dengan sungguh-sungguh, Allah akan mengampuni kita. Janganlah kita berputus asa dari rahmat Allah.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ.
---
(KHUTBAH KEDUA)
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَاذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.