Logo SantriDigital

mengapa kita malas memenuhi panggilan Allah SWT

Khutbah Jumat
S
syahputra
1 Mei 2026 4 menit baca 0 views

Alhamdulillahirabbil 'alamin, nahmaduhu 'ala ni'amihil 'afiah, wa nusholii wa nusallim 'ala sayyidil anbiya'i wal mursalin, wa 'ala alihi wa shahbihi ...

Alhamdulillahirabbil 'alamin, nahmaduhu 'ala ni'amihil 'afiah, wa nusholii wa nusallim 'ala sayyidil anbiya'i wal mursalin, wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in. فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Hadirin sekalian yang dirahmati Allah, Betapa berat timbangan hati ini saat memikirkan diri kita. Betapa sering panggilan Sang Maha Pencipta terabaikan, terpecah oleh desau dunia yang fana. Adakah di antara kita yang tak pernah merasa sesak di dada, tatkala mendengar kumandang adzan, namun kaki terasa terpaku di bumi, enggan beranjak sujud? Adakah yang tak pernah merasakan pedihnya luka di jiwa, saat menyadari betapa kita begitu mudah terbuai dalam kelalaian, sementara Allah subhanahu wa ta'ala memanggil kita untuk menghadap kepada-Nya? Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'anul Karim: "يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ" (QS. Al-Anfal: 24) "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara seorang (manusia) dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan." Mengapa hati kita begitu keras membatu? Mengapa jiwa ini begitu enggan terbang menyambut panggilan Ilahi? Apakah karena dunia telah menenggelamkan kita dalam buih kesibukannya yang tak bertepi? Atau karena kita telah terbuai oleh rayuan syaitan yang menjanjikan kenikmatan sesaat, namun berujung pada penyesalan abadi? Tatkala notifikasi ponsel berdering, kita sigap meraihnya, namun adzan memanggil, kita malah mencari-cari alasan. Tatkala ada janji dengan manusia, kita bersiap sedia, namun panggilan Allah untuk shalat berjamaah, kita malah menunda-nunda. Sungguh, ini adalah sebuah penyakit hati yang merusak, sebuah kebekuan jiwa yang mengerikan. Renungkanlah, wahai Saudara-saudariku seiman, tatkala kita berbaring tak berdaya di ranjang kematian, adakah harta benda yang kita kumpulkan akan menemani? Adakah gelar dan tahta yang kita banggakan akan mampu menolong kita? Tidak! Yang akan menemani hanyalah amal perbuatan kita, dan penyesalan mendalam atas setiap detik yang terbuang sia-sia dalam kelalaian. Allah Ta'ala berfirman: "حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ . لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ" (QS. Al-Mu'minun: 99-100) "Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, berkatalah ia: "Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku dapat mengerjakan amal saleh yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan." Maka, saatnya kita merobek selubung kelalaian itu. Saatnya kita membersihkan debu kemalasan dari hati kita. Ingatlah, setiap panggilan adzan adalah kesempatan emas untuk mendekat kepada Allah, untuk membersihkan diri dari dosa-dosa, untuk meraih rahmat dan ampunan-Nya yang tak terbatas. Ibnul Qayyim rahimahullah pernah berkata, "Hati yang sakit karena cinta dunia, ia tidak akan merasakan manisnya beribadah." Sungguh, ini adalah peringatan keras bagi kita yang jiwanya telah terkunci oleh kenikmatan dunia. Lihatlah teladan para salafus shalih. Bagaimana mereka berlomba-lomba dalam ketaatan, bagaimana mereka merindukan setiap detik untuk beribadah. Ketika Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu mengetahui ajal menjemputnya, ia berkata, "Wahai Allah, sesungguhnya aku dahulu takut mati, dan aku dahulu mencintai dunia. Maka kini, wafatkanlah aku dalam keadaan menjauhi keduanya, dan jadikanlah aku sebagai orang yang merindukan perjumpaan dengan-Mu." Ini adalah hati yang telah bersih, hati yang telah terbebas dari belenggu dunia. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Setiap hela napas adalah anugerah tak ternilai. Setiap detik yang berlalu adalah kesempatan yang terus mengerut. Kemana gerangan kita akan lari ketika ajal memanggil, tatkala ruh kita dicabut dalam keadaan lalai? Adakah kita siap menghadap Ar-Rahman dalam keadaan penuh noda, dalam keadaan hati yang mati rasa? Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "رَأَيْتُ جَهَنَّمَ فَلمْ أَرَ مَنْظَرًا كَالْيَوْمِ قَطُّ، وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ . قَالُوا : وَبِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : بِكُفْرِهِنَّ . قِيلَ : أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ ؟ قَالَ : يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ ، وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ كُلَّهُ ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا ، قَالَتْ : مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ" (HR. Bukhari dan Muslim) "Aku melihat neraka dan aku belum pernah melihat pemandangan yang seperti hari ini. Dan aku melihat bahwa mayoritas penghuninya adalah para wanita. Mereka bertanya, 'Mengapa demikian, wahai Rasulullah?' Beliau bersabda, 'Karena kekafiran mereka.' Ditanyakan, 'Apakah mereka tidak beriman kepada Allah?' Beliau bersabda, 'Mereka mengingkari suami mereka dan mengingkari kebaikan (yang telah diberikan). Seandainya engkau berbuat kebaikan kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, lalu ia melihat sesuatu (yang tidak menyenangkan) darimu, niscaya ia akan berkata, 'Aku belum pernah melihat kebaikan darimu sama sekali.'' Perkataan ini bukan hanya untuk wanita, tetapi juga nasehat bagi seluruh umat, betapa buruknya sikap kufur nikmat, betapa bahayanya hati yang tak pandai bersyukur atas nikmat Allah, termasuk nikmat panggilan untuk beribadah. Termasuk kekufuran nikmat adalah tatkala Allah memanggil kita untuk shalat, kita malah bersikap acuh tak acuh. Marilah kita buka lembaran baru dalam hidup kita. Gunakan setiap detik tersisa ini untuk bertaubat nasuha, untuk menyucikan hati dari penyakit kemalasan. Bangkitlah dari tidur panjang kelalaian. Ambillah wudhu, basuhlah wajahmu dengan air taubat, dan bersujudlah di hadapan Rabbul 'alamin. Serahkanlah segala urusanmu, segala kerinduanmu kepada-Nya. Biarkan air mata penyesalan mengalir membasahi bumi, sebagai tanda kesungguhan hati kita. Ya Allah, sungguh hati ini lemah dan mudah goyah. Sungguh jiwa ini rindu untuk taat, namun terbawa arus kesibukan dunia. Ampunilah kami ya Rabb. Berikanlah kekuatan kepada kami untuk memenuhi panggilan-Mu dengan hati yang ikhlas, dengan semangat yang membara. Jadikanlah kami golongan orang-orang yang beruntung kelak di sisi-Mu. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →