Nasehat pernikahan
Ceramah
A
Akhoen Al-isra
30 April 2026
4 menit baca
1 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ و...
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنْزِلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ.
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Alhamdulillahirabbil'alamin, puji syukur kehadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kita nikmat kesehatan, kesempatan, dan keimanan sehingga kita bisa berkumpul di majelis yang penuh berkah ini. Shalawat serta salam kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Yang terhormat para alim ulama, para kiai, tokoh masyarakat, Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudari sekalian yang dirahmati Allah. Sungguh sebuah kehormatan bagi saya bisa berdiri di hadapan Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian. Terima kasih atas kehadirannya, semoga kehadiran kita di sini dicatat sebagai amal ibadah.
Hari ini kita akan membahas tentang tema yang sangat penting, yaitu "Nasehat Pernikahan". Pernikahan, dalam Islam, itu bukan sekadar menyatukan dua insan, tapi menyatukan dua keluarga, menyatukan dua hati, bahkan menyatukan separuh agama. Betapa mulianya pernikahan ini. Tapi jangan salah, pernikahan itu juga ibarat naik odong-odong yang ada di pasar malam. Kadang di atas, kadang di bawah, kadang oleng ke kanan, oleng ke kiri. Yang penting, jangan sampai jungkir balik!
Saudaraku sekalian, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an, surah Ar-Rum ayat 21:
"وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ"
Artinya: "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran-Nya) ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Allah menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir."
Nah, ini pentingnya. Pernikahan itu tujuannya untuk sakinah, mawaddah, warahmah. Sakinah itu tentram, bukan berarti tidak pernah bertengkar. Kalau tidak pernah bertengkar, itu namanya bukan rumah tangga, itu namanya hotel berbintang, tapi tidak bayar! Sakinah itu bagaimana kita bisa merasa tentram meskipun ada masalah. Seperti kalau naik motor, kadang jalan mulus, kadang berlubang. Kalau berlubang, ya kita pelan-pelan saja, jangan ngebut terus celaka.
Mawaddah, itu kasih sayang. Kalau sudah menikah, jangan seperti waktu pacaran. Kalau dulu saling kirim surat cinta, sekarang kirim tagihan listrik! Kasih sayang itu yang membuat kita selalu ingat satu sama lain, saling menjaga, saling melindungi. Ingat, suami itu imam dalam rumah tangga. Tapi imam juga manusia, kadang lupa baca surat pendek. Nah, istri ini makmumnya, jangan terus ditegur, "Bapak, tadi baca Al-Fatihahnya kelewat tiga kali!". Sabar, ingatkan dengan lembut.
Warohmah, itu kasih sayang yang lebih dalam, seperti kasih sayang Allah kepada kita. Kadang kita lupa sholat, lupa ngaji, tapi Allah tetap sayang. Begitu juga dalam pernikahan, ada saja khilaf dan salah. Bukan berarti terus dicaci maki. Tapi saling memaafkan, saling menutupi aib. Kalau ada aib pasangan, jangan diumbar ke tetangga. Nanti malah jadi gosip warung kopi, bikin runyam masalah!
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, diriwayatkan oleh Imam Muslim:
"خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي"
Artinya: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku."
Jadi, kalau mau jadi orang baik, mulailah dari keluarga. Jangan cuma baik sama orang di luar, pas di rumah jadi singa. Ingat, singa itu kalau lapar baru galak, kalau sudah kenyang ya diem. Nah, kadang suami itu galaknya pas dompet tipis, pas gajian diem karena banyak jajan buat istri!
Kemudian, pentingnya komunikasi. Jangan sampai suami pulang kerja, terus istrinya basa-basi, "Capek ya, Mas?". Jawabannya "Iya" doang. Nanti ditanya lagi, "Makan dulu, Mas?". Jawabannya "Iya". Nanti ditanya lagi, "Sudah mandi, Mas?". Jawabannya "Iya". Eh, ternyata suami yang dari tadi "Iya, iya" itu sudah tertidur pulas! Komunikasi itu dua arah, bukan satu arah seperti pengajian keliling yang cuma ngasih ceramah.
Dalam pernikahan, perbedaan itu pasti ada. Namanya juga dua orang berbeda, asal usul beda, kebiasaan beda. Seperti ada yang suka makan pedas, ada yang tidak. Solusinya? Ya jangan dipaksa. Yang suka pedas, kasih sambal terpisah. Yang tidak suka, ya jangan dikasih sambal. Jangan sampai gara-gara sambal, rumah tangga jadi bubar. Ingat, persatuan itu lebih penting daripada seberapa pedas sambal yang dimakan!
Saudara-saudaraku sekalian, mari kita jadikan pernikahan kita sebagai ladang amal saleh. Saling membantu, saling mengingatkan, saling berdoa. Ingat selalu pesan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ، فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا، لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ" (Muttafaq 'alaih)
Artinya: "Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk berhubungan badan lalu istrinya menolak, maka malaikat akan melaknatnya sampai pagi."
Nah, ini bukan berarti suami boleh semena-mena. Istri juga berhak atas haknya. Dan suami juga berhak atas haknya. Kuncinya adalah saling memahami dan saling memenuhi. Jangan sampai ada yang merasa dirugikan.
Jadi, intinya, pernikahan itu indah jika dijalani dengan ilmu, kesabaran, dan kasih sayang. Jangan malas belajar tentang agama, jangan malas bertanya kepada para ulama. Jangan sampai rumah tangga kita carut marut gara-gara tidak paham ajaran Islam.
Mari kita tutup ceramah singkat ini dengan berdoa. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa memberikan keberkahan, kebahagiaan, dan ketentraman dalam rumah tangga kita. Semoga kita semua bisa menjadi pasangan yang sholeh dan sholehah, membina keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, dan kelak berkumpul kembali di surga-Nya.
Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada salah kata, salah ucap, dan kurang berkenan di hati Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian. Terima kasih atas perhatiannya.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.