Logo Kangsantri AI

Adab Lisan Keluarga Damai

Ceramah
R
Rajib komara
22 Juli 2026 3 menit baca 43 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ و...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا}. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Ibu-ibu yang dirahmati Allah, yang saya muliakan para alim ulama, tokoh masyarakat, serta seluruh jamaah sekalian yang senantiasa mengharapkan rida Ilahi. Segala puji bagi Allah yang masih mengizinkan kita bertatap muka di majelis ilmu ini. Sungguh, kehadiran ibu-ibu sekalian adalah bukti kasih sayang Allah yang begitu besar kepada kita. Hari ini, mari kita menundukkan hati, merenung sejenak tentang satu hal yang sangat dekat dengan kita, namun seringkali justru menjadi luka bagi orang-orang yang kita cintai: lisan dan emosi kita di dalam rumah.

Pernahkah terbesit di hati ibu, mengapa rumah yang seharusnya menjadi surga, justru terasa seperti neraka kecil? Mengapa lidah ini begitu mudah mengeluarkan kata-kata kasar kepada suami atau membentak anak di saat lelah mendera? Padahal, Nabi kita ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau hendaklah diam." (HR. Bukhari dan Muslim).

Ibu-ibu yang saya cintai, bayangkan jika hari ini adalah hari terakhir kita berbicara kepada anak atau suami kita. Tidakkah kita gemetar membayangkan bahwa kata terakhir yang keluar dari bibir kita adalah makian? Imam Al-Ghazali pernah menuturkan begitu tajamnya lisan, beliau menyebutkan bahwa lisan adalah gerbang utama menuju kemuliaan atau kehancuran diri.

Seringkali kita merasa benar. "Saya marah karena mendidik," bisik ego kita. Namun, ingatlah bahwa Allah berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ
"Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." (QS. Ali 'Imran: 159).

Jika Rasulullah ﷺ saja diperintah lembut, siapakah kita sehingga merasa berhak membentak orang yang kita cintai? Pernahkah ibu melihat anak-anak kita menangis ketakutan di sudut kamar setelah mendengar teriakan kita? Hati mereka yang lembut itu tersayat, mereka mungkin akan memaafkan, tapi luka di memori masa kecilnya adalah duka yang akan dibawa hingga dewasa. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
"Bukanlah orang yang kuat itu karena jago gulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan hawa nafsunya ketika marah." (HR. Bukhari).

Mari kita bercermin. Apakah kita sudah menjadi ibu yang menyejukkan? Ataukah justru kita adalah duri dalam keluarga sendiri? Ingatlah, ketika lisan kita mengucapkan kata-kata kotor, saat itu pula malaikat mencatatnya, dan saat itu pula pintu keberkahan dalam rumah kita tertutup rapat. Emosi yang tidak terkontrol adalah api yang membakar amal saleh kita. Seringkali kita merasa lelah mengurus rumah tangga, tapi janganlah lelah itu menjadi alasan untuk membunuh kasih sayang dalam lisan kita.

Wahai ibu yang hatinya tengah terluka, jika terasa beban emosi memuncak, berwudhulah. Sujudlah. Katakan pada Allah, "Ya Allah, hatiku sempit, bantu aku mengontrol lisanku." Jangan biarkan setan menunggangi luapan emosi kita. Rumah kita adalah amanah dari Allah. Jika kita tidak bisa menjaga lisan untuk orang yang paling dekat dengan kita, mungkinkah kita bisa memenangkan hati mereka di akhirat nanti?

Mari kita berjanji, mulai hari ini, sebelum lisan ini mengeluarkan kata-kata pedas, berhentilah. Tarik napas, ingatlah Allah, atau diamlah. Berikanlah senyum dan kata-kata lembut, meski hati kita sedang bergejolak. Karena sejatinya, kekuatan seorang ibu bukan terletak pada suaranya yang paling keras, melainkan pada kelembutan hatinya yang mampu meredam amarah.

Ya Allah, ampunilah lisan kami yang sering melukai. Lembutkanlah hati kami agar menjadi penyejuk bagi suami dan anak-anak kami. Jadikanlah rumah kami tempat yang penuh dengan zikir, rasa syukur, dan kesabaran. Jika kami salah, tuntunlah kami kembali ke jalan-Mu. Kumpulkanlah kami kelak di surga-Mu tanpa ada satu pun dari keluarga kami yang tertinggal.

Mohon maaf atas segala kekurangan, semoga Allah menerima niat baik kita hari ini.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →