اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Ibu-ibu yang dimuliakan Allah, apa kabar hari ini? Sehat semua? Wah, kalau saya lihat wajah ibu-ibu di sini, rasanya lebih segar daripada janji manis suami waktu mau minta izin poligami! Yang terhormat para ustazah, tokoh masyarakat, dan tentunya ibu-ibu jamaah pengajian yang luar biasa. Terima kasih sudah hadir, menyempatkan waktu di tengah kesibukan mengurus dapur, urusan rumah tangga, sampai urusan mendamaikan anak-anak yang rebutan remote TV.
Ibu-ibu, tidak terasa kita sedang berada di penghujung tahun Hijriah. Masya Allah, waktu itu cepat sekali ya. Rasanya baru kemarin kita sibuk masak rendang lebaran, eh sekarang sudah mau ganti tahun lagi. Ada ibu yang bilang, "Ustaz, saya kok merasa tahun ini cepat banget, apa karena saya terlalu sibuk nagih utang sama tetangga?" Wah, kalau itu bukan karena waktu yang cepat, Bu, tapi karena jadwal ibu terlalu padat!
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hasyr ayat 18:
Ayat ini pengingat buat kita, Bu. Akhir tahun bukan waktunya sibuk beli kembang api, tapi waktunya "muhasabah" atau introspeksi diri. Coba cek, di tahun yang akan lewat ini, sudah berapa banyak kebaikan yang kita kumpulkan? Atau jangan-jangan, lebih banyak daftar belanjaan yang kita kumpulkan daripada daftar istigfar?
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis:
Coba tanya diri sendiri, apakah tahun ini kita sudah jadi istri yang bermanfaat, atau justru jadi "tsunami" bagi suami di rumah? Kalau suami pulang kerja capek, bukannya disodori teh manis malah disodori daftar harga sembako yang naik! Hati-hati, Bu, itu bukan manfaat, tapi musibah buat bapaknya!
Memasuki tahun baru Islam, mari kita jadikan "hijrah" sebagai semangat. Hijrah bukan cuma ganti baju atau ganti kerudung model terbaru, tapi hijrah dari sifat buruk ke sifat yang lebih baik. Imam Hasan Al-Bashri pernah berkata:
Bayangkan, Bu, setiap hari berlalu itu seperti ibu lagi jualan kue. Kalau hari ini nggak laku karena ibu malas-malasan, ya ruginya hari ini nggak bisa kembali lagi. Umur kita ini seperti es krim di bawah terik matahari, lama-lama cair. Maka, di tahun baru nanti, kita harus punya resolusi. Bukan resolusi mau beli emas atau ganti mobil, tapi resolusi memperbaiki shalat lima waktu, memperbaiki bacaan Al-Qur'an, dan mengurangi intensitas bergosip ria di grup WhatsApp warga!
Ingat, kunci surga itu bukan seberapa mahal perhiasan yang ibu pakai saat ke pengajian, tapi seberapa taat ibu pada suami, seberapa santun ibu pada anak, dan seberapa ikhlas ibu menghadapi segala ujian hidup.
Akhir kata, mari kita jadikan momen pergantian tahun ini untuk bertaubat. Minta maaf sama suami kalau sering marah-marah, minta maaf sama anak kalau sering salah paham. Mari kita tutup buku lama dengan amal saleh, dan buka buku baru dengan semangat ibadah yang lebih menyala. Jangan sampai tahun baru, tapi kelakuan masih jadul. Ibu-ibu mau kan jadi penghuni surga? Makanya, kurang-kurangin marah, banyak-banyakin senyum. Senyum ke suami itu sedekah, senyum ke tetangga itu ibadah, tapi kalau senyum sendiri... nah, itu harus segera ke dokter ya, Bu!
Mohon maaf atas segala kekurangan, jika ada kata-kata saya yang menyinggung, mohon dimaafkan. Kalau ada yang berkenan, silakan masukkan infak ke kotak amal, bukan ke kantong penceramah ya, Bu! Mari kita tutup dengan doa.
Ya Allah, jadikanlah tahun yang akan datang sebagai tahun yang penuh keberkahan, jauhkan kami dari sifat sombong dan malas beribadah, jadikan kami ibu-ibu yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ