اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
Yang terhormat para alim ulama, para ustaz, serta tokoh agama yang senantiasa menjadi pelita di tengah kegelapan zaman. Yang saya hormati Bapak Kepala Instansi beserta jajaran pimpinan yang hadir. Dan yang paling saya cintai, rekan-rekan sejawat, bapak-bapak pejuang keluarga, para ASN pembangun bangsa yang hari ini menyempatkan langkah untuk memenuhi panggilan Allah SWT.
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah, karena atas izin-Nya, di tengah kesibukan laporan, target kerja, dan beban amanah di kantor, kita masih dilembutkan hatinya untuk berkumpul di majelis ini. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW, teladan terbaik dalam memuliakan orang tua dan menghargai para pewaris nabi.
Bapak-bapak yang saya muliakan, mari sejenak kita melepaskan atribut jabatan kita. Di sini, kita bukan lagi kepala bidang atau staf, kita adalah seorang anak yang memiliki orang tua, dan kita adalah hamba Allah yang memerlukan bimbingan ulama.
Pernahkah bapak terbayang, wajah ibu yang dulu sangat kencang, kini mulai mengeriput? Ingatkah bapak, tangan ayah yang dulu kuat menggendong kita, kini gemetar saat memegang sendok? Allah SWT berfirman:
Banyak di antara kita terlalu sibuk dengan urusan instansi. Kita bangga dengan piala penghargaan, bangga dengan jabatan yang menanjak, tapi kita lupa menelepon ibu. Kita sibuk melayani masyarakat di kantor, tapi kita sering membentak ayah saat mereka menanyakan hal yang sama berulang kali karena kepikunan mereka. Ingatlah, bapak sekalian, rida Allah terletak pada rida orang tua. Jangan sampai kesuksesan karir kita menjadi hambar karena tertulis "anak durhaka" di catatan malaikat.
Begitu pun dengan para ulama. Rasulullah SAW bersabda:
Jika orang tua adalah kunci surga di pintu rumah kita, maka ulama adalah kompas yang menjaga arah jalan kita agar tidak tersesat dalam jabatan. Tanpa nasihat ulama, kita bisa terjerumus dalam korupsi, kesombongan, atau menyalahgunakan wewenang. Memuliakan ulama bukan berarti menyembah mereka, melainkan menjaga adab di hadapan mereka, mendengarkan nasihat mereka, dan tidak merendahkan ilmu yang mereka bawa.
Bapak-bapak, waktu terus berputar. Mungkin besok, atau lusa, kursi yang kita duduki ini akan digantikan orang lain. Dan mungkin, saat kita pulang ke rumah, sosok yang kita rindukan sudah tidak ada lagi di sana. Bayangkan ruang tamu yang kosong, bayangkan telepon yang tak lagi berdering dari nomor ibu. Apakah kita akan menyesal? Sungguh, penyesalan di akhirat tidak akan ada gunanya.
Oleh karena itu, mumpung orang tua kita masih ada, atau jika mereka sudah tiada, mumpung kita masih memiliki kesempatan memuliakan alim ulama, mari kita perbaiki akhlak kita. Jadikanlah pekerjaan bapak-bapak sebagai ASN sebagai ladang ibadah yang didoakan oleh orang tua dan diridai oleh guru-guru agama.
Sebagai penutup, marilah kita menundukkan kepala dan berdoa.
Ya Allah, ampunilah dosa kami, dosa orang tua kami. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami semasa kecil. Ya Allah, muliakanlah para ulama yang telah membimbing kami ke jalan yang lurus. Berikanlah kami kekuatan untuk berbakti kepada orang tua dan menjaga adab kepada pewaris nabi-Mu. Jadikanlah sisa umur kami, sisa jabatan kami, sebagai jalan menuju rida-Mu.
Terima kasih atas segala perhatiannya. Saya mohon maaf atas segala kekurangan, semoga Allah menerima amal ibadah kita hari ini.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ