Logo Kangsantri AI

Sedekah Jariyah Bekal Abadi

Ceramah
A
Ali Masykur
26 Mei 2026 3 menit baca 65 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَا...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Yang saya muliakan segenap alim ulama, para kiai, asatidz, dan asatidzah yang senantiasa menjadi suluh penerang umat. Yang saya hormati Bapak Kepala Desa beserta jajaran perangkat desa, tokoh masyarakat, serta seluruh hadirin, bapak-bapak, ibu-ibu, dan saudara-saudaraku sekalian yang dirahmati Allah SWT.

Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, kita dapat berkumpul di majelis ilmu yang mulia ini dalam keadaan sehat walafiat. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Agung Muhammad SAW, yang kita nantikan syafaatnya di yaumil qiyamah nanti. Terima kasih saya haturkan atas antusiasme Bapak/Ibu yang telah meluangkan waktu di tengah kesibukan mengelola sawah dan ladang, untuk duduk bersama bertafakkur mengenai bekal terbaik kita menuju akhirat, yaitu amal jariyah.

Hadirin yang berbahagia, kita semua tentu tahu, hidup di dunia ini hanyalah sementara. Ibarat musafir yang sedang menempuh perjalanan, kita akan sampai pada satu titik pemberhentian bernama kematian. Ketika raga terbaring kaku, seluruh urusan dunia akan terputus. Namun, ada satu pintu yang tetap terbuka, satu aliran pahala yang tidak akan pernah surut, yaitu amal jariyah.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
"Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya."

Sedekah jariyah adalah investasi akhirat. Di desa yang kita cintai ini, banyak sekali peluang untuk menanam benih amal tersebut. Mungkin kita tidak memiliki harta yang berlimpah, tetapi bisakah kita menyumbangkan batu untuk pembangunan masjid? Bisakah kita menyisihkan sebagian dana untuk membangun jembatan agar warga lebih mudah ke sawah? Atau sekadar mewakafkan Al-Qur'an untuk anak-anak TPA agar mereka belajar mengaji?

Allah SWT berfirman dalam Surah Yasin ayat 12:

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ
"Sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas (peninggalan) yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuz)."

Perhatikanlah potongan ayat "wa aatsarahum" atau bekas-bekas yang ditinggalkan. Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah jejak kebaikan. Jika Bapak/Ibu membangun sumur di tempat yang gersang, lalu airnya digunakan warga untuk berwudhu, untuk minum, untuk membersihkan diri, maka selama air itu mengalir, selama itu pula pahala terus mengalir ke buku catatan amal Bapak/Ibu, bahkan setelah kita berada di dalam liang lahat.

Tentu kita tidak ingin menjadi sosok yang "datang tidak diundang, pulang tidak membawa apa-apa". Mari kita jadikan harta yang Allah titipkan sebagai jalan keselamatan. Jangan tunggu kaya untuk bersedekah, karena sedekah justru menjadi pembuka pintu rezeki. Sesuai kaidah fiqih:

التَّصَرُّفُ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوطٌ بِالْمَصْلَحَةِ
"Tindakan atas rakyat (atau apa yang kita miliki) hendaknya dikaitkan dengan kemaslahatan." Artinya, manfaatkanlah apa yang Bapak/Ibu miliki untuk kemaslahatan orang banyak.

Sebagai kesimpulan, mari kita evaluasi diri. Apa yang sudah kita tinggalkan jika esok kita dipanggil Allah? Sudahkah ada jembatan, masjid, madrasah, atau ilmu yang bermanfaat yang kita wariskan? Jangan remehkan kebaikan kecil. Satu pohon yang kita tanam agar orang bisa berteduh, adalah amal jariyah. Satu nasihat baik yang kita ajarkan pada anak cucu agar mereka menjadi orang saleh, adalah amal jariyah.

Mari kita berkomitmen untuk menabur kebaikan mulai hari ini. Semoga Allah SWT memudahkan kita untuk senantiasa beramal saleh, menghapuskan dosa-dosa kita, dan mengumpulkan kita bersama Rasulullah SAW di surga-Nya kelak.

Ya Allah, jadikanlah harta dan tenaga kami sebagai amal jariyah yang terus mengalir pahalanya hingga hari kiamat. Ampunilah dosa-dosa kami, orang tua kami, dan seluruh kaum muslimin.

Mohon maaf atas segala khilaf dari tutur kata saya yang mungkin kurang b berkenan di hati bapak dan ibu. Kebenaran hanyalah milik Allah, dan kesalahan semata-mata dari kedangkalan ilmu saya pribadi.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →