Logo Kangsantri AI

Shalat Terabaikan, Ancaman Nyata

Ceramah
U
Ummi Winda
26 Juni 2026 4 menit baca 42 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: "فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا." (مريم: 59). رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.

Hadirin yang saya hormati, para alim ulama, para kyai, asatidz, asatidzah, serta seluruh ibu-ibu kaum muslimin rahimakumullah. Sungguh merupakan sebuah kehormatan dan kebahagiaan bagi saya pada kesempatan yang berbahagia ini bisa bersilaturahmi dan bertatap muka dengan ibu-ibu sekalian. Semoga kehadiran kita di majelis ilmu ini dicatat sebagai amal ibadah yang bernilai di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Pada pertemuan kita kali ini, saya ingin mengajak kita semua, sebagai hamba Allah yang beriman, untuk bersama-sama merenungi sebuah tema yang sangat krusial, bertajuk "Ancaman Melalaikan Kewajiban Shalat Lima Waktu". Sebuah tema yang mungkin sering kita dengar, namun seringkali kita lupakan urgensinya dalam kehidupan sehari-hari. Shalat, lima kali sehari, adalah tiang agama yang tak tergantikan, sebuah ikatan suci antara hamba dengan Rabb-nya yang seharusnya menjadi prioritas utama.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 238: "Jagalah shalat-shalatmu dan (peliharalah) shalat wadha." Perintah ini bukanlah sekadar saran, melainkan sebuah ketetapan yang mengandung konsekuensi besar jika diabaikan. Melalaikan shalat lima waktu bukanlah sekadar masalah pribadi, namun memiliki ancaman serius yang telah dijelaskan dalam Al-Qur'an maupun hadits.

Dalam Al-Qur'an surah Maryam ayat 59, Allah berfirman: "Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan." Kata "menyia-nyiakan" dalam ayat ini mencakup berbagai bentuk kelalaian, mulai dari meninggalkannya sama sekali, mengakhirkannya hingga keluar waktu, hingga mengerjakannya tanpa kekhusyukan. Konsekuensinya adalah "kesesatan" (غَيًّا - ghayya), sebuah jurang kehancuran yang mendalam, baik di dunia maupun di akhirat.

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: "Sesungguhnya yang membatasi antara seorang Muslim dengan kekufuran dan kesyirikan adalah meninggalkan shalat." Ini menunjukkan betapa dekatnya dosa meninggalkan shalat dengan kekufuran. Tentu saja, kita tidak ingin iman kita terkikis hanya karena kelalaian dalam menunaikan ibadah yang paling fundamental ini.

Bayangkan, wahai ibu-ibu yang dirahmati Allah, ketika kita menghadapi sakaratul maut. Amalan pertama yang akan dihisab oleh Allah adalah shalat. Jika shalat kita baik, maka amalan lainnya akan lebih mudah dihisab. Namun, jika shalat kita lalai, bagaimana nasib amalan kita yang lain? Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda: "Barangsiapa yang menjaga shalatnya, maka shalat itu akan menjadi cahaya baginya, petunjuk baginya, dan keselamatan baginya pada hari kiamat. Barangsiapa yang tidak menjaga shalatnya, maka ia tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan, dan pada hari kiamat ia akan bersama Qarun, Fir'aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf." (HR. Ahmad). Ancaman ini bukanlah sekadar omongan kosong, melainkan peringatan keras dari Sang Pencipta dan Rasul-Nya.

Mengapa shalat begitu penting? Karena shalat adalah sarana komunikasi langsung kita dengan Allah. Melalui shalat, kita memohon pertolongan, curhat segala urusan, dan meneguhkan hati kita. Ketika kita lalai shalat, kita memutuskan hubungan vital tersebut. Ini seperti seorang anak yang tidak mau berbicara kepada orang tuanya, atau murid yang tidak mau berinteraksi dengan gurunya. Tentu akan ada jarak dan ketidakberesan.

Kisah nyata di sekitar kita pun seringkali menggambarkan bagaimana kelalaian dalam shalat berujung pada berbagai persoalan hidup, mulai dari rezeki yang sempit, hilangnya berkah dalam keluarga, hingga kegelisahan hati yang tak kunjung hilang. Ujian-ujian hidup yang kita hadapi bisa jadi merupakan teguran dari Allah agar kita kembali memperbaiki hubungan kita dengan-Nya melalui shalat. Ulama besar seperti Imam Al-Ghazali dalam kitabnya "Ihya 'Ulumiddin" menjelaskan bahwa shalat memiliki kedudukan yang sangat tinggi, karena di dalamnya terdapat penghambaan total kepada Allah.

Oleh karena itu, marilah kita jadikan shalat lima waktu sebagai amalan prioritas utama. Jangan tunda, jangan abaikan. Jagalah waktu-waktunya, sempurnakan rukun dan syaratnya, serta usahakan untuk melakukan dengan khusyuk. Jika kita memiliki kendala, misalnya sakit, maka Allah telah memberikan keringanan dalam menunaikan shalat. Yang terpenting adalah niat dan usaha kita untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah yang mulia ini.

Ibu-ibu sekalian, mari kita renungkan kembali, apakah kita termasuk orang yang menjaga shalat-shalat kita? Atau kita masih sering lalai? Ketahuilah, ancaman melalaikan shalat sangatlah nyata dan mengerikan. Mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan, memperbaiki diri, dan menjadikan shalat sebagai ibadah yang senantiasa kita jaga dan kita cintai.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua agar dapat menjadi pribadi-pribadi yang senantiasa menjaga shalatnya, sehingga kita terhindar dari segala ancaman dan mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat.

Terima kasih atas perhatiannya. Mohon maaf apabila ada kesalahan maupun kekurangan dalam penyampaian.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →