اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Yang saya muliakan para alim ulama dan para kiai, yang saya hormati Bapak Kepala Desa beserta jajaran perangkat desa, yang saya cintai tokoh masyarakat, bapak-bapak, ibu-ibu, serta seluruh hadirin yang dirahmati Allah SWT.
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah, karena atas izin-Nya kita bisa berkumpul di majelis yang penuh berkah ini dalam keadaan sehat wal afiat. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman. Terima kasih saya sampaikan kepada panitia dan seluruh warga desa atas sambutan yang hangat. Hari ini, kita akan mengkaji sebuah tema yang agung, yakni "Ibadah Umroh: Panggilan Suci untuk Berziarah ke Baitullah".
Bapak dan Ibu yang dirahmati Allah, umroh bukanlah sekadar perjalanan wisata religi biasa. Ia adalah Duyufurrahman, menjadi tamu-tamu Allah. Banyak orang mengira umroh hanya bagi yang berduit. Padahal, umroh adalah tentang panggilan hati dan kekuatan iman. Allah SWT berfirman:
Ibadah ini sangat istimewa. Rasulullah SAW bersabda:
Bayangkan Bapak dan Ibu, betapa besarnya kasih sayang Allah. Dosa-dosa kita yang mungkin menumpuk selama kita berinteraksi di pasar, di sawah, atau dalam urusan sehari-hari, bisa dihapuskan ketika kita melangkahkan kaki menuju tanah suci dengan niat yang ikhlas.
Namun, mari kita renungkan. Banyak di antara kita yang mampu secara harta, namun belum tergerak hatinya. Mengapa demikian? Karena kita sering kali lebih sibuk mengurus dunia. Kita takut kekurangan jika harta digunakan untuk ibadah, padahal janji Allah itu nyata. Seseorang yang pergi umroh tidak akan fakir, justru Allah akan membukakan pintu rezeki yang lebih luas.
Penting bagi kita untuk memahami bahwa umroh memerlukan persiapan tiga hal: ilmu, iman, dan harta yang halal. Jangan sampai kita mengejar tawaf di Ka'bah, namun selama di desa kita tidak menjaga amanah atau hubungan baik dengan tetangga. Ibadah yang mabrur dimulai dari niat yang bersih. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menyatakan:
Bagi bapak dan ibu yang mungkin saat ini belum mampu, jangan pernah berkecil hati. Allah melihat niat. Teruslah berdoa, bersedekah, dan memohon agar dipanggil ke Baitullah. Seringkali, cerita tentang mereka yang menabung rupiah demi rupiah dengan sabar, akhirnya sampai juga di tanah suci dengan cara yang tak disangka-sangka oleh Allah.
Hikmah terpenting dari umroh adalah transformasi diri. Setelah kembali, harus ada perubahan. Jika dulu jarang ke masjid, sepulang umroh harus menjadi jamaah tetap. Jika dulu sering berselisih dengan tetangga, sepulang umroh harus menjadi penyejuk bagi lingkungan sekitar. Orang yang telah menyentuh Multazam dan memandang Ka'bah sepatutnya memiliki sifat yang lebih sabar dan qana'ah.
Sebagai penutup, mari kita tanamkan niat yang kuat. Bahwa umroh adalah bentuk kerinduan seorang hamba kepada Sang Pencipta. Mari kita perbaiki ibadah kita di sini, di desa ini, sebagai tangga awal menuju tanah suci. Semoga kita semua yang hadir di sini segera mendapatkan panggilan Allah untuk menunaikan ibadah umroh dan haji ke Baitullah.
Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang Engkau muliakan dengan ibadah ke tanah suci. Mudahkanlah jalan bagi kami, cukupkanlah rezeki kami untuk memenuhi panggilan-Mu, dan terimalah amal ibadah kami. Mohon maaf sebesar-besarnya jika ada tutur kata yang kurang berkenan.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ