اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
Bapak-bapak, Ibu-ibu, serta saudara-saudaraku yang saya cintai karena Allah. Terlebih dahulu, marilah kita haturkan hormat kepada para alim ulama dan tokoh masyarakat yang senantiasa membimbing kita. Tak lupa, kepada seluruh warga desa yang saya muliakan. Terima kasih telah menyempatkan diri hadir di tengah suasana hati yang sedang diliputi kecemasan ini.
Saudara-saudaraku, lihatlah ke sekeliling kita. Tanah-tanah yang biasanya menghijau, kini pecah berderai. Debu beterbangan seolah menangis meminta siraman. Sumur-sumur kita kian kering, cadangan air kian menipis. Hati kita lelah, pikiran kita kalut memikirkan nasib tanaman dan ternak yang mulai merana. Kita menatap langit yang biru bersih, namun terasa hampa tanpa mendung yang membawa berkah.
Mungkin, ini adalah teguran lembut dari Allah. Allah ingin memanggil kita kembali, untuk mengetuk pintu langit dengan air mata penyesalan. Ketika hujan tak kunjung turun, sejatinya Allah sedang rindu mendengar rintihan doa dari hamba-hamba-Nya yang merasa lemah.
Allah SWT berfirman:
Saudara-saudaraku, mari kita berkaca. Pernahkah kita merasa sombong dengan hasil panen kita? Apakah kita lupa bahwa setiap tetes air yang jatuh ke bumi adalah atas izin-Nya? Rasulullah SAW ketika dilanda kemarau, beliau menanggalkan jubah kemuliaannya, keluar ke lapangan dengan pakaian sederhana, membalikkan selendangnya sebagai simbol kerendahan hati. Beliau menangis, memohon hujan.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
Bayangkan, manusia paling mulia saja begitu takut dan rendah diri di hadapan Allah saat hujan tak turun. Lalu, siapakah kita? Kita seringkali lalai, seringkali lupa berbagi kepada tetangga, mungkin masih ada harta kita yang belum kita bersihkan dengan zakat, atau mungkin ada hak orang miskin yang belum tersampaikan.
Imam Hasan Al-Bashri pernah berkata:
Saudara-saudaraku, mari malam ini kita bersihkan hati. Mari kita ajak anak-anak kita, keluarga kita, untuk beristighfar. Jangan menunggu tanaman kita mati baru kita berzikir. Jangan menunggu sumur kita kering baru kita bersujud. Mintalah ampun atas dosa-dosa kita yang mungkin telah menghalangi turunnya hujan.
Kembalilah ke rumah, ajaklah keluarga untuk meneteskan air mata di waktu sepertiga malam. Katakan, "Ya Allah, tanah kami haus, tapi hati kami lebih haus akan kasih sayang-Mu." Insya Allah, jika kita jujur dalam taubat kita, Allah yang Maha Penyayang akan menurunkan rahmat-Nya, membasahi bumi kita, dan menyejukkan hati kita kembali.
Mari kita tutup dengan doa. Ya Allah, siramlah tanah kami yang tandus dengan hujan yang membawa berkah. Janganlah Engkau jadikan dosa-dosa kami sebagai penghalang rahmat-Mu. Ampunilah kami, bimbinglah kami, dan jadikanlah kami hamba yang selalu bersyukur dalam keadaan apa pun.
Mohon maaf atas segala tutur kata yang kurang berkenan. Semoga Allah mengabulkan doa kita semua.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ