Logo Kangsantri AI

Cinta Rasul Bekal Hidup

Ceramah
A
Ahmad Khoiri
23 Agustus 2026 4 menit baca 31 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ.
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.

Bapak-bapak yang saya hormati, Ibu-ibu yang wajahnya selalu berseri-seri—terutama yang tadi sudah sarapan, kalau yang belum memang agak sedikit layu ya, tenang, nanti setelah ini kita cari bakso—yang saya takzimkan para alim ulama, para kiai, asatidz, serta tokoh masyarakat yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, tapi insyaallah semuanya masuk surga tanpa hisab. Amin!

Senang sekali rasanya bisa berdiri di sini, di tengah warga desa yang luar biasa. Saya lihat di sini banyak wajah-wajah "pejuang subuh". Bapak-bapak yang saya lihat ini adalah orang hebat, buktinya? Masih bisa senyum padahal cicilan motor mungkin masih ada. Itulah iman, Bapak-bapak sekalian! Mari kita bersyukur, kehadiran kita di sini adalah karena cinta, cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kita bicara tentang cinta. Wah, kalau bicara cinta, anak muda di sini mungkin langsung ingat pacarnya. Tapi cinta kita hari ini beda, levelnya tinggi, yaitu cinta kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Rasulullah itu manusia paling sempurna. Beliau kalau senyum itu bikin hati adem, lebih adem daripada masuk ruang AC setelah kepanasan di sawah.

Allah berfirman tadi dalam surat Ali Imran ayat 31: "Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Jadi, kalau Bapak-bapak bilang cinta Nabi, ya jangan cuma diklaim di mulut saja. Kalau cinta Nabi, ikutin ahlaknya. Jangan sampai Nabi menyuruh shalat, kita malah asyik nonton bola. Nabi menyuruh sedekah, eh, lihat kotak amal lewat malah pura-pura tidur. Itu namanya cinta "PHP" alias Pemberi Harapan Palsu.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
"Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai daripada anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya."

Nah, ini berat nih! Coba, apakah kita sudah lebih cinta Nabi daripada harta? Kadang kita lebih takut kehilangan HP daripada kehilangan shalat berjamaah. HP hilang, nangisnya tiga hari tiga malam. Shalat telat, santai saja, "Ah, masih bisa di-qadha." Aduh, Pak, Nabi itu sudah mikirin kita sampai akhir hayat beliau. Beliau memanggil kita, "Ummati, ummati" (umatku, umatku). Masa kita lupa sama beliau?

Ingat kisah Bilal bin Rabah? Beliau itu sahabat yang cintanya luar biasa. Saat Nabi wafat, Bilal sampai tidak kuat lagi adzan di Madinah karena setiap menyebut nama Nabi, beliau menangis. Cinta itu bukan cuma soal kata-kata, tapi soal kerinduan. Kalau kita belum rindu sama Nabi, minimal kita usahakan mengikuti sunnahnya. Sunnah itu simpel, Pak. Mulai dari makan pakai tangan kanan, pakai sandal kanan dulu, sampai senyum sama tetangga. Itu semua ibadah.

Kadang kita di desa ini merasa, "Ah, saya kan bukan ustaz, saya cuma petani, apa bisa saya masuk surga?" Bisa banget! Asalkan cinta kita kepada Nabi benar-benar tulus. Ada seorang badui datang ke Nabi, dia tanya, "Kapan kiamat?" Nabi tanya balik, "Apa yang sudah kau siapkan?" Dia jawab, "Tidak banyak shalat dan puasa, tapi aku cinta Allah dan Rasul-Nya." Nabi menjawab, al-mar'u ma'a man ahabba (seseorang akan bersama dengan siapa yang ia cintai).

Jadi, bekal kita mengarungi kehidupan yang penuh ujian ini ya cinta kepada Rasul. Kalau kita cinta, kita akan tenang. Punya utang? Tenang, Nabi pernah mengajarkan doa agar terbebas dari utang. Punya masalah keluarga? Ikuti cara Nabi menyayangi istri dan anak. Jangan sedikit-sedikit marah, istri baru tanya, "Pak, beli minyak goreng," malah dibentak. Itu bukan sunnah, itu sunnah setan namanya!

Imam Syafi'i pernah berkata dalam syairnya yang sangat masyhur:

أُحِبُّ الصَّالِحِينَ وَلَسْتُ مِنْهُمْ ... لَعَلَّ اللهَ يَرْزُقُنِي صَلَاحًا
"Aku mencintai orang-orang saleh walaupun aku belum termasuk mereka, semoga Allah memberiku kesalehan."

Maka, bekal kita adalah meneladani beliau dalam setiap langkah. Jangan biarkan hari kita berlalu tanpa shalawat. Ibu-ibu di rumah, sambil masak, sambil nyapu, bershalawatlah. Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad. Insyaallah dapur jadi berkah, anak-anak jadi shalih-shalihah.

Kesimpulannya, Bapak-bapak, Ibu-ibu, cinta kepada Rasulullah itu adalah kompas kehidupan. Kalau kita cinta, kita tidak akan tersesat. Mari kita perbaiki ibadah kita, perbanyak shalawat, dan berakhlak mulia. Jangan jadi muslim yang cuma KTP-nya saja yang Islam, tapi kelakuannya malah membuat Nabi sedih di alam sana.

Marilah kita tutup dengan doa. Semoga Allah menanamkan rasa cinta yang dalam di hati kita kepada Rasulullah SAW, sehingga kita diakui sebagai umatnya dan dikumpulkan bersama beliau di telaga Al-Kautsar nanti.

Ya Allah, jadikanlah kami umat yang Engkau cintai karena kami mencintai Nabi-Mu. Ampunilah dosa-dosa kami, dosa orang tua kami, dan jadikanlah desa ini desa yang penuh berkah.

Terima kasih atas perhatiannya. Kalau ada kata-kata saya yang kurang berkenan, mohon dimaafkan. Kalau ada yang benar itu datangnya dari Allah, kalau ada yang lucu atau salah itu murni kesalahan saya yang mungkin belum ngopi.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →