Logo Kangsantri AI

Dzikir Penyejuk Jiwa

Ceramah
S
Sayyid nurwahidi
29 Mei 2026 3 menit baca 38 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ و...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.

Alhamdulillah, bapak-bapak, ibu-ibu, dan para pemuda yang saya cintai. Yang terhormat para alim ulama, sesepuh desa kita yang selalu jadi penyejuk hati, para kiai, ustaz, dan ustazah, serta seluruh hadirin yang dirahmati Allah. Terima kasih sudah mau meluangkan waktu, meski saya tahu di rumah mungkin masih ada jemuran yang belum diangkat atau sapi di kandang yang belum diberi makan.

Bapak-bapak, kalau kita bicara soal dzikir, jangan dibayangkan harus pakai jubah mahal atau duduk bersila di gua selama seminggu. Dzikir itu intinya ingat Allah. Tapi kadang kita ini aneh ya, kalau ingat cicilan bank, ingatnya cepet banget sampai susah tidur. Tapi giliran ingat Allah, eh... malah menguap panjang.

Padahal, Allah SWT itu merindukan hamba-Nya yang menyebut nama-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam Surat Al-Ahzab ayat 41-42 tadi: "Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang."

Ada hadis yang sangat menarik dari Nabi kita ﷺ, beliau bersabda:

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
"Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dengan orang yang tidak berdzikir kepada-Nya seperti perumpamaan orang yang hidup dengan orang yang mati." (HR. Bukhari).

Jadi, kalau ada orang yang kerjanya cuma ngomongin tetangga, gibah sana-sini, tapi lisan dan hatinya kering dari dzikir, wah, menurut hadis ini dia bukan cuma kurang gaul, tapi mungkin "segelas air" jiwanya sudah mati bapak-ibu. Bayangkan, masak kita mau jadi mayat yang masih bisa jalan-jalan ke sawah?

Dzikir itu obat paling murah, lebih murah daripada beli obat sakit kepala di warung sebelah. Hati yang sumpek, banyak masalah, istri atau suami yang sering ngomel, obatnya cuma satu: dzikir. Imam Al-Ghazali pernah menasihatkan:

ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى هُوَ جَلَاءُ الْقُلُوْبِ وَصَقْلُهَا وَهِيَ تَجْلُوْهَا مِنَ الصَّدَأِ
"Dzikir kepada Allah adalah pembersih hati dan penyucinya, dan dzikir itu akan membersihkan hati dari karat."

Karat hati itu apa? Ya itu tadi, rasa benci, iri, dan dengki. Misalnya tetangga beli kulkas baru kita yang kepanasan, tetangga punya motor baru kita yang sakit gigi. Itu tandanya hati kita penuh karat. Perlu dikikir pakai dzikir!

Jadi, bagaimana cara dzikir yang mudah untuk kita orang desa? Tidak mesti harus hafal ribuan kalimat Arab yang susah. Mulai dari yang ringan. Saat berangkat ke sawah, ucapkan Subhanallah. Saat memetik buah, ucapkan Alhamdulillah. Saat lelah, ucapkan Astaghfirullah. Bahkan, saat istri marah-marah, bapak-bapak cukup diam lalu dalam hati berdzikir Ya Halim, Ya Sabur, wah, itu istri malah bisa heran sendiri kenapa Bapak jadi anteng sekali. Bapak selamat, hati tetap adem.

Manfaat dzikir itu luar biasa. Hati jadi tenang, sebagaimana Allah berfirman: Ala bidzikrillahi tathmainnul qulub—ingatlah, dengan berdzikir kepada Allah, hati akan menjadi tenang. Kalau hati tenang, tidur nyenyak, makan enak, rezeki pun insya Allah jadi barokah. Orang yang dzikirnya lancar itu rezekinya tidak akan tertukar, karena dia sadar Allah itu Maha Pemberi.

Kesimpulannya Bapak-Ibu sekalian, jangan jadikan dzikir sebagai pelarian kalau sudah mentok saja. Jadikan dzikir sebagai napas kehidupan. Jangan sampai kita sibuk mengurus dunia tapi lupa pada yang punya dunia.

Mari kita berkomitmen, mulai hari ini, sebelum tidur kita baca tasbih, tahmid, dan takbir. Biar saat kita wafat nanti, lidah kita sudah terbiasa basah dengan kalimat Allah.

Mohon maaf bila ada kata-kata saya yang kurang berkenan atau kurang lucu, karena saya ini pendakwah, bukan pelawak. Kalau saya lucu, itu bonus. Kalau ada yang tidak lucu, berarti kita harus lebih banyak belajar bersabar. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan mengumpulkan kita semua di surga-Nya kelak.

Rabbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina adzabannar.

Terima kasih atas segala perhatiannya.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →