اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.
Hadirin yang dimuliakan Allah, yang saya hormati para alim ulama, para asatidz, serta seluruh pemuda-pemudi yang dirahmati Allah SWT. Segala puji bagi Allah yang telah mengumpulkan kita di majelis yang mulia ini. Saya sangat terharu melihat wajah-wajah penuh harapan di depan saya. Hari ini, kita tidak hanya berkumpul untuk mendengar ceramah, tetapi kita sedang mencoba menyelamatkan sisa-sisa hati kita yang mungkin perlahan mulai kering karena ketidaktahuan kita akan syariat-Nya.
Saudaraku, pernahkah kalian merasa hampa? Meski dunia ada di genggaman, meski teman-teman di sekeliling, meski media sosial penuh dengan validasi, namun hati terasa kosong. Itu karena kita berjalan tanpa kompas. Kita hidup di dunia ini seolah-olah kita pemiliknya, padahal kita adalah tamu yang akan diusir oleh kematian kapan saja. Kita abai akan syariat. Kita menganggap syariat itu beban, padahal syariat itulah tali yang menahan kita agar tidak jatuh ke jurang kehinaan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 208:
Ketahuilah, kawan-kawan. Ketika kita memilih untuk tidak memahami syariat, kita sebenarnya sedang membiarkan diri kita berjalan di padang pasir yang luas tanpa peta. Kita mencoba menentukan mana yang baik dan mana yang buruk berdasarkan selera kita sendiri, bukan berdasarkan aturan Allah. Padahal, Nabi kita ﷺ sudah mengingatkan dalam hadis riwayat Bukhari:
Bayangkan, suatu hari nanti, saat napas terakhir merenggut tubuh kita, saat orang-orang terkasih menangis di samping tempat tidur kita, dan saat harta yang kita banggakan tak lagi mampu menolong. Kita akan berdiri sendirian di hadapan Allah. Saat itulah kita akan sadar betapa mahalnya harga ketidaktahuan kita. Kita akan ditanya, "Kenapa engkau tidak mau belajar hukum-Ku? Mengapa engkau lebih mendengarkan bisikan hawa nafsu daripada perintah-Ku?"
Seringkali kita merasa masih muda, masih panjang waktu, masih ada masa untuk berubah nanti. Namun, ingatlah bahwa maut tidak menunggu kita menjadi saleh. Banyak teman-teman kita, sebaya dengan kita, yang sudah dipanggil pulang oleh Allah dalam keadaan belum sempat memahami aturan-aturan Allah. Tidakkah ini membuat hati kita gemetar? Kita menunda-nunda belajar agama, sementara ajal tidak pernah menunda kedatangannya.
Ulama besar Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah pernah berkata:
Duhai para pemuda, apakah kita ingin terus tertipu oleh dunia? Tidakkah kita ingin menjadi golongan yang dicintai Allah? Syariat bukanlah penjara, syariat adalah pelindung. Ia menjaga kehormatan kalian dari pergaulan bebas, menjaga hati kalian dari racun-racun kemaksiatan, dan menjaga masa depan kalian dari penyesalan abadi.
Mari, mulailah belajar. Jangan malu untuk bertanya. Jangan bosan untuk menghadiri majelis ilmu. Lepaskan ego kita. Tundukkan kepala kita di hadapan ilmu Allah sebelum nanti kita menunduk karena malu di hari kiamat. Mari kita perbaiki salat kita, pelajari cara hidup yang diridhai Allah, dan berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi menjadi budak ketidaktahuan.
Ya Allah, ampunilah kami yang selama ini lalai. Hati kami keras, ya Allah, lunakkanlah. Kami jauh dari syariat-Mu, dekatkanlah kami kembali. Jangan ambil nyawa kami sebelum Engkau berikan kami kesempatan untuk bertaubat dan memahami agama-Mu dengan benar. Jadikanlah kami pemuda yang Engkau naungi di bawah naungan-Mu pada hari tidak ada naungan selain naungan-Mu.
Terima kasih atas segala perhatian dan kesediaan hati untuk merenung. Saya mohon maaf atas segala kekurangan, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Semoga pertemuan singkat ini menjadi saksi kebaikan kita di hari akhirat nanti.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ