اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Yang terhormat para alim ulama, para asatidz dan asatidzah yang senantiasa membimbing umat, serta seluruh hadirin, khususnya teman-temanku, generasi harapan bangsa, Gen Z yang dirahmati Allah SWT.
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah, karena di tengah hiruk-pikuk dunia digital dan arus informasi yang deras, kita masih dipertemukan dalam majelis ilmu yang mulia ini. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada teladan terbaik kita, Nabi Muhammad ﷺ, sang pemuda Quraisy yang jiwanya telah diterangi cahaya wahyu.
Teman-temanku sekalian, kalian hidup di era yang sangat dinamis. Zaman di mana satu kali scroll di media sosial bisa membawa kita pada kebaikan, namun di sisi lain, bisa menjebak kita dalam fatamorgana "FYP" yang melalaikan. Kita hidup di era post-truth, di mana nilai-nilai agama sering kali dianggap kuno. Namun, tahukah kalian? Menjadi pemuda di zaman ini adalah tantangan sekaligus peluang emas.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah di hari kiamat:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ... وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ
"Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya... (salah satunya adalah) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam ibadah kepada Tuhannya." (HR. Bukhari & Muslim).
Mengapa pemuda? Karena masa muda adalah masa "api". Energi kalian meluap, rasa penasaran kalian tinggi, dan pengaruh kalian sangat besar. Menjadi pemuda yang dinaungi Arsy bukanlah berarti kalian harus menjadi orang suci yang tidak pernah berbuat salah. Maknanya adalah kalian adalah pemuda yang "sadar". Sadar akan tujuan, sadar akan misi, dan sadar bahwa ada Allah yang mengawasi di balik layar ponsel kalian.
Banyak di antara kita merasa lelah dengan ekspektasi sosial atau tekanan FOMO (Fear of Missing Out). Kita sering sibuk mencari validasi di dunia maya, padahal validasi yang sesungguhnya hanyalah keridaan Allah. Sebagaimana kata Imam Syafi'i:
مَنْ طَلَبَ الدُّنْيَا بِعَمَلِ الْآخِرَةِ خَسِرَهُمَا
"Barangsiapa yang mencari dunia dengan amalan akhirat, maka ia akan kehilangan keduanya." (Adab al-Syafi'i wa Manaqibuhu).
Jangan sampai waktu produktif kita habis hanya untuk menjadi penonton kehidupan orang lain. Jadilah kreator kebaikan. Jika kalian hobi membuat konten, jadikanlah platform tersebut sebagai ladang dakwah. Jika kalian hobi riset, jadikanlah ilmu pengetahuan kalian sebagai bukti keagungan pencipta. Itulah Path of Light atau jalan cahaya yang kita maksud.
Menjadi pemuda yang dinaungi Arsy dimulai dari hal kecil: menjaga pandangan di tengah konten yang vulgar, menjaga jempol di tengah maraknya fitnah digital, dan menjaga shalat lima waktu di tengah jadwal yang padat. Seorang ulama besar, Hasan al-Bashri, pernah memberikan nasihat emas:
يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ
"Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap satu hari berlalu, maka berlalu pula sebagian dari dirimu." (Hilyatul Auliya).
Mari kita ringkas perjalanan ini. Pertama, sadari bahwa usia muda adalah modal terbesar. Kedua, manfaatkan teknologi sebagai sarana taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, bukan sebaliknya. Ketiga, jadilah generasi yang berintegritas; baik di depan layar maupun saat sendirian, karena Allah adalah The Ultimate Observer kita.
Sebagai penutup, mari kita menundukkan hati, memohon kepada Allah agar kita diberikan kekuatan untuk istiqamah di atas jalan-Nya. Ya Allah, jadikanlah kami pemuda yang mampu membawa cahaya Islam di tengah kegelapan zaman. Ampunilah kelalaian kami, terimalah amal ibadah kami yang sedikit ini, dan kumpulkanlah kami di bawah naungan-Mu pada hari yang tidak ada perlindungan selain perlindungan-Mu.
Terima kasih atas segala perhatian, mohon maaf atas segala kekurangan yang datangnya dari diri saya pribadi sebagai hamba yang fakir ilmu. Semoga pertemuan ini menjadi saksi kebaikan kita di hari akhir nanti.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ