اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Yang saya hormati para alim ulama, para asatidz dan asatidzah, yang saya muliakan Ibu Ketua Majelis Taklim, serta yang paling istimewa, ibu-ibu jamaah pengajian yang dirahmati Allah SWT. Segala puji bagi Allah yang telah mengumpulkan kita dalam majelis ilmu yang penuh berkah ini. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, Nabi Muhammad SAW. Terima kasih atas antusiasme ibu-ibu semua yang telah meluangkan waktu di tengah kesibukan mengurus rumah tangga demi meningkatkan kualitas iman.
Ibu-ibu sekalian, kita baru saja melewati momen peringatan kemerdekaan. Namun, seringkali kita terjebak memahami kemerdekaan hanya sebatas bebas dari penjajahan fisik. Padahal, hakikat kemerdekaan dalam Islam jauh lebih dalam. Allah SWT berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Hakikat merdeka adalah ketika seorang hamba mampu melepaskan diri dari penghambaan kepada sesama makhluk, hawa nafsu, dan dunia, lalu sepenuhnya tunduk di bawah perintah Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ
"Celakalah hamba dinar, hamba dirham, dan hamba pakaian." (HR. Bukhari).
Lihatlah realita hari ini. Banyak orang merasa merdeka secara hukum, namun terjajah oleh gaya hidup konsumtif, terjajah oleh pandangan orang lain di media sosial, dan terjajah oleh ketakutan akan masa depan. Ibu-ibu, sebagai tiang negara (imadul bilad), ibu-ibu adalah penentu kemerdekaan generasi kita. Jika seorang ibu terjajah oleh rasa pamer dan keinginan menuruti gengsi duniawi, maka ia akan sulit melahirkan generasi yang merdeka jiwanya.
Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah berkata:
Inilah kemerdekaan yang hakiki. Ketika hati ibu-ibu tidak lagi bergantung pada pujian tetangga atau kekayaan materi, melainkan hanya bergantung pada rida Allah. Jika ibu-ibu merasa tenang saat beribadah, itulah tanda jiwa yang merdeka. Namun, jika hati masih gelisah karena belum bisa membeli perabotan terbaru atau belum bisa mengikuti gaya hidup orang lain, itu tandanya kita masih "terjajah" oleh hawa nafsu.
Mari kita wujudkan kemerdekaan di rumah tangga kita. Merdeka dari rasa pelit dengan banyak bersedekah, merdeka dari rasa sombong dengan rendah hati, dan merdeka dari ketidaktahuan dengan terus belajar di majelis ini. Didiklah anak-anak kita bukan hanya untuk menjadi orang hebat secara duniawi, tapi menjadi hamba Allah yang tangguh, yang tidak bisa dibeli oleh jabatan dan tidak bisa ditakuti oleh kesulitan hidup.
Sebagai penutup, mari kita simpulkan. Pertama, kemerdekaan adalah ketaatan kepada Allah. Kedua, kurangi ketergantungan pada dunia agar hati menjadi ringan. Ketiga, jadilah ibu yang menjadi teladan kemerdekaan bagi anak-anak agar mereka tidak menjadi budak zaman.
Ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang benar-benar merdeka, yang tidak takut kepada siapapun kecuali kepada-Mu. Ampunilah dosa-dosa kami, dosa orang tua kami, dan bimbinglah keluarga kami menuju surga-Mu. Mohon maaf atas segala kekurangan dalam tutur kata saya. Semoga Allah SWT mengumpulkan kita kembali di jannah-Nya nanti.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ