Logo Kangsantri AI

Guru, Cahaya Ilmu Akhirat

Ceramah
O
ongki willy
14 Agustus 2026 3 menit baca 7 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ و...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Yang terhormat pengasuh pondok pesantren, yang saya takzimi para alim ulama dan para sesepuh, yang saya hormati jajaran dewan asatidz dan asatidzah yang tak kenal lelah membimbing kita, serta yang saya banggakan seluruh santri dan santriwati sekalian.

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas limpahan nikmat sehat dan kesempatan sehingga kita dapat berkumpul di majelis ilmu yang mulia ini. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, Nabi Muhammad SAW. Hari ini, dalam momentum peringatan hari guru, kita diingatkan akan sosok yang menjadi lentera dalam kegelapan, sosok yang mengalirkan ilmu sehingga kita keluar dari lembah kebodohan menuju peradaban yang mulia.

Hadirin yang dirahmati Allah, dalam tradisi Islam, guru bukanlah sekadar pengajar, melainkan murabbi (pendidik jiwa), mu'allim (pengajar ilmu), dan muaddib (pembentuk adab). Islam menempatkan kedudukan guru setara dengan kemuliaan ilmu itu sendiri. Allah SWT berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 9:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
"Katakanlah, adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar: 9).

Mengapa guru begitu istimewa? Karena melalui tangan merekalah, wahyu Allah dan sunnah Rasulullah sampai kepada kita. Jika tanpa guru, kita tidak akan mengenal bagaimana cara shalat, cara berwudhu, hingga mengenal siapa Tuhan kita. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا
"Sesungguhnya aku diutus hanyalah sebagai seorang pengajar." (HR. Ibnu Majah).

Jika Nabi Muhammad SAW saja menegaskan posisinya sebagai pengajar, maka betapa mulianya tugas seorang guru yang melanjutkan risalah beliau. Dalam kitab Ta’lim Muta’alim, Syekh Az-Zarnuji menegaskan bahwa keberhasilan seorang santri sangat bergantung pada adab kepada gurunya. Beliau menyatakan:

لَنْ تَنَالُوا الْعِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ: ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَبُلْغَةٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُولُ زَمَانٍ
"Kalian tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara: kecerdasan, semangat, kesungguhan, biaya, bersahabat dengan ustadz, dan waktu yang lama."

Santri sekalian, coba renungkan, berapa banyak keringat yang menetes dari dahi guru-guru kita saat mereka harus mengulang-ulang penjelasan agar kita paham? Berapa banyak kesabaran yang mereka simpan saat kita lalai dan malas? Guru adalah orang tua kedua kita setelah ayah dan ibu. Jika orang tua kita melahirkan kita ke dunia, maka guru melahirkan jiwa kita ke dalam cahaya ilmu.

Adab kepada guru adalah kunci keberkahan ilmu. Ilmu yang banyak tanpa barokah guru hanyalah tumpukan informasi yang tidak akan membawa manfaat bagi agama dan bangsa. Sejarah mencatat betapa para ulama besar, seperti Imam Syafi'i, sangat menjaga adab di depan gurunya, Imam Malik. Beliau membuka lembaran kertas saja dilakukan dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara yang mengganggu gurunya. Inilah rahasia mengapa ilmu mereka begitu luas dan bertahan hingga berabad-abad lamanya.

Oleh karena itu, di hari yang berbahagia ini, mari kita jadikan momentum untuk melakukan introspeksi. Sudahkah kita berbakti? Sudahkah kita mendoakan mereka dalam setiap sujud kita? Janganlah menjadi santri yang "kacang lupa pada kulitnya". Ilmu yang kalian dapatkan hari ini adalah wasilah dari mereka. Berikanlah hadiah terbaik, bukan berupa barang mewah, melainkan akhlak yang karimah, kesungguhan dalam belajar, dan pengabdian kepada umat setelah kalian lulus nanti.

Sebagai kesimpulan, ingatlah tiga hal ini: Pertama, muliakan guru karena kemuliaan ilmu ada pada mereka. Kedua, carilah ridha guru karena ridha Allah terletak pada ridha guru. Ketiga, jadilah santri yang terus menebar manfaat, agar ilmu yang diberikan guru menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya bagi mereka hingga ke surga.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa guru kami, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami saat mendidik kami dengan penuh kesabaran. Berikanlah mereka kesehatan, ketabahan, dan tempat yang mulia di sisi-Mu. Jadikanlah ilmu yang mereka ajarkan menjadi syafaat bagi kami di hari kiamat. Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, waqina adzaban-nar.

Mohon maaf atas segala kekurangan dalam penyampaian ini. Terima kasih kepada seluruh guru atas pengabdian tanpa batas. Semoga Allah meridhai langkah kita semua.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →