اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.
Yang saya hormati para alim ulama dan para kiai yang kami taati, para asatidz dan asatidzah yang senantiasa membimbing kita, dan terkhusus untuk bapak-bapak, saudara-saudaraku sekalian, para tulang punggung keluarga yang telah meluangkan waktu di tengah peluh keringat dan lelahnya rutinitas pekerjaan untuk duduk di majelis yang mulia ini.
Bapak-bapak yang dirahmati Allah, mari kita tundukkan hati sejenak. Mungkin di antara kita ada yang merasa, "Sudah tua, sudah penuh dosa, apakah masih pantas saya berangkat mengaji kembali? Apakah sudah tidak terlambat saya mengeja ayat-ayat Allah di usia senja ini?"
Wahai saudaraku, ingatlah satu kisah. Di masa lalu, ada seorang kakek tua yang sudah berusia lanjut, ia menangis di pojok masjid. Ketika ditanya mengapa ia menangis, ia berkata, "Aku menangis karena aku baru sadar, selama 50 tahun aku hidup, aku hanya mencari dunia. Namun saat aku membuka Al-Qur'an hari ini, aku baru paham bahwa selama ini bacaanku masih terbata-bata, padahal umurku sudah di ambang maut."
Saudaraku, bukankah kita sering merasa cukup dengan ilmu yang kita punya saat sekolah dulu? Padahal Allah berfirman:
Ayat ini turun kepada Rasulullah ﷺ saat beliau sudah menjadi pemimpin umat. Jika Rasulullah saja diperintahkan untuk terus meminta tambahan ilmu, siapa kita sehingga merasa sudah cukup?
Bayangkan, bapak-bapak sekalian, jika besok Allah memanggil kita, apakah kita sudah siap mempertanggungjawabkan bacaan Al-Qur'an kita? Rasulullah ﷺ bersabda:
Tidakkah hati kita bergetar membayangkan anak-anak kita menatap wajah kita yang mulai berkerut, namun kita sendiri tidak mampu memberikan warisan ilmu agama yang cukup untuk mereka? Kita sibuk mengejar target pekerjaan, lembur hingga malam, mengumpulkan harta yang kelak akan ditinggalkan, namun kita lupa "menabung" untuk bekal di alam kubur. Saat kita sakit, saat tubuh mulai renta, harta tidak bisa membaca doa untuk kita. Hanya ilmu dan amal salehlah yang menemani.
Ingatlah kawan, Nabi kita Muhammad ﷺ bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi:
Tidak ada batasan usia untuk menjadi penuntut ilmu. Jika hari ini bapak merasa malu karena sudah dewasa tapi belum lancar mengaji, ketahuilah bahwa Allah lebih mencintai orang yang tertatih-tatih mengeja ayat-Nya daripada orang yang sombong dengan harta dunianya. Malaikat membentangkan sayapnya bagi penuntut ilmu, menantikan setiap tetes keringat bapak yang lelah sepulang kerja, namun masih menyempatkan diri menghadap Allah.
Jangan sampai penyesalan itu datang di ujung waktu, saat pintu taubat sudah tidak lagi terbuka, saat mata kita tak lagi sanggup melihat mushaf, dan lidah kita terpaku kaku. Mulailah hari ini, meski tertatih, meski harus mengeja huruf hijaiyah satu per satu. Allah tidak melihat hasil akhirnya, Allah melihat proses hijrah bapak-bapak sekalian.
Mari simpulkan pertemuan kita: Pertama, tidak ada kata terlambat untuk ngaji. Kedua, ilmu adalah cahaya yang menerobos gelapnya kubur kita kelak. Ketiga, jadikanlah majelis ini tempat bapak melepas lelah dari dunia, untuk menenangkan jiwa di hadapan Sang Pencipta. Berjanjilah pada diri sendiri, demi istri yang menunggu cinta bapak di surga, demi anak-anak yang menanti teladan bapak, mari kita perbaiki bacaan kita.
Ya Allah, ampunilah dosa kami yang telah menyia-nyiakan waktu. Terangkanlah hati kami dengan cahaya Al-Qur'an. Jadikan kami hamba yang terus belajar hingga nafas terakhir terlepas dari raga. Ya Allah, mudahkanlah lidah kami untuk melantunkan ayat-ayat-Mu yang agung.
Terima kasih atas segala perhatian bapak-bapak yang luar biasa. Mohon maaf jika ada tutur kata yang menyentil atau kurang berkenan, itu semata-mata karena rasa cinta saya agar kita semua bisa berkumpul di surga-Nya kelak.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ