اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Ibu-ibu yang dimuliakan Allah, yang saya hormati segenap tokoh agama, para ustazah, serta seluruh jamaah pengajian yang dirahmati Allah SWT. Segala puji bagi Allah yang telah mengumpulkan kita di majelis yang penuh berkah ini. Saya sampaikan rasa syukur yang mendalam atas kehadiran Ibu-ibu sekalian, semoga setiap langkah kaki yang Ibu ayunkan menuju tempat ini dicatat sebagai penggugur dosa dan pembuka pintu surga.
Ibu-ibu yang saya cintai, hari ini kita berbicara tentang Isra’ Mi’raj. Bukan sekadar perjalanan biasa, bukan pula sekadar cerita masa lalu. Isra’ Mi’raj adalah titik balik kesedihan Rasulullah ﷺ. Ingatkah Ibu-ibu? Perjalanan ini terjadi di tahun yang disebut Amul Huzni, tahun kesedihan. Saat Rasulullah kehilangan istri tercinta, Khadijah, yang menemani dalam duka dan harta. Saat beliau kehilangan sang pelindung, pamannya Abu Thalib. Bayangkan kesedihan itu, Bu. Di saat hati beliau terluka hebat, Allah memanggilnya. "Kemarilah kekasih-Ku, naiklah ke langit, tinggalkan dunia yang kejam ini sejenak."
Mari kita merenung. Seringkali kita merasa dunia ini sempit saat ujian datang. Anak susah diatur, ekonomi sulit, atau sakit yang tak kunjung sembuh. Kita merasa sendirian. Tapi lihatlah Nabi kita. Beliau diuji dengan kehilangan orang-orang tercinta. Mengapa Allah meng-Isra’-kan beliau? Untuk menghibur hatinya. Allah ingin berkata, "Wahai Muhammad, jika bumi menolakmu, jika manusia menyakitimu, Langit-Ku terbuka untukmu."
Allah berfirman dalam Surah An-Najm ayat 18:
Ibu-ibu, di tengah perjalanan itu, Rasulullah tidak lupa pada kita, umatnya. Saat beliau berada di puncak Sidratul Muntaha, di tempat yang tidak ada satu pun makhluk pernah sampai ke sana, apakah beliau meminta harta? Tidak. Beliau meminta agar kita bisa bertemu Allah lewat shalat. Shalat adalah "Mi'raj"-nya orang mukmin.
Namun, mari kita introspeksi diri dengan air mata. Sudahkah kita menjaga shalat kita? Atau justru kita sering menunda panggilan-Nya? Padahal, Nabi kita menangis dan memohon agar umatnya diberi hadiah shalat lima waktu agar kita bisa "bertemu" Allah setiap hari. Bagaimana perasaan beliau jika melihat kita melalaikan hadiah yang didapat dari perjalanan yang penuh air mata itu?
Dikisahkan, dalam perjalanan Mi’raj, beliau melihat banyak pemandangan. Ada orang yang memecahkan kepalanya sendiri karena beratnya dosa. Ada orang yang mencakar wajahnya sendiri. Mengapa? Karena mereka lalai. Mari kita bawa ke rumah tangga kita. Ibu-ibu, didiklah anak-anak kita dengan shalat. Jangan sampai di akhirat nanti, kita bertemu Rasulullah dalam keadaan beliau menundukkan kepala karena kita tidak mampu menjaga amanah shalat yang beliau bawa dengan susah payah dari langit ketujuh.
Hikmah besar dari Isra' Mi'raj adalah pembuktian bahwa Allah selalu ada bagi hamba-Nya yang bersabar. Jika saat ini Ibu sedang diuji dengan berat, ingatlah, "Mi'raj" Ibu adalah kesabaran dalam sujud. Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang taat berlarut-larut dalam duka.
Rasulullah ﷺ bersabda:
Ulama besar, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, pernah berpesan:
Ibu-ibu sekalian, mari kita tutup majelis ini dengan tekad baru. Jangan lagi biarkan shalat kita asal-asalan. Jadikan shalat sebagai momen untuk mencurahkan semua keluh kesah kita kepada Allah, sebagaimana Rasulullah mencurahkan rindunya kepada Allah di Sidratul Muntaha.
Ya Allah, ampunilah dosa kami. Jika selama ini shalat kami hanya jadi beban, bukan jadi kebutuhan, sadarkanlah kami. Jika kami sering lalai, lembutkanlah hati kami. Jadikan kami wanita-wanita yang sanggup mendidik anak kami menjadi ahli sujud, yang kelak akan menggandeng tangan kami menuju surga-Mu.
Mohon maaf atas segala kekurangan dalam tutur kata saya. Semoga Allah mengumpulkan kita kembali di telaga al-Kautsar bersama baginda Nabi Muhammad ﷺ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ