اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Yang terhormat para alim ulama, para kiai, asatidz, serta tokoh masyarakat; kepada bapak-bapak, rekan-rekan seperjuangan, para pekerja yang hari ini menyisihkan waktunya demi bertatap muka di majelis yang mulia ini. Alhamdulillah, kita bisa berkumpul di sini. Saya sadar, bapak-bapak sekalian datang dengan tubuh yang lelah, punggung yang mungkin masih pegal karena tumpukan pekerjaan, dan pikiran yang mungkin masih melayang pada urusan nafkah keluarga. Terima kasih telah hadir. Kehadiran bapak adalah tanda bahwa di tengah kerasnya dunia kerja, hati bapak masih merindukan cahaya kebenaran.
Bapak-bapak sekalian, tahukah kita ada satu penyakit hati yang paling berbahaya namun sering tidak kita sadari? Penyakit itu adalah "kematian hati akibat jauh dari para pewaris Nabi". Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan dalam kitabnya, bahwa barangsiapa yang membiarkan dirinya tidak bermajelis dengan ulama selama 40 hari, maka hatinya akan menjadi keras, gelap, dan sulit menerima cahaya nasihat.
Bayangkan, 40 hari. Mungkin kita merasa 40 hari itu sebentar. Kita sibuk dengan target bulanan, sibuk dengan lembur, sibuk mengejar aset dunia. Tapi ingatlah pesan Allah dalam Surah Al-Kahfi ayat 28:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
"Dan bersabarlah dirimu dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan duniawi; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaan (nya) adalah sia-sia."
Bapak-bapak, betapa sedihnya ketika kita menghabiskan waktu 40 hari hanya untuk mencari dunia, namun kita lupa memberikan makan pada jiwa kita. Bukankah kita bekerja untuk keluarga? Namun, jika hati kita sudah keras karena jauh dari ulama, bukankah nafkah yang kita bawa pulang akan kehilangan keberkahannya?
Rasulullah ﷺ bersabda:
Jika kita tidak mendekat pada ulama, bagaimana kita bisa mendapatkan warisan ilmu Nabi? Seringkali kita merasa benar dalam bersikap, padahal itu adalah hawa nafsu yang tertutup oleh kelalaian. Saat bapak merasa tidak butuh nasihat ulama, saat itu jugalah bapak sedang dipimpin oleh kesombongan. Tetesan air mata ini tumpah bukan karena apa-apa, tapi karena saya takut, jangan-jangan kita termasuk orang yang disebut dalam kitab Ihya Ulumuddin: "...barangsiapa yang meninggalkan majelis ilmu dalam waktu 40 hari, maka hatinya akan menjadi mati."
Apakah kita ingin pulang ke hadapan Allah dengan hati yang membatu? Apakah kita ingin saat di sakaratul maut nanti, lidah kita kelu untuk mengucapkan Laa ilaha illallah karena selama hidup kita tidak pernah berusaha melembutkan hati dengan nasihat para pewaris-Nya?
Bapak-bapak, mari kita renungkan. Banyak di antara kita yang mungkin sudah lupa kapan terakhir kali duduk bersimpuh di depan kiai, kapan terakhir kali bertanya tentang hukum agama, atau membiarkan orang alim menatap wajah kita lalu memberikan nasihat yang menusuk kalbu. Jangan biarkan 40 hari itu berlalu dengan kesia-siaan. Jadikan jadwal majelis ilmu seperti jadwal makan kita. Kita tidak mungkin membiarkan perut kita kosong sampai 40 hari, tapi mengapa kita sanggup membiarkan hati kita kerontang tanpa zikir dan ilmu?
Mari, sebentar saja kita menunduk. Bayangkan sejenak anak istri kita di rumah. Mereka tidak hanya butuh nafkah materi, mereka butuh sosok ayah yang hatinya lembut, yang memiliki cahaya iman karena selalu dekat dengan petunjuk ulama. Jika kita jauh dari ulama, maka rumah tangga kita akan kering dari barakah.
Di sisa waktu ini, saya mengajak bapak-bapak sekalian, mari kita berjanji dalam hati. Mulai detik ini, jangan biarkan waktu kita terbuang hanya untuk urusan dunia sampai 40 hari tanpa ada pertemuan dengan ulama. Cari mereka, salam tangannya, dengarkan nasihatnya, meskipun itu hanya sebentar. Insya Allah, satu kata nasihat yang kita dengar bisa menyelamatkan kita dari api neraka.
Semoga Allah melembutkan hati kita yang keras ini, mengampuni kelalaian kita yang terlalu sibuk mengejar harta hingga lupa jalan pulang menuju-Nya. Ya Allah, jangan Engkau kunci hati kami sehingga kami tidak lagi bisa membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.
Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada tutur kata saya yang menyinggung perasaan. Niat saya hanyalah menyambung kasih sayang Allah melalui peringatan ini. Semoga pertemuan kita hari ini menjadi saksi baik di yaumul mahsyar kelak bahwa kita semua adalah orang-orang yang rindu akan hidayah-Nya.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ