اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
Yang saya hormati para alim ulama dan asatidz, yang saya hormati segenap tokoh masyarakat, dan yang paling saya banggakan, rekan-rekan pemuda dan remaja sekalian yang dirahmati Allah. Alhamdulillah, puji syukur kita haturkan kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman dan kesehatan sehingga hari ini kita bisa berkumpul dalam majelis ilmu yang insya Allah penuh berkah.
Teman-teman sekalian, pernahkah kalian merenung, mengapa dalam bahasa Arab, kata Falah (keberuntungan/kemenangan) memiliki akar kata yang sama dengan Falah (petani)?
Dalam Al-Qur'an, Allah menjanjikan kemenangan bagi orang beriman dengan istilah Aflaha. Kata ini serumpun dengan Fallah, yang secara harfiah berarti petani atau orang yang membajak tanah. Apa relevansinya? Mengapa keberuntungan sejati disimbolkan dengan profesi petani?
Mari kita bedah secara logis. Seorang petani tidak akan pernah mendapatkan panen jika ia hanya duduk diam menunggu. Petani harus melewati fase yang melelahkan: membersihkan lahan, mencangkul tanah yang keras, menanam benih dengan sabar, menyirami, memupuk, hingga menjaga tanaman tersebut dari hama. Bukankah ini gambaran hidup kita?
Kesuksesan atau al-falah yang hakiki bukanlah hadiah yang jatuh dari langit secara instan. Ia adalah hasil dari proses menanam. Allah SWT berfirman:
Pemuda seringkali terjebak pada keinginan untuk instan. Ingin sukses tanpa lelah, ingin pintar tanpa belajar, ingin bahagia tanpa kesabaran. Padahal, Falah (keberuntungan) dalam agama kita, sebagaimana petani, sangat bergantung pada Sa'yun (usaha/ikhtiar).
Rasulullah SAW bersabda:
Perhatikan kata 'Amila (bekerja/beramal). Seperti petani yang berinteraksi dengan tanah, manusia harus berinteraksi dengan dunianya melalui amal saleh. Ulama besar Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa al-falah mencakup perolehan hal yang dicita-citakan dan keselamatan dari hal yang dibenci. Petani mendapatkan keberuntungannya saat hasil panennya melimpah tanpa terganggu hama. Begitu pula mukmin; ia beruntung saat ia berhasil memanen pahala di dunia untuk bekal akhirat.
Lalu, apa syarat menjadi 'petani' yang beruntung? Pertama, lahan hati harus subur. Hati yang subur adalah hati yang tawakal kepada Allah. Kedua, benih yang ditanam haruslah kebaikan atau amal saleh. Ketiga, harus sabar menghadapi 'musim'. Ada kalanya hidup sedang di musim kemarau—dalam kesulitan, atau musim hujan—dalam kelimpahan. Keduanya adalah ujian untuk melihat siapa yang paling konsisten dalam beramal.
Kawan-kawan, jangan takut lelah. Menjadi "petani" akhirat memang berat. Kalian mungkin sering diremehkan karena memilih jalan ketaatan, mungkin capek menuntut ilmu, atau lelah menahan diri dari godaan maksiat. Ingatlah, tidak ada petani yang sukses tanpa keringat. Keberuntungan (falah) hanyalah kata lain dari proses panjang yang dikelola dengan iman.
Jika hari ini kalian merasa gagal, mungkin kalian belum cukup menanam. Jika hari ini kalian merasa jauh dari keberuntungan, mungkin benih yang kalian tebar belum mencapai masa panen. Jangan berhenti mencangkul kebaikan. Teruslah berikhtiar dengan ibadah yang istiqamah.
Sebagai penutup, mari kita tanam benih kebaikan hari ini. Jangan tunda untuk berbuat baik, karena kita tidak pernah tahu amal mana yang akan membawa kita pada "panen" keberuntungan di hadapan Allah nanti. Semoga Allah menjadikan kita semua pemuda-pemuda yang muflihun, yakni mereka yang beruntung di dunia dan akhirat.
Ya Allah, jadikanlah usaha kami bernilai ibadah. Berikanlah kami kesabaran layaknya petani yang menanti hasilnya. Berkahkan umur kami, jadikanlah setiap langkah kami menuju ridha-Mu, dan kumpulkan kami di Jannah-Mu kelak.
Mohon maaf atas segala kekurangan dalam penyampaian ini, semoga bermanfaat bagi kita semua.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ