اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Hadirin kaum muslimin, adik-adikku para pemuda dan pemudi yang dirahmati Allah. Mari kita tundukkan hati, sejenak kita lepaskan beban dunia, dan kita hadirkan Allah di dalam majelis ini. Terkhusus yang saya hormati para alim ulama, ustaz, dan asatidzah yang senantiasa membimbing kita ke jalan cahaya, serta kalian, para pemuda harapan umat yang insyaallah dikumpulkan dalam surga-Nya kelak.
Adik-adikku, hari ini kita akan membedah hadits pertama dalam kitab Arba’in Nawawi. Sering kita dengar, sering kita baca, namun mari kita renungi dengan air mata. Hadits ini adalah tentang niat. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
"Sesungguhnya setiap amalan bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan." (HR. Bukhari & Muslim)
Kalian tahu apa sababul wurud-nya? Ada seorang pria yang hijrah dari Makkah ke Madinah bukan karena Allah, melainkan karena ingin menikahi seorang wanita yang bernama Ummu Qais. Ia hijrah demi cinta manusia, bukan cinta Tuhan. Bayangkan, dia rela menempuh perjalanan panas, meninggalkan rumah, demi makhluk yang akan mati. Bagaimana dengan kita hari ini? Berapa kali kita berbuat baik—bersedekah, mengunggah foto kebaikan di media sosial, atau menuntut ilmu—namun di dalam hati hanya ingin dipuji orang? Kita membangun istana amal, namun pondasinya adalah debu pujian manusia yang akan terbang ditiup angin kematian.
Tidakkah kita merinding? Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, sang raksasa iman, sang penakluk negeri yang ditakuti setan, adalah perawi hadits ini. Beliau adalah sosok yang jika lewat di satu jalan, setan akan lari mencari jalan lain. Namun, ingatlah tangisan Umar di penghujung malam. Beliau pernah membaca ayat tentang siksa neraka, lalu beliau jatuh pingsan hingga harus dijenguk selama berhari-hari. Mengapa? Karena beliau takut niatnya melenceng. Beliau takut amal yang bertumpuk itu hanyalah fatamorgana di mata Allah.
Umar bin Khattab, seorang pemimpin yang pernah menangis di tengah malam karena takut ada seekor domba di pelosok negeri yang mati kelaparan karena kelalaiannya. Beliau bukan takut kehilangan tahta, beliau takut pertanggungjawaban di depan Allah. Beliau adalah teladan bagi kalian, pemuda. Jika Umar saja gemetar dengan amalnya, siapalah kita yang sering kali justru berbangga diri dengan maksiat dan amal yang setengah hati?
Wahai pemuda, bukankah kita sering merasa lelah mengejar dunia? Kalian kuliah, bekerja, berkarya, namun seringkali hati terasa kosong. Itu karena niat kita retak. Kita mengejar like, kita mengejar pengakuan, kita mengejar masa depan yang fana. Padahal, Allah tidak melihat pada rupa kalian yang rupawan, Allah tidak melihat pada followers kalian yang ribuan. Allah melihat ke dalam palung hati yang paling dalam.
Faedah dari hadits ini adalah pembersihan jiwa. Setiap helaan napas kalian, setiap ketikan di smartphone kalian, setiap langkah kaki menuju tempat maksiat atau taat, semuanya dihitung. Jika niatnya bukan Allah, maka lelah kalian hanyalah lelah yang sia-sia. Bayangkan saat kalian nanti berdiri sendirian di alam kubur, ketika keluarga meninggalkan kalian, ketika jabatan hilang, ketika wajah cantik atau tampan kalian membusuk di dalam tanah; apa yang tersisa? Hanya niat yang terpatri dalam amal.
Mari, detik ini juga, kita perbaiki niat. Jangan biarkan amal kalian kosong. Jangan sampai kita menjadi orang yang rajin salat, namun hatinya tidak pernah sampai kepada Allah. Jika kalian melakukan kebaikan, sembunyikanlah sebagaimana kalian menyembunyikan dosa. Biarlah hanya Allah yang tahu, karena cinta yang paling tulus adalah cinta yang tidak perlu dipertontonkan.
Ya Allah, lembutkan hati kami yang keras ini. Jangan Engkau biarkan kami terbuai oleh panggung dunia yang menipu. Ampuni kami yang sering beramal karena riya, ampuni kami yang sering menomorduakan-Mu dalam setiap niat. Ya Allah, jadikanlah masa muda kami ini sebagai masa yang Engkau naungi di bawah arsy-Mu, karena kami menggunakannya untuk taat kepada-Mu.
Terima kasih atas segala perhatian, mohon maaf jika ada tutur kata yang menyayat hati, karena sungguh, saya hanya ingin kita semua bertemu di surga-Nya nanti. Semoga Allah menjaga niat kita hingga nafas terakhir.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ