اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Yang saya hormati para alim ulama, para asatidz dan asatidzah yang senantiasa membimbing umat, yang saya hormati pengurus majelis taklim ini, serta ibu-ibu salihah, jamaah pengajian yang dirahmati Allah SWT. Segala puji bagi Allah, atas izin-Nya kita bisa berkumpul di majelis yang penuh keberkahan ini dalam keadaan sehat walafiat. Shalawat serta salam senantiasa kita curahkan kepada teladan agung, Baginda Nabi Muhammad SAW.
Ibu-ibu sekalian, tema kita hari ini adalah mengenai "Kenikmatan Dunia". Seringkali dalam keseharian, kita terjebak dalam perlombaan duniawi; perabot rumah yang harus selalu baru, perhiasan, hingga gengsi di antara tetangga. Padahal, Allah SWT telah memberikan peringatan tegas melalui ayat yang saya bacakan tadi dalam QS. Al-Hadid ayat 20, bahwa dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, dan kebanggaan di antara kalian.
Apakah dunia itu haram? Tentu tidak. Dunia adalah ladang untuk akhirat. Namun, masalah muncul ketika dunia yang seharusnya kita pegang di tangan, malah masuk ke dalam hati. Rasulullah SAW bersabda:
Bayangkan, Ibu-ibu, air yang menempel di ujung jari itulah kenikmatan dunia, sedangkan samudera yang luas adalah akhirat. Tidakkah kita merasa rugi jika menghabiskan seluruh usia hanya untuk mengejar setetes air, namun melupakan samudera yang kekal?
Seringkali kita bertanya, "Mengapa hidup terasa lelah dan tidak tenang?" Jawabannya mungkin karena kita terlalu memandang dunia sebagai tujuan. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengingatkan kita tentang hakikat Hawa Nafsu dan kecintaan berlebihan terhadap harta. Beliau menegaskan bahwa hati yang terpaut pada dunia akan sulit menerima cahaya hikmah. Dunia ini ibarat bayang-bayang; kalau kita kejar, ia akan lari. Tapi kalau kita membelakanginya, ia akan mengikuti kita dengan izin Allah.
Sebagai ibu, peran kita sangat sentral. Ibu adalah "sekolah pertama" bagi anak-anak. Jika ibu sibuk dengan gaya hidup duniawi yang berlebihan, maka akan sulit menanamkan nilai qana’ah atau rasa cukup kepada anak. Ingatlah sabda Nabi:
Ibu-ibu yang dimuliakan Allah, mari kita lakukan muhasabah. Sudahkah perhiasan yang kita pakai membawa kita lebih dekat kepada Allah? Sudahkah rumah mewah kita menjadi tempat untuk menyambung silaturahmi, atau justru menjadi tempat bermegah-megahan yang membuat tetangga merasa rendah diri?
Mari kita ubah pola pikir. Gunakan dunia ini untuk memperbanyak amal jariyah, mempererat kasih sayang dalam keluarga, dan mendidik anak-anak menjadi generasi yang taat. Kenikmatan dunia yang sesungguhnya bukanlah saat kita memilikinya, melainkan saat kita mampu menggunakannya di jalan Allah tanpa hati kita terikat padanya.
Sebagai penutup, mari kita simpulkan: Pertama, dunia hanyalah perhiasan sementara, jangan jadikan ia tujuan utama. Kedua, milikilah hati yang qana’ah agar hidup senantiasa tenang. Ketiga, jadikan setiap harta dan waktu di dunia sebagai investasi untuk akhirat yang kekal.
Mari kita berdoa kepada Allah.
Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai pusat perhatian kami dan batas akhir ilmu kami. Ya Allah, mampukanlah kami untuk menggunakan titipan-Mu di jalan yang Engkau ridhai. Berikanlah kami keberkahan dalam sisa usia, dan jadikan akhir hayat kami sebaik-baiknya akhir hayat, yakni husnul khotimah.
Terima kasih atas segala perhatiannya. Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan. Mari kita tutup dengan istighfar dan doa kafaratul majelis.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ