اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۚ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ} (النور: 21). رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Yang terhormat, Al-Mukarrom, para Kiai, para Ustadz, Ustadzah, Bapak-bapak, Ibu-ibu, serta seluruh santriwan dan santriwati yang saya cintai karena Allah.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Wah, luar biasa sekali energi hari ini! Semangatnya santri-santriku ini bikin pengen semangat juga saya. Gimana kabarnya? Sehat semua? Alhamdulillah kalau sehat. Saya juga sehat, sehat walafiat, meskipun kadang-kadang suka kebanyakan mikirin utang, eh… maksudnya banyak mikirin urusan ummat, ya! Hehehe.
Senang sekali rasanya bisa berkumpul di majelis yang penuh berkah ini. Apalagi di pondok pesantren yang mulia ini. Tempat di mana kita menimba ilmu, membentuk karakter, dan yang paling penting, belajar menjadi hamba Allah yang taat. Hari ini kita akan membahas tema yang mungkin agak sensitif, tapi sangat relevan, apalagi buat kalian para santri yang sedang beranjak dewasa. Tema kita adalah: "Ketika Cinta Belum Halal: Menjaga Hati di Zaman Serba Instan."
Santriku sekalian, zaman sekarang ini kan serba instan ya. Mau makan tinggal pencet, mau belanja tinggal klik, mau cari informasi tinggal googling. Semuanya cepat, gampang, dan mudah. Tapi, begitu juga dengan perasaan, khususnya perasaan cinta. Kadang, baru kenal sebentar, eh udah naksir. Baru ngobrol sebentar di kolom komentar, eh udah sayang-sayangan. Wah, jangan-jangan jangan sampai perasaan cinta ini ikut instan juga ya, jangan sampai kayak mie instan, sebentar bikin nagih, tapi nanti eh.. hasilnya nggak baik.
Kita harus sadari, di dalam diri kita ini ada dua kekuatan besar yang selalu berinteraksi: akal dan hati. Akal itu ibarat sopir, dia yang mikir, yang ngerem, yang belok. Nah, hati ini ibarat jokinya, dia yang punya semangat, yang punya keinginan. Kalau jokinya lagi semangat karena cinta, kadang sopirnya jadi oleng, ngeremnya telat, beloknya salah arah. Apalagi kalau cinta itu belum ada bingkai halalnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 90:
{إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ}
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berbuat adil dan berbuat kebaikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi peringatan kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”
Nah, kata "keji" dan "kemungkaran" itu luas maknanya. Termasuk juga hal-hal yang mendekati zina, termasuk juga pacaran yang tidak dibenarkan oleh syariat. Kenapa kok dilarang? Bukan karena Allah benci sama cinta. Bukan! Allah itu menciptakan cinta, Allah yang menganjurkan kita menikah. Tapi, Allah ingin cinta itu tumbuh di tempat yang semestinya, yaitu dalam bingkai pernikahan yang suci dan diberkahi.
Bayangkan, kalau kita punya tanaman hias yang mahal, kira-kira mau ditaruh di mana? Pasti di tempat yang teduh, yang subur, yang aman kan? Biar bunganya mekar indah dan nggak cepat layu. Nah, hati kita ini lebih berharga dari tanaman hias. Masa iya mau kita taruh di sembarang tempat, di tempat yang gersang, yang panas, yang penuh godaan, tanpa ada pengaman? Nanti layu sebelum berkembang, malah jadi daun kering yang nggak berguna.
Di zaman sekarang, godaan itu banyak banget. Lewat media sosial, lewat teman, bahkan lewat soundtrack drama korea yang kadung bikin baper. Kadang, kita ini kayak lagi megang ponsel baru, hati-hati kalau megang, takut jatuh. Tapi, kalau udah kena rayuan gombal atau tatapan manja, wusss… langsung dilempar ke mana-mana. Hahaha.
Pernah dengar hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim? Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
"يا معشر الشباب، من استطاع منكم الباءة فليتزوج، فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج، ومن لم يستطع فعليه بالصوم، فإنه له وجاء."
“Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kalian telah mampu baa’ah (menikah), maka nikahlah. Karena ia lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu baginya adalah perisai (menjaga dari zina).”
Nah, ini pesannya jelas. Kalau sudah mampu, ya dinikahi. Kalau belum mampu, jangan dipaksa. Solusinya, puasa! Puasa bukan cuma menahan lapar dan haus, tapi juga menahan hawa nafsu. Termasuk menahan diri dari hal-hal yang bisa memicu cinta yang belum halal.
Terus, gimana kalau hati ini sudah terlanjur "nyantol"? Udah terlanjur suka sama seseorang? Santriku, pertama, akui saja. Wajar kok kalau punya perasaan. Yang penting, bagaimana kita mengelolanya.
Pertama, jangan dipupuk. Ibarat tanaman, kalau kita sirami terus, ya hidup. Kalau kita biarkan saja, ya setidaknya tidak tumbuh subur. Batasi interaksi yang nggak perlu. Hindari chattingan larut malam, hindari jalan berdua tanpa mahram, hindari saling memuji kelebihan fisiknya secara berlebihan. Ingat, ini project jangka panjang, bukan fast food.
Kedua, alihkan energi. Punya energi cinta yang berlimpah? Salurkan ke hal-hal positif. Fokus belajar, kejar cita-cita, organisir kegiatan pondok, bantu guru, teruskan menghafal Al-Qur'an. Siapa tahu, energi cinta yang positif itu malah jadi modal kita kelak saat sudah halal.
Ketiga, berdoa. Ini jurus paling ampuh! Pasrahkan semua urusan hati kepada Allah. Minta petunjuk, minta dijaga dari segala macam maksiat. Di sepertiga malam, bukan buat mikirin gebetan, tapi buat bermunajat kepada Allah. "Ya Allah, kalau dia memang yang terbaik untukku di dunia dan akhirat, dekatkanlah. Tapi kalau tidak, palingkanlah hatiku darinya, dan berikan yang lebih baik lagi."
Ingat kisah Yusuf Alaihis Salam? Beliau dijaga oleh Allah dari godaan wanita penguasa dan dari perbuatan keji. Kenapa? Karena beliau senantiasa menjaga dirinya, menjaga hatinya, dan hanya mengharap ridha Allah. Dia berkata:
{مَا هَٰذَا بَشَرٌ إِنْ هَٰذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ} (Yusuf: 31) ketika melihat wanita tersebut, kemudian Allah berfirman dalam surat Yusuf ayat 33:
{وَلَوْلَا فِتْنَتُهَا أَصْغَتْ إِلَيْهَا وَرَكَنَتْ إِلَيْهَا وَلَٰكِنْ كَانَ مِنْ الْمُحْصَنِينَ}
"Dan jika tidaklah perempuan itu memikirkan rahmat Tuhannya, tentulah ia akan menyerah kepada suaminya. Dan sungguh, telah berkehendak wanita itu kepadanya, dan Yusufpun berkehendak (memperdayakannya), kalau seandainya dia tidak melihat tanda (kebenaran) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami menjauhkan darinya perbuatan keji dan kekejaman. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba Kami yang terpilih."
Hebat kan? Sampai Allah yang turun tangan langsung menjaga hamba-Nya yang menjaga diri. Jadi, kalau kita berusaha menjaga hati, Allah pasti bantu.
Santriku sekalian, menjaga hati di zaman serba instan ini memang berat. Tapi, bukan berarti tidak mungkin. Ingat, kita ini diciptakan Allah dengan sebaik-baiknya penciptaan, melebihi makhluk lainnya. Akal yang cerdas, hati yang fitrah, dan syariat yang sempurna dari Allah. Jangan sampai kita menyia-nyiakan potensi ini demi cinta sesaat yang belum tentu berujung kehanalan.
Jadikanlah pondok ini sebagai tempat paling aman untuk memupuk hati. Jaga pandangan, jaga lisan, jaga pergaulan. Jadikan diri antum semua seperti benteng yang kokoh, yang tidak mudah ditembus oleh rayuan setan atau hawa nafsu. Kelak, ketika tiba saatnya, cinta itu akan tumbuh subur dan bersemi indah dalam sebuah ikatan pernikahan yang diridhai Allah. Percayalah, cinta yang halal itu jauh lebih manis, jauh lebih berkah, dan jauh lebih abadi.
Baik, mungkin cukup sekian ceramah dari saya. Mohon maaf jika ada salah kata atau terucap yang kurang berkenan di hati. Semoga kita semua senantiasa diberikan kekuatan untuk menjaga hati, menjaga diri, dan berjuang di jalan Allah.
Ya Allah, jadikanlah hati kami lurus, teguh dalam iman, mampu menahan segala godaan.
Ya Allah, jika ada di antara kami yang mencintai, cintakanlah ia pada sesuatu yang mendekatkan diri pada-Mu.
Ya Allah, jauhkanlah kami dari segala bentuk maksiat, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.
Ya Allah, mudahkanlah kami untuk menempuh jalan-Mu yang lurus.
Aamiin.
Terima kasih atas perhatian antum semua.