اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Yang saya hormati para alim ulama, para kiai, asatidz, dan asatidzah yang ilmunya luas laksana samudra. Yang saya muliakan Bapak Kepala Desa beserta jajaran perangkat desa, tokoh masyarakat, serta seluruh Bapak, Ibu, dan adik-adik warga desa yang saya cintai. Alhamdulillah, seneng sekali hati saya bisa kumpul di sini. Lihat wajah-wajah Bapak Ibu semua, rasanya seperti lihat dompet di akhir bulan, adem tapi bikin kangen. Terima kasih sudah meluangkan waktu, padahal saya tahu, mestinya jam segini Bapak-bapak lagi asyik ngopi di warung atau nungguin panen, ya kan?
Bapak Ibu sekalian, hari ini kita bicara tema berat: "Lima Pilar Membangun Keluarga dan Negara". Jangan pusing dulu, kalau dibilang pilar, jangan dibayangkan pilar beton buat rumah, nanti malah teringat cicilan material. Kita bicara pilar kehidupan. Keluarga itu miniatur negara. Kalau keluarganya "kacau balau", ya negaranya juga ikut "bikin pusing".
Pilar pertama adalah Tauhid atau Iman yang Kokoh. Iman itu seperti akar pohon durian. Kalau akarnya kuat, kena angin kencang pun tidak roboh. Allah berfirman:
Jadi kalau suami mau jadi pemimpin keluarga, imannya harus benar. Jangan sampai suami takut sama istri lebih dari takut sama Allah. Kalau disuruh sholat malah jawab, "Bentar Bu, masih nanggung sinetronnya," itu namanya iman "krupuk", kena air dikit langsung letoy.
Pilar kedua adalah Ilmu. Rasulullah SAW bersabda:
Bapak Ibu, belajar itu jangan cuma pas sekolah saja. Di rumah pun harus belajar. Belajar sabar menghadapi pasangan yang kalau ngomong pedasnya melebihi cabai rawit setan. Belajar mengerti anak jaman sekarang. Kalau orang tuanya berilmu, anaknya jadi pintar. Kalau anaknya pintar, desa kita ini jadi desa yang maju, bukan cuma maju jalan di tempat.
Pilar ketiga adalah Kasih Sayang (Mawaddah wa Rahmah). Keluarga itu bukan ring tinju. Suami istri harus saling sapa, saling bantu. Kalau istri lagi masak, suaminya jangan cuma duduk sambil main HP. Bantu cuci piring kek, atau minimal bantuin nyicipin masakan. Nabi SAW bersabda:
Jangan sampai di luar rumah Bapak-bapak jadi pahlawan, eh pas sampai rumah jadi "macan ompong" yang disuruh jemur baju aja ngomelnya satu RT dengar.
Pilar keempat adalah Keadilan dan Kejujuran. Negara yang maju itu yang pemimpinnya jujur, keluarganya juga jujur. Jangan ada yang hobi "nyolong" sandal di masjid atau hobi "ngurangin" timbangan dagangan. Ingat, harta haram itu seperti kuman, masuk ke tubuh bikin penyakit hati. Kalau sudah kena penyakit hati, susah sembuhnya, obatnya bukan di apotek, tapi di atas sajadah.
Pilar kelima adalah Gotong Royong dan Kepedulian. Islam itu agama jamaah. Kita tidak bisa hidup sendiri. Orang desa itu hebat karena gotong royongnya. Kalau ada tetangga yang susah, kita bantu. Bukan malah difoto terus diposting di media sosial buat bahan gibah. Ingat, Al-Mu’minu lil Mu’mini kal bunyan, orang mukmin itu satu dengan yang lain bagaikan bangunan yang saling menguatkan.
Sebagai penutup, mari kita evaluasi. Sudahkah keluarga kita punya lima pilar ini? Atau jangan-jangan pilar kita sudah lapuk dimakan rayap kemalasan? Mari kita perbaiki dari rumah kita masing-masing. Kalau rumah tangga tentram, desa aman, negara pun tenang.
Mohon maaf kalau ada candaan saya yang kelewat batas, namanya juga manusia, kadang lupa, kadang khilaf. Yang penting ilmunya nempel di hati, bukan cuma numpang lewat di kuping.
Ya Allah, jadikanlah keluarga kami keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Berikanlah kami keberkahan dalam setiap langkah, jadikanlah desa kami desa yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Ampuni dosa kami, orang tua kami, dan seluruh kaum muslimin.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ