Logo Kangsantri AI

Rabiul Awal Cahaya Sang Nabi

Ceramah
R
Ridho
14 Agustus 2026 2 menit baca 25 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ و...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.

Yang saya hormati para alim ulama, para asatidz dan asatidzah yang senantiasa menjadi pelita di tengah kegelapan zaman. Kepada jajaran panitia yang telah berjuang keras menyiapkan majelis ilmu yang penuh berkah ini, serta yang paling saya banggakan, teman-teman pemuda dan pemudi, generasi harapan umat, para pejuang masa depan yang hadir di majelis ini.

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang dengan kasih sayang-Nya mengumpulkan kita di tempat yang mulia ini. Rasa terima kasih yang mendalam saya sampaikan kepada kalian semua. Di tengah derasnya arus dunia yang seringkali melalaikan, kalian memilih melangkahkan kaki ke majelis ilmu. Semoga setiap langkah kalian menjadi saksi di hadapan Allah bahwa kalian adalah pemuda yang mencintai Nabi-Nya.

Wahai saudaraku, kita berada di ambang bulan Rabi‘ul Awal. Bulan yang harum dengan memori kelahiran manusia paling agung, sang kekasih Allah, Nabi Muhammad ﷺ. Namun, mari sejenak kita bertanya pada hati yang paling dalam: "Apakah kita benar-benar mengenal beliau?"

Dahulu, sebelum beliau lahir, dunia ini gelap. Hak perempuan diinjak-injak, orang lemah ditindas, kesesatan merajalela. Kemudian, lahirlah sang pelita. Beliau tidak lahir dengan kemewahan, beliau lahir sebagai yatim, tumbuh dengan penuh luka dan perjuangan. Ingatkah kalian, bagaimana beliau menangis di atas sajadah-Nya di tengah malam yang dingin, memikirkan kita? Beliau menyebut nama kita, “Ummati, ummati...” (umatku, umatku), padahal saat itu kita bahkan belum lahir.

Apakah kita pernah menangis karena merindukan beliau? Atau justru kita lebih sering menangis karena kehilangan hal-hal duniawi yang fana?

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
*"Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →