اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.
Yang terhormat para alim ulama dan asatidz, yang kami muliakan segenap tokoh masyarakat, serta teman-temanku, para pemuda-pemudi harapan umat yang dirahmati Allah. Alhamdulillah, di malam yang penuh keberkahan ini, kita bisa berkumpul di majelis ilmu untuk menyambut datangnya bulan Rabi‘ul Awal, bulan yang menjadi saksi sejarah lahirnya sosok yang paling mencintai kita, jauh sebelum kita lahir ke dunia ini.
Teman-temanku yang dirahmati Allah, mari sejenak kita menepi dari hiruk-pikuk dunia. Mari kita bayangkan sosok yang paling mulia, Nabi Muhammad ﷺ. Pernahkah kalian membayangkan, bagaimana beliau menangis di penghujung malam, bersujud, menyebut nama kita satu per satu? Beliau tidak pernah melihat wajah kita, beliau tidak pernah berbincang dengan kita, namun air mata beliau tumpah memikirkan nasib umatnya di akhir zaman.
Allah SWT berfirman: