اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Yang terhormat para kiai dan alim ulama yang senantiasa menjadi pelita di tengah umat, yang kami muliakan dewan pengasuh beserta segenap asatidz dan asatidzah yang tak lelah membimbing, serta yang saya banggakan, rekan-rekan santri dan seluruh pelajar yang dirahmati Allah.
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas izin-Nya kita dapat berkumpul dalam majelis yang mulia ini, merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus merayakan keberhasilan rekan-rekan santri yang telah mengkhatamkan Al-Qur’an. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, Nabi Muhammad SAW.
Para santri yang dirahmati Allah, momen Maulid Nabi bukan sekadar seremonial untuk mengenang hari lahir beliau. Lebih dari itu, Maulid adalah momentum evaluasi diri: sejauh mana akhlak kita mencerminkan akhlak Rasulullah? Allah SWT berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 21 yang tadi saya bacakan, bahwa pada diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik. Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an yang berjalan. Maka, sangat tepat hari ini kita merayakan Maulid bertepatan dengan khataman Al-Qur’an. Karena tidak ada cara terbaik untuk mencintai Rasulullah selain dengan mempelajari, membaca, dan mengamalkan kalamullah yang beliau bawa.
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya At-Tibyan menjelaskan:
Khatam Al-Qur’an bagi seorang santri bukanlah garis finish, melainkan titik awal. Setelah lidah kita terbiasa melantunkan ayat-ayat Allah, tugas selanjutnya adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai kompas kehidupan. Mengapa? Karena dunia ini penuh dengan fitnah dan godaan. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits:
Rekan-rekan santri, banyak orang pintar di luar sana, namun sedikit yang memiliki keberkahan ilmu. Keberkahan itu datang ketika Al-Qur’an meresap ke dalam sanubari, bukan sekadar lewat di kerongkongan. Menjadi santri yang mencintai Rasulullah berarti menjadi pribadi yang disiplin, jujur dalam bertindak, dan rendah hati dalam bersikap.
Mari kita renungkan, Rasulullah SAW sangat mencintai sahabatnya yang penghafal Qur’an. Beliau sering mendahulukan mereka dalam urusan-urusan strategis karena Al-Qur’an membentuk karakter yang tangguh. Maka bagi kalian yang telah khatam hari ini, jangan berhenti di sini. Jadikan khataman ini sebagai janji setia kepada Allah untuk terus berinteraksi dengan mushaf setiap hari. Jangan biarkan Al-Qur’an berdebu di meja kalian, sebab ia adalah saksi yang akan membela atau justru menuntut kita di hari kiamat nanti.
Sebagai penutup, mari kita teguhkan niat. Maulid Nabi kita jadikan penyemangat untuk meneladani sifat beliau, dan khataman Qur’an kita jadikan bekal untuk menerangi jalan masa depan kita. Jadilah santri yang tidak hanya hafal hurufnya, tapi juga teguh memegang hukumnya.
Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya bagi kubur kami, dan penolong kami di hari kiamat. Berikanlah kemuliaan kepada kedua orang tua kami atas jerih payahnya menyekolahkan kami di tempat yang penuh berkah ini. Ampunilah dosa kami, kiai kami, dan guru-guru kami.
Terima kasih atas segala perhatian, mohon maaf atas segala kekurangan. Semoga Allah menerima amal ibadah kita.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ