Logo Kangsantri AI

Cahaya Cinta Sang Nabi

Ceramah
N
nazirin rn
17 Agustus 2026 3 menit baca 93 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.

Yang saya hormati para alim ulama, sesepuh desa, Bapak Kepala Desa beserta perangkatnya, para ustadz dan ustadzah yang luar biasa, serta seluruh bapak, ibu, dan saudara-saudaraku sekalian warga desa yang saya cintai.

Alhamdulillah, senang sekali rasanya melihat wajah-wajah ceria di sini. Meskipun cuaca agak mendung, semangat bapak-ibu semua secerah mentari pagi. Terima kasih sudah menyempatkan waktu datang ke sini, meninggalkan sawah, meninggalkan dapur, meninggalkan tontonan sinetron demi duduk bersama dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Bapak-ibu, kenapa kita harus merayakan Maulid? Ya karena kita cinta Nabi. Kalau kita tidak cinta, mana mungkin kita berkumpul di sini. Biasanya, kalau kita cinta, kita akan meniru apa yang dilakukan orang yang kita cintai. Tapi jangan keliru, meniru Nabi bukan berarti bapak-ibu pakai sorban lalu pergi ke sawah sambil bawa pedang. Bukan itu maksudnya. Meniru Nabi itu meniru akhlaknya, meniru sabarnya.

Rasulullah SAW itu manusia paling sabar. Pernah suatu hari beliau diludahi orang, tapi beliau malah menjenguk orang itu saat sakit. Kalau kita sekarang? Baru diklakson sedikit di jalan saja sudah keluar kata-kata "kebun binatang" semua disebut. Padahal, Allah SWT berfirman:

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur." (QS. Al-Qalam: 4).

Nah, luhurnya akhlak Nabi ini yang harus jadi contoh. Dulu zaman Nabi, para sahabat itu luar biasa taatnya. Kalau kita? Kadang disuruh shalat saja nunggu diingatkan istri atau anak tiga kali. Itu pun shalatnya secepat kilat, ingatnya bukan ingat Allah, tapi ingat "tadi jemuran sudah diangkat belum ya?".

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
"Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ath-Thabrani).

Coba kita tanya diri sendiri, sudah bermanfaat belum kita bagi tetangga? Atau justru malah jadi sumber gosip bagi tetangga? Maulid ini saatnya kita berbenah. Menjadi orang desa yang religius itu mudah, kuncinya cuma tiga: shalatnya tertib, mulutnya dijaga, dan hartanya disedekahkan. Jangan sampai kita mengaku cinta Nabi, tapi tetangga sebelah rumah tidak bisa makan gara-gara kita tidak peduli.

Kisah Nabi Muhammad SAW itu penuh dengan kasih sayang. Beliau tidak pernah membeda-bedakan orang. Orang kaya dihormati, orang miskin disayangi. Tidak seperti sebagian orang zaman sekarang yang kalau ada hajatan, orang kaya diundang duduk di depan, orang miskin disuruh duduk di dapur dekat tumpukan piring kotor. Mari kita teladani Nabi, kita buat desa ini penuh kekeluargaan, saling membantu.

Ingat Bapak-Ibu, Nabi kita itu manusia pilihan. Beliau tidak pernah dendam. Pernahkah kita memaafkan orang yang sudah menyakiti hati kita? Kadang-kadang, urusan hutang saja bisa jadi permusuhan sampai tujuh turunan. Malu kita sama Nabi. Padahal, memaafkan itu berat tapi pahalanya luar biasa.

Sebagai penutup, mari kita simpulkan. Maulid Nabi bukan sekadar makan-makan enak setelah pengajian. Maulid adalah momentum untuk memperbaiki diri. Mulai besok, mari kita kurangi ghibah, perbanyak istighfar, dan jadikan akhlak Nabi sebagai cermin perilaku kita. Kalau kita sudah baik, Insya Allah desa ini akan jadi desa yang barokah, "Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghofur".

Mohon maaf jika ada kata-kata saya yang kurang berkenan atau menyinggung perasaan. Namanya juga manusia, kadang bicara suka keceplosan. Yang baik diambil, yang buruk dibuang saja ke selokan, jangan dibawa pulang. Mari kita tutup dengan doa.

Ya Allah, jadikanlah kami umat yang mencintai Nabi-Mu, bukan hanya di bibir saja, tapi dengan perbuatan nyata. Berikanlah kami kesabaran seperti Nabi, kemuliaan hati seperti Nabi, dan kumpulkanlah kami nanti di surga bersama beliau. Rabbana atina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina adzabannar.

Terima kasih atas segala perhatiannya. Kurang lebihnya mohon dimaafkan.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →