اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Alhamdulillah, bapak-bapak, ibu-ibu, dan adik-adik sekalian yang saya cintai. Sehat semua nggih? Alhamdulillah. Senang sekali saya bisa sampai di desa yang udaranya sejuk ini. Tadi pas lewat jalan masuk desa, saya lihat banyak sekali tanaman hijau. Tapi saya agak bingung, itu tanaman padi atau tanaman rumput yang diseragamkan? Haha, bercanda ya, Bapak-bapak.
Yang saya hormati para alim ulama, sesepuh desa, tokoh masyarakat, Bapak Kepala Desa yang gagah, serta seluruh jamaah yang wajahnya cerah-cerah seperti lampu jalan yang baru diganti. Terima kasih sudah meluangkan waktu, meninggalkan tivi dan sinetron demi duduk manis di sini untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Bapak dan Ibu, kita berkumpul di sini untuk merayakan kelahiran baginda Nabi. Kenapa harus dirayakan? Ya karena kita cinta! Kalau kita cinta sama seseorang, pasti kita ingat hari lahirnya, kan? Masa sama Nabi kalah sama pacar atau cucu sendiri? Kalau cucu ulang tahun, dibelikan kue tart. Nah, kalau Nabi ulang tahun, minimal kita perbanyak shalawat, bukan malah cuma sibuk mikirin siapa yang bakal bagi-bagi berkat setelah acara ini selesai. Hayo, siapa yang dari tadi sudah melirik tas kresek di belakang? Sabar, berkat itu bonus, pahala shalawat itu yang utama!
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an: