اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Yang terhormat para alim ulama, para Kiai pengasuh pondok pesantren, yang saya takzimi seluruh jajaran asatidz dan asatidzah, serta yang paling saya banggakan, rekan-rekan santri dan santriwati yang wajahnya berseri-seri, apalagi yang sudah dapat kiriman uang saku dari orang tua. Puji syukur ke hadirat Allah SWT, berkat rahmat-Nya kita bisa berkumpul di majelis ilmu ini dalam keadaan sehat, meski sebagian dari kalian saya lihat masih mengantuk karena semalam mungkin terlalu asyik membaca kitab atau jangan-jangan asyik chatting-an sampai lupa waktu. Terima kasih atas kehadirannya, semoga langkah kaki kalian ke sini dicatat sebagai amal jariyah.
Hari ini kita memperingati Maulid Nabi. Jangan cuma ingat Maulid karena libur sekolah atau karena ada makan-makan bareng ya! Maulid itu momentum re-charge iman. Kita ini santri, identitas kita itu "pengikut Rasulullah". Kalau Rasulullah SAW itu orangnya disiplin luar biasa, nah kita ini kadang kalau disuruh bangun subuh saja, perjuangannya lebih berat daripada membebaskan Palestina.
Allah SWT berfirman:
Nabi itu luar biasa akhlaknya. Beliau tidak pernah membalas orang yang menghina dengan caci maki. Lah kita? Kadang baru dibilang "santri kok telat" saja, hatinya sudah panas, mulutnya sudah pengen membalas. Ingat hadits Nabi:
Jadi, kalau ada santri yang mulutnya seperti knalpot racing—berisik dan kasar—berarti dia belum meneladani Nabi.
Kalian tahu, Nabi Muhammad SAW itu humoris juga loh. Beliau pernah bercanda dengan seorang nenek tua. Nenek itu bertanya, "Ya Rasulullah, apakah saya masuk surga?" Nabi menjawab dengan canda, "Di surga tidak ada orang tua." Nenek itu menangis, lalu Nabi tertawa dan menjelaskan bahwa di surga nanti semua orang akan dikembalikan menjadi muda. Artinya, Islam itu tidak kaku. Belajar agama itu harus bahagia, bukan malah bikin wajah ditekuk terus seperti setrikaan yang belum panas.
Imam Syafi'i pernah berpesan:
Maka, manfaatkan waktu kalian di pesantren. Jangan jadi santri yang "hafalan lancar, tapi kelakuan amburadul". Kita ingin Maulid ini jadi titik balik agar kita semakin meniru cara Nabi makan, cara Nabi berteman, bahkan cara Nabi membagi waktu.
Intinya, mari kita jadikan Maulid ini momentum untuk memperbaiki akhlak, kurangi rebahan, perbanyak bacaan, dan jangan lupa sholawat. Karena sholawat itu obat paling ampuh buat santri yang sering galau karena tugas sekolah atau rindu rumah.
Sebagai penutup, mari kita berjanji untuk lebih rajin lagi belajar. Jangan sampai lulus pesantren, ilmu tidak punya, kitab sudah hilang, yang tersisa cuma kenangan waktu piket kebersihan. Semoga Allah kumpulkan kita bersama Baginda Nabi di surga nanti. Saya mohon maaf jika ada candaan saya yang melukai hati, karena yang sempurna itu cuma Nabi, kalau saya ini masih belajar, sering salah, dan pastinya butuh kopi.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. Ya Allah, jadikanlah kami santri yang berakhlak mulia seperti Nabi-Mu. Ampunilah dosa orang tua kami, guru-guru kami, dan jadikanlah ilmu kami bermanfaat.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ