Logo Kangsantri AI

Cahaya Cinta Rasulullah SAW

Ceramah
O
ongki willy
25 Agustus 2026 4 menit baca 44 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Bapak-bapak yang saya hormati, Ibu-ibu yang saya cintai—dan yang paling saya tunggu-tunggu, hidangan acar dan nasi kotaknya nanti, alhamdulillah. Yang saya muliakan para kiai, alim ulama, tokoh masyarakat, serta seluruh warga desa yang hadir dengan wajah berseri-seri, mungkin karena teringat berkat yang akan dibawa pulang nanti ya? Bapak dan Ibu sekalian, sungguh kebahagiaan bagi saya bisa berada di tengah-tengah panjenengan semua dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini. Mari kita syukuri nikmat sehat, sehingga kita bisa duduk bersama, meski yang belakang mungkin kakinya sudah mulai kesemutan.

Bapak-Ibu, kalau kita bicara soal Nabi Muhammad, sebenarnya kita sedang bicara tentang sosok yang paling "keren" sejagat raya. Beliau itu bukan sekadar nabi, tapi sosok yang kalau kita contoh perilakunya, hidup kita jadi adem. Tapi, masalahnya kadang kita cuma semangat pas Maulidan saja. Makan daging kambingnya semangat, tapi shalat lima waktunya masih "seingatnya". Betul tidak? Jangan dijawab, nanti saya yang kena marah.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
"Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya: 107).

Nabi itu rahmat bagi alam. Artinya, keberadaan beliau itu bikin dunia ini nyaman. Beliau itu kalau bicara lembut, kalau ditanya orang yang kurang cerdas pun, beliau tetap sabar. Pernah ada orang Arab Badui kencing di masjid, sahabat Nabi sudah mau menghunus pedang. Tapi Nabi bilang, "Biarkan saja, siram saja bekasnya." Coba kalau kejadian itu di sini, mungkin yang kencing sudah jadi viral di TikTok. Itulah akhlak Nabi, beliau memanusiakan manusia.

Hadits Nabi pun menegaskan:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
"Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Al-Baihaqi).

Imam Malik rahimahullah juga berpesan:

مَا كَانَ عَلَيْهِ الصَّحَابَةُ هُوَ مَا يُصْلِحُ آخِرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ
"Apa yang dijalankan oleh para sahabat, itulah yang akan memperbaiki umat di akhir zaman ini." (Asy-Syifa karya Qadhi 'Iyadh).

Jadi, kalau kita mau meniru Nabi, jangan cuma meniru jenggotnya saja, tapi tiru juga sifat jujurnya. Nabi itu punya gelar Al-Amin, artinya terpercaya. Kalau Nabi jualan dagangan, beliau jujur soal barangnya. Tidak ada istilah "barang mulus" padahal aslinya remuk. Lah, kalau kita, kadang masih suka "ngurangin timbangan" atau "nyembunyiin cacat". Maulid ini harus jadi momen evaluasi. Jangan sampai, badan kita ikut pengajian, tapi hati masih sibuk ngitung keuntungan di pasar.

Bapak-Ibu yang saya muliakan, hidup di desa ini sebenarnya sudah enak. Kita masih bisa saling sapa, masih mau gotong royong. Itu sebenarnya sudah mengikuti sunnah Nabi. Nabi itu sangat peduli dengan tetangganya. Beliau bersabda: "Tidaklah beriman seseorang di antara kalian sampai dia mencintai tetangganya sebagaimana mencintai dirinya sendiri." Nah, kalau tetangga masak enak, kita harus ikut senang, syukur-syukur dikirimi. Jangan malah tetangga beli motor baru, kita yang sakit perut, terus bilang itu hasil pesugihan. Itu bukan akhlak Nabi, itu akhlak "kurang piknik".

Mari kita perbaiki diri. Jadikan Nabi sebagai idola nomor satu. Kalau anak muda zaman sekarang idolanya artis Korea, kita orang tua harus pastikan anak-anak kita lebih kenal Muhammad bin Abdullah daripada aktor drama. Caranya? Ya dari rumah. Ajak anak-anak kita shalat berjamaah, ajarkan mereka bershalawat, dan yang paling penting, tunjukkan akhlak baik di depan mereka. Karena anak-anak itu seperti cermin, apa yang dia lihat dari orang tuanya, itu yang dia tiru.

Sebagai penutup, mari kita ambil hikmah Maulid ini untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Jangan cuma peringatannya yang besar, tapi maknanya hilang. Saya mohon maaf jika ada tutur kata saya yang kurang berkenan atau membuat Bapak-Ibu tersinggung, kalau pun tersinggung, ya mohon maaf, namanya juga usaha. Yang penting, marilah kita senantiasa bershalawat kepada Nabi, karena orang yang paling dekat dengan Nabi di surga adalah yang paling banyak shalawatnya.

Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad, wa 'ala ali Sayyidina Muhammad. Ya Allah, jadikanlah kami umat yang mencintai Nabi-Mu, bukan hanya di mulut saja, tapi di perbuatan kami sehari-hari. Ampunilah dosa-dosa kami, dosa orang tua kami, dan jadikanlah desa kami ini desa yang berkah, damai, dan masyarakatnya gemar beribadah.

Terima kasih atas segala perhatiannya. Mohon maaf kalau durasinya kepanjangan sampai membuat Bapak-Ibu lapar.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →