اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Alhamdulillah, senang sekali rasanya bisa berdiri di depan ibu-ibu yang cantik dan luar biasa semangatnya hari ini. Yang saya hormati para alim ulama dan asatidz, yang saya hormati ketua pengajian kita Ibu Hj. Aminah, dan yang paling saya cintai, ibu-ibu jamaah pengajian yang masya Allah, wajahnya bersinar karena sering wudhu, tapi mungkin juga bersinar karena habis pakai skincare diskonan, ya? Tidak apa-apa, yang penting hatinya tetap terawat dengan iman.
Terima kasih sudah menyempatkan waktu di antara kesibukan mengurus dapur, mengurus cucian, sampai mengurus suami yang kadang kalau naruh handuk basah di kasur bikin kita pengen berubah jadi singa. Tapi tenang, hari ini kita sedang memperingati Maulid Nabi. Kita datang ke sini bukan cuma buat cari gorengan atau makan siang, tapi untuk memperbaiki diri meneladani Rasulullah SAW.
Ibu-ibu, tahu tidak kenapa kita merayakan Maulid? Agar kita ingat kalau Nabi itu sosok yang luar biasa penyabar. Beliau kalau dimarahi musuh, didoakan baik. Kalau kita? Baru disenggol sedikit sama tetangga di grup WhatsApp saja, jari sudah gatal ingin membalas dengan stiker sindiran, ya kan? Nabi Muhammad SAW bersabda:
Bayangkan kalau ibu-ibu mempraktikkan hadits ini saat suami lupa bayar listrik atau telat kasih uang belanja. Daripada teriak-teriak yang bikin tensi naik, lebih baik diam atau bicara yang manis. "Mas, kayaknya listriknya sudah habis, deh," sambil senyum. Dijamin suami lebih luluh daripada kalau kita pakai gaya "televisi rusak" alias teriak-teriak.
Rasulullah itu teladan dalam segala hal. Beliau sangat mencintai keluarganya. Dalam sebuah riwayat disebutkan:
Kalau ingin suami seperti Rasulullah, ibu-ibu harus meniru Siti Khadijah yang selalu menenangkan hati suami. Jangan baru suami pulang kerja, pintu belum dibuka, ibu sudah sodorkan daftar hutang arisan. Itu namanya bukan meneladani Nabi, itu namanya meneladani debt collector!
Mari kita jadikan Maulid ini momentum untuk introspeksi. Apakah rumah tangga kita sudah sejuk karena akhlak kita, atau malah panas karena kita jarang bersabar? Allah SWT berfirman:
Nabi itu luar biasa. Beliau tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan. Maka, jika hari ini masih ada yang suka bergosip, yuk mulai kurangi. Ganti gibah dengan sedekah, ganti komentar pedas dengan baca sholawat. Ingat, mulut kita ini nanti di akhirat akan diminta pertanggungjawaban. Jangan sampai nanti di hari kiamat, kita sibuk bagi-bagi pahala salat kita ke tetangga gara-gara kita pernah menggosipkan mereka. Rugi, Bu!
Sebagai penutup, mari kita tingkatkan cinta kita kepada Rasulullah. Caranya? Bukan cuma dengan perayaan, tapi dengan menjalankan sunnahnya. Senyum itu sunnah, sedekah itu sunnah, memaafkan itu sunnah.
Ya Allah, jadikanlah kami wanita-wanita sholehah yang mampu meneladani akhlak Rasulullah. Jadikanlah rumah tangga kami sakinah, mawaddah, warahmah. Ampuni dosa kami, dosa suami kami, dan dosa orang tua kami. Jika ada tutur kata saya yang menyinggung atau candaan saya yang bikin ibu-ibu merasa tersindir, mohon dimaafkan. Itu murni karena saya sayang ibu-ibu, supaya kita sama-sama masuk surga nanti.
Terima kasih atas segala perhatiannya. Semoga kita semua dikumpulkan bersama Nabi di surga kelak.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ