Logo Kangsantri AI

Cahaya Nabi Pembawa Rahmat

Ceramah
M
Muhazy
20 Agustus 2026 4 menit baca 25 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Bapak-bapak, Ibu-ibu, hadirin yang dimuliakan Allah. Yang saya hormati para alim ulama, sesepuh desa, tokoh masyarakat, serta seluruh jamaah yang wajahnya cerah-cerah semua, mungkin karena habis makan berkat tadi ya? Alhamdulillah, kita bisa berkumpul di majelis yang penuh berkah ini. Saya lihat ibu-ibu di depan sudah semangat sekali, mungkin karena mau dengar ceramah atau mau nunggu pembagian berkat setelah ini? Tenang saja, yang penting niatnya ibadah, insya Allah berkahnya dapat, berkatnya juga selamat.

Hari ini kita memperingati Maulid Nabi. Jangan sampai kita cuma sibuk masak gulai atau bikin nasi kotak, tapi lupa esensi Maulid itu sendiri. Ada orang yang kalau ditanya, "Kenapa merayakan Maulid?", jawabannya, "Biar bisa makan enak, Pak Ustaz." Ya tidak apa-apa, itu namanya ekonomi syariah, menghidupkan ekonomi rakyat lewat Maulid! Tapi ingat, Nabi Muhammad SAW itu bukan sekadar sosok sejarah, beliau adalah uswatun hasanah.

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah."

Jadi kalau mau ikut Nabi, ya ikut cara hidupnya. Nabi itu orangnya sabar luar biasa. Pernah suatu hari ada orang Arab badui datang ke Masjid Nabawi, tiba-tiba kencing di dalam masjid. Wah, kalau di desa kita ada yang kencing di masjid, mungkin sudah dikejar warga pakai sapu lidi. Tapi Nabi? Beliau sabar, beliau ajarkan tata cara bersuci dengan lembut. Itulah akhlak Nabi.

Kita di sini kadang sama tetangga saja masih suka "panas-panasan". Tetangga beli motor baru, kita yang sakit perut. Tetangga beli kulkas, kita yang sesak napas. Padahal Nabi bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya." (HR. Bukhari & Muslim).

Memuliakan tetangga itu bukan berarti kasih hutang terus-terusan ya, Pak. Itu namanya membebani! Maksudnya, jaga lisan, jaga perbuatan, jangan sampai tetangga merasa tidak aman karena kelakuan kita.

Maulid ini momentum kita buat "servis" hati. Seperti motor kalau sudah lama tidak diservis, olinya hitam, tenaganya loyo, apalagi kalau dibawa nanjak, mogok. Hati manusia juga begitu. Kalau sudah jarang kena ceramah, jarang ibadah, hatinya kotor, susah dibawa diajak ke jalan kebaikan. Akhirnya yang muncul cuma sifat iri, dengki, dan pelit.

Ingat, Nabi kita itu orang yang sangat dermawan. Sampai-sampai beliau kalau punya sesuatu, pasti diberikan kepada yang membutuhkan. Beliau tidak pernah kenyang sendirian. Nah, kita ini bagaimana? Kadang kalau masak rendang, baunya tercium sampai rumah tetangga, tapi tetangganya tidak dikasih sedikit pun. Ya bau aromanya saja yang bagi-bagi, dagingnya dimakan sendiri. Nabi mengajarkan kita untuk peduli.

Ada kisah, suatu saat seorang nenek tua mencaci maki Nabi setiap kali beliau lewat. Tapi Nabi tidak membalas. Beliau tetap tersenyum. Bahkan ketika nenek itu jatuh sakit, justru Nabi yang datang membawakan makanan dan menyuapinya. Lihat, betapa indahnya akhlak beliau. Kita? Jangankan menyuapi orang yang benci, kadang sama orang yang baik sama kita saja masih sering lupa berterima kasih.

Maka, mari kita jadikan peringatan Maulid ini sebagai langkah awal memperbaiki diri. Perbaiki shalatnya, perbaiki hubungannya dengan tetangga, dan perbanyak shalawat. Nabi bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
"Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali." (HR. Muslim).

Luar biasa sekali ganjaran shalawat ini. Jadi, jangan pelit bershalawat. Sambil nunggu giliran dapat berkat, mending mulutnya dipakai buat bershalawat, biar pahalanya dobel.

Sebagai penutup, mari kita ambil tiga poin penting: pertama, teladani akhlak Nabi dalam kehidupan sehari-hari, jangan cuma bisa teriak takbir tapi mulutnya masih suka gibah. Kedua, muliakan tetangga, karena merekalah orang pertama yang bakal nolong kita kalau ada musibah, bukan orang jauh. Ketiga, jangan bosan bershalawat, karena itulah tiket kita untuk mendapatkan syafaat Nabi di hari kiamat nanti.

Mari kita berdoa bersama.
Ya Allah, ya Tuhan kami, jadikanlah kami umat yang mencintai Nabi-Mu, dan jadikanlah Nabi kami pemberi syafaat bagi kami di hari yang tiada guna harta dan anak keturunan kecuali hati yang bersih. Ampunilah dosa orang tua kami, guru-guru kami, dan warga desa ini. Jadikan desa kami desa yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Mohon maaf jika ada kata-kata saya yang kurang berkenan, atau mungkin ada yang merasa tersindir dengan bahasan tetangga tadi, ya itu namanya pengingat! Terima kasih atas segala jamuan dan sambutannya. Semoga kita semua dikumpulkan bersama Nabi Muhammad SAW di surga-Nya kelak.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →