Logo Kangsantri AI

Cahaya Cinta Sang Nabi

Ceramah
W
Waryono
26 Agustus 2026 4 menit baca 45 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَا...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.

Ibu-ibu yang saya muliakan, yang dirahmati Allah SWT. Pertama-tama, mari kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah yang telah mengumpulkan kita di majelis yang penuh berkah ini. Tak lupa, shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada kekasih Allah, Nabi Muhammad SAW.

Terima kasih saya ucapkan kepada para alim ulama, tokoh masyarakat, pengurus majelis taklim, dan tentu saja, ibu-ibu sekalian yang telah meluangkan waktu, meninggalkan kesibukan rumah tangga, hanya untuk satu tujuan: menambah mahabbah kita kepada Baginda Rasulullah.

Ibu-ibu yang dirahmati Allah, mari kita sejenak merenung. Seringkali kita sibuk mengurus dunia. Kita sibuk dengan dapur, dengan anak-anak, dengan suami, dengan segala perabotan yang kita sayangi. Namun, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri: Seberapa dalam kita mengenal sosok yang nantinya akan memberikan syafaat bagi kita di hari yang tak ada pertolongan selain pertolongan beliau?

Rasulullah SAW itu, Ibu-ibu, bukan orang biasa. Beliau adalah sosok yang menangis untuk kita, jauh sebelum kita lahir. Ingatkah kita pada satu kisah saat beliau sedang shalat, beliau bersujud lama sekali. Beliau menangis sambil berkata, "Ummati, ummati" (Umatku, umatku). Beliau mengkhawatirkan nasib kita, Ibu-ibu. Beliau takut kita terjerumus ke dalam api neraka.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 6:

النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ
“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri.”

Ibu-ibu, jika anak kita sakit, hati kita hancur. Jika anak kita lapar, kita tidak bisa tidur. Tapi coba lihat Rasulullah. Beliau menahan lapar berhari-hari demi agar umatnya bisa makan. Beliau dilempari batu, dicaci maki, dihina, bahkan diusir dari tanah kelahirannya, hanya agar Islam bisa sampai ke tangan kita saat ini. Kita bisa mengenal Allah, bisa shalat, bisa menutup aurat seperti ini, itu semua berkat tetesan keringat dan darah beliau.

Pernahkah kita membayangkan saat beliau menjelang wafat? Beliau tidak memikirkan harta, beliau tidak memikirkan keluarga besarnya. Beliau hanya berbisik kepada Malaikat Jibril, "Bagaimana nasib umatku nanti?" Wahai para ibu yang shalihah, bayangkan kasih sayang yang begitu agung ini. Beliau lebih mencintai kita daripada dirinya sendiri, sementara kita? Kadang menyebut nama beliau saja kita lalai, bershalawat saja kita berat lidahnya.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ وَهُوَ رَاضٍ عَنْهُ فَلْيُحِبَّ نَبِيَّهُ
“Barangsiapa yang ingin bertemu Allah dalam keadaan Dia ridha kepadanya, maka hendaknya ia mencintai Nabinya.” (HR. Al-Bazzar).

Cinta itu bukan sekadar seremoni Maulid, Ibu-ibu. Cinta itu bukti. Apakah kita sudah mengikuti sunnahnya di rumah? Apakah kita sudah mendidik anak-anak kita dengan kasih sayang seperti Rasulullah? Atau justru kita sering membentak mereka? Apakah kita sudah meneladani kesabaran Siti Khadijah dan Siti Aisyah dalam mendukung perjuangan beliau?

Ingatlah, di padang mahsyar nanti, ketika semua orang lari dari saudaranya, ibunya, dan anaknya, hanya satu sosok yang berdiri di tepi telaga, menunggu kita. Beliau memanggil-manggil kita, "Umatku, kemarilah." Namun, banyak di antara umatnya yang dihalau oleh malaikat karena mereka tidak mengenal sunnah Rasulullah. Mereka tidak meneladani akhlak Rasulullah. Sungguh sedih, Ibu-ibu, jika kita termasuk di antara mereka yang ditolak oleh beliau karena kita tidak pantas disebut sebagai pengikutnya.

Mari, di bulan Maulid ini, kita perbaiki diri. Jadikan rumah kita seperti rumah Rasulullah yang penuh kasih sayang. Jika kita pernah lalai dalam ibadah, jika kita masih sering menggunjing orang lain, mari kita berjanji untuk berubah. Rasulullah tidak akan bangga dengan umat yang suka menyakiti orang lain. Beliau adalah rahmat bagi semesta alam. Jadilah ibu yang membawa rahmat bagi keluarga, bagi tetangga, dan bagi lingkungan kita.

Sebagai penutup, mari kita menundukkan kepala. Mohon ampun kepada Allah atas segala kelalaian kita dalam mencintai Rasul-Nya.

Ya Allah, ya Ghafur, ampunilah dosa kami. Kami malu, ya Allah. Kami mengaku cinta kepada Rasul-Mu, namun kami sering mengabaikan ajaran-Nya. Ya Allah, kumpulkanlah kami bersama Rasulullah di surga-Mu nanti. Jadikanlah hati kami mencintai-Nya lebih dari cinta kami kepada dunia ini.

Ibu-ibu sekalian, mohon maaf jika ada tutur kata saya yang menyinggung perasaan. Saya hanyalah hamba yang faqir ilmu, yang juga sedang berjuang untuk menjadi pengikut Rasulullah yang sejati. Mari kita tingkatkan shalawat setiap saat.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →