Logo Kangsantri AI

Cahaya Cinta Sang Nabi

Ceramah
A
Anwarudin
18 Agustus 2026 4 menit baca 8 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Yang saya hormati para alim ulama, para kiai, asatidz, dan asatidzah yang ilmunya senantiasa menjadi pelita di desa kita ini. Yang saya hormati Bapak Kepala Desa beserta jajaran perangkat desa, para tokoh masyarakat, dan yang paling spesial, seluruh bapak-bapak, ibu-ibu, dan adik-adik sekalian yang sudah hadir. Luar biasa, semangat bapak-ibu datang ke sini mengalahkan semangat kalau lagi ada pembagian BLT, ya? Bedanya, kalau di sini yang dibagikan adalah pahala, insya Allah cairnya langsung di surga!

Alhamdulillah, kita bisa berkumpul di majelis yang mulia ini dalam rangka merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Saya lihat wajah-wajah di sini sangat berseri-seri, mungkin karena sudah membayangkan berkat atau nasi kotak setelah acara ini selesai. Tidak apa-apa, niatnya makan, ujungnya dapat ilmu. Itu namanya barokah!

Bapak-Ibu yang dirahmati Allah, bicara soal Nabi Muhammad, kita ini umat yang sangat beruntung. Beliau itu manusia paling hebat, paling ganteng, paling bijak, tapi sangat sayang sama kita. Bahkan dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "وَدِدْتُ أَنِّي لَقِيتُ إِخْوَانِي" قَالُوا: أَوَلَسْنَا إِخْوَانَكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: "بَلْ أَنْتُمْ أَصْحَابِي، وَلَكِنْ إِخْوَانِي الَّذِينَ آمَنُوا بِي وَلَمْ يَرَوْنِي"
Artinya: "Dari Anas RA, Rasulullah SAW bersabda: 'Aku sangat rindu bertemu dengan saudara-saudaraku.' Para sahabat bertanya: 'Bukankah kami saudaramu wahai Rasulullah?' Beliau menjawab: 'Kalian adalah sahabatku, tetapi saudaraku adalah mereka yang beriman kepadaku padahal belum pernah melihatku'." (HR. Ahmad).

Bayangkan Bapak-Ibu, Nabi rindu sama kita! Padahal kita sering lupa sama Nabi. Disuruh shalat lima waktu saja kadang masih tawar-menawar sama setan. "Nanti sajalah, masih ada waktu," padahal waktu terus berjalan. Kalau sudah urusan dunia, kita semangatnya luar biasa. Mau hajatan, mau kondangan, dandan rapi, pakai baju terbaik. Tapi giliran mau menghadap Allah, kadang pakai sarung yang sudah bolong sedikit di bawah, atau mukena yang sudah agak kuning karena jarang dicuci. Padahal, Nabi saja memikirkan kita, masa kita menghadap Allah asal-asalan?

Meneladani Nabi itu tidak harus langsung jadi malaikat. Mulailah dari hal kecil. Nabi itu orangnya humoris, loh. Jangan kira Nabi itu setiap hari wajahnya kaku seperti bapak-bapak yang lagi nunggu giliran ditagih hutang. Pernah ada nenek-nenek datang ke Nabi, terus nanya, "Ya Rasulullah, apakah saya masuk surga?" Nabi menjawab dengan bercanda, "Nenek-nenek tidak ada yang masuk surga." Nenek itu nangis, eh ternyata Nabi tertawa dan menjelaskan maksudnya, "Di surga nanti, nenek-nenek tidak ada, yang ada adalah wanita muda yang cantik jelita."

Nah, jadi ibu-ibu jangan takut, nanti di surga semuanya jadi kinyis-kinyis lagi. Asal, selama di dunia ini jangan jadi "Nenek-nenek cerewet" yang hobinya ngomongin tetangga!

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Artinya: "Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur." (QS. Al-Qalam: 4).

Akhlak Nabi itu adalah Al-Qur'an. Beliau pemaaf sekali. Kita di desa ini, kadang masalah jemuran saja bisa jadi masalah kelurahan. Tetangga punya motor baru, kita yang tidak bisa tidur. Itu penyakit hati namanya. Nabi mengajari kita untuk rendah hati. Beliau tidak pernah sombong meskipun beliau pemimpin tertinggi. Kita ini, baru jadi ketua RT saja kadang jalannya sudah mulai miring-miring karena sombong. Jangan ya, Pak!

Mari kita jadikan peringatan Maulid ini sebagai momen "reparasi" iman. Ibarat motor, kalau sudah bunyi "tek-tek-tek" harus segera diservis. Iman kita juga begitu, kalau sudah mulai malas shalat, malas sedekah, itu tandanya perlu diservis dengan cara mendatangi majelis ilmu seperti ini.

Sederhananya, meneladani Nabi itu dengan tiga hal: Pertama, perbaiki shalat kita. Jangan shalat cuma saat ingat saja. Kedua, perbaiki hubungan dengan tetangga. Jangan pelit sama tetangga, karena tetangga adalah orang pertama yang menolong kita saat kita meninggal nanti. Ketiga, perbanyak shalawat. Orang yang sering bershalawat, dijamin hatinya lebih tenang dan wajahnya lebih bercahaya.

Sebagai penutup, mari kita simpulkan. Hidup di dunia ini cuma mampir minum. Jangan terlalu ngoyo cari harta sampai lupa akhirat. Ingat, kain kafan itu tidak ada sakunya. Apa yang kita bawa? Bukan uang, bukan emas, tapi amal saleh. Maka, cintailah Nabi dengan cara mengikuti sunnahnya, cintailah sesama karena Allah.

Mari kita berdoa bersama.
Ya Allah, berikanlah kami kekuatan untuk mencintai Nabi-Mu, Muhammad SAW. Jadikanlah hati kami lembut, jauhkan kami dari sifat sombong, iri, dan dengki. Ampunilah dosa-dosa kami, dosa orang tua kami, dan jadikanlah desa kami desa yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Berikan kami keturunan yang shalih dan shalihah.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Mohon maaf jika ada kata-kata saya yang kurang berkenan atau menyinggung perasaan Bapak-Ibu, terutama ibu-ibu yang merasa tersindir soal "gosip tetangga". Itu bukan untuk menyinggung, tapi untuk pengingat kita bersama. Terima kasih atas perhatiannya, semoga keberkahan senantiasa menyertai kita semua.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →