Logo Kangsantri AI

Cahaya Sang Pembawa Rahmat

Ceramah
M
Muhtarom
28 Juni 2026 6 menit baca 22 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: ﴿لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ﴾ [التوبة: 128].

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.

Hadirin wal hadirot, Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudari sekalian yang dirahmati Allah SWT. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah mempertemukan kita di majelis yang mulia ini, dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Shalawat beriring salam kita hadiahkan kepada junjungan kita, Nabi besar Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Terima kasih atas kehadiran Bapak Ibu sekalian. Senang sekali saya bisa berkumpul di sini, di desa yang penuh berkah ini. Kalau di kota, kadang kalau ada acara begini, yang datang yang itu-itu saja, yang punya kepentingan. Nah, kalau di desa ini, Subhanallah, luar biasa. Semangatnya memang beda. Kayaknya di sini kalau ada yang nggak datang, nanti dikira nggak tahu kabar, padahal acaranya sudah diumumkan dari jauh-jauh hari di grup WhatsApp RT. Nah, kalau di desa kan grup WhatsApp RT itu isinya kadang bukan cuma pengumuman, tapi juga resep sambal terasi terenak sedunia, ya kan?

Hari ini kita berkumpul untuk merayakan kelahiran sosok manusia pilihan, teladan kita, kekasih Allah SWT, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memperingati Maulid ini bukan sekadar acara seremonial, Bapak Ibu. Ini adalah kesempatan kita untuk lebih mengenal, mencintai, dan meneladani beliau.

Kita sering dengar tentang keagungan Nabi Muhammad SAW. Tapi, kadang kita bingung, bagaimana sih cara meneladani beliau? Kan beliau itu manusia super, punya mukjizat, nggak pernah salah. Nah, ini yang sering jadi 'misi mustahil' buat sebagian kita. Kayak disuruh belajar bahasa Mandarin dalam semalam, sudah gitu, besoknya langsung diajak speaking test sama orang Beijing.

Nabi Muhammad SAW itu diutus kepada kita sebagai rahmatan lil 'alamin, rahmat bagi seluruh alam. Beliau itu luar biasa sabarnya, penyayang, lembut. Coba bayangkan, beliau pernah dilempar batu sampai berdarah, tapi apa yang beliau ucapkan? "Ya Allah, ampuni kaumku, sesungguhnya mereka tidak tahu." Wah, kalau kita kadang dilempar botol aqua bekas sama anak tetangga pas lagi ngopi, langsung ngomel-ngomel kan? “Baru juga sebentar ngopi, sudah ada saja yang bikin emosi!”

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat At-Taubah ayat 128:

﴿لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ﴾
Artinya: "Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, terasa berat baginya apa yang menimpamu, sangat menginginkan (kebaikan) bagimu, serta amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin."

Nah, di sini Allah sendiri yang menyebutkan bahwa Rasulullah itu 'min anfusikum', dari kalangan kita sendiri. Beliau makan, minum, tidur, ya kayak kita. Tidak ada jarak. Tapi, beliau punya keistimewaan dalam hal kepedulian. Lihat saja bagaimana beliau begitu peduli dengan urusan umatnya, sampai-sampai di akhir hayatnya pun beliau masih memikirkan kita. Ini bukan sekadar perhatian biasa, tapi perhatian yang luar biasa tulus. Coba kalau kita lagi sakit, yang paling kita cari siapa? Ya Rasulullah, eh, maksudnya ke dokter dong, tapi kalau kita dapat ujian hidup yang berat, yang paling kita ingat memang tuntunan Rasulullah.

Kalau mau meneladani beliau, kita bisa mulai dari hal-hal kecil. Beliau itu terkenal ramah. Setiap bertemu orang, beliau selalu tersenyum. Nah, ini gratis, Bapak Ibu, senyum itu ibadah. Daripada cemberut melulu, nanti keriputnya cepat banyak, dipikir orang kayak lagi mikirin cicilan motor. Coba praktikkan senyum. Kalau ketemu tetangga, senyum. Kalau ketemu penjual sayur, senyum. Kalau ketemu kucing yang lagi nyebrang jalan, senyum juga boleh, biar kucingnya nggak kaget.

Terus, beliau itu jujur. Sebelum jadi Nabi pun sudah terkenal Al-Amin, yang bisa dipercaya. Nah, kita juga harus berusaha jujur. Kalau jualan, bilang apa adanya. Kalau janji, tepati. Jangan sampai utang Rp 10.000, ditagih malah bilang, "Wah, lupa, Mas. Gimana kalau kita bayar pakai saham, tapi sahamnya belum listing. Gimana?" Kan nggak lucu.

Satu lagi, beliau tawadhu'. Sederhana. Padahal sudah nabi, tapi beliau tidak sombong. Kalau diundang makan, beliau mau saja makan di mana saja. Kalau ada orang miskin datang minta-minta, beliau tidak pernah menghindar. Beliau selalu siap membantu. Nah, kita bisa meniru kesederhanaan beliau. Tidak perlu pamer harta, tidak perlu gaya-gayaan yang malah membebani diri. Ingat, Bapak Ibu, dunia ini titipan, nanti juga kembali ke Allah. Kayak punya mainan baru, sebentar saja seru, nanti bosan, terus ditaruh di gudang.

Kisah sahabat beliau, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pernah bercerita tentang kesabaran dan kelembutan Rasulullah SAW. Beliau pernah berkata, “Aku melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun, dan demi Allah, beliau tidak pernah berkata kepadaku ‘ah’ (ucapan kekesalan) dan tidak pernah bertanya kepadaku tentang sesuatu, ‘mengapa engkau melakukan ini?’ atau ‘kenapa engkau tidak melakukan itu?’” (HR. Bukhari & Muslim)

Coba bayangkan, Bapak Ibu. Sepuluh tahun melayani, tidak pernah dimarahi, tidak pernah dikritik pedas. Kalau kita jadi ART di rumah, baru seminggu dibelikan HP Android, dua hari kemudian layarnya retak, wah, siap-siap saja disurpeeeiii...k. Ini Nabi kita, luar biasa sabarnya. Beliau mengajarkan kita untuk bersabar, untuk berlemah lembut, terutama kepada orang-orang di sekitar kita. Kepada istri, kepada anak, kepada orang tua, kepada tetangga.

Mari kita renungkan, bagaimana kehidupan kita? Apakah kita sudah benar-benar mencintai Rasulullah SAW? Bukti cinta kita bukan hanya dengan memperingati Maulid setiap tahunnya, tapi dengan mengimplementasikan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana shalat kita? Bagaimana akhlak kita? Bagaimana interaksi kita dengan sesama?

Nabi Muhammad SAW memberi kita contoh terbaik dalam segala hal. Dari cara beliau berbisnis, berumah tangga, mendidik anak, hingga cara beliau menghadapi musuh. Semuanya adalah pelajaran berharga.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
"Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai olehnya daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia." (HR. Muslim)

Nah, ini tantangan buat kita. Apakah kita sudah benar-benar mencintai Nabi melebihi cinta kita pada diri sendiri, keluarga, harta benda? Kalau sudah begini cintanya, otomatis kita akan tergerak untuk mengikuti sunnahnya, mencontoh akhlaknya.

Jadi, Bapak Ibu sekalian, di Maulid Nabi ini, mari kita jadikan momen ini sebagai intropeksi. Apakah kita sudah benar-benar mengikuti jejak langkah beliau? Apakah kita sudah meneladani akhlak mulia beliau?
Mari kita perbaiki ibadah kita, perbaiki akhlak kita, perbaiki interaksi kita dengan sesama. Jadikan junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, sebagai inspirasi utama dalam setiap langkah kehidupan kita.
Jangan sampai kita mengaku cinta Nabi, tapi perilakunya malah jauh dari ajaran Nabi. Misalnya, suka nyinyir di media sosial, ngata-ngatain orang, tapi pas ditanya, "Kok gitu, Pak/Bu?" Jawabnya, "Ah, itu kan namanya hiburan." Padahal itu bukan hiburan, itu adu domba online.

Mari kita jadikan Maulid Nabi ini sebagai momentum untuk membangkitkan kembali semangat kita dalam mencintai Allah dan Rasul-Nya. Mari kita mulai dari hal yang paling mudah: tersenyum, berkata baik, saling menolong, dan menjaga lisan. Kalau kita bisa melakukan itu semua, insya Allah, kita akan menjadi umat yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Aamiin.

Baik, Bapak Ibu sekalian, mungkin itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini. Intinya, mari kita jadikan Nabi Muhammad SAW sebagai "idol" kita, tapi idol yang benar-benar kita ikuti, bukan cuma difoto lalu dipajang.

Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada salah kata, khilaf perilaku, atau kekurangan dalam penyampaian. Ini semua datang dari saya, dan kebaikan datangnya murni dari Allah SWT.

Marilah kita akhiri majelis ini dengan berdoa.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →