Logo Kangsantri AI

Cahaya Turots Maulid Nabi

Ceramah
H
Hadits Bahri Official
18 Agustus 2026 3 menit baca 20 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. لَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.

Hadirin wal hadirat, Bapak, Ibu, serta saudara-saudari sekalian yang dirahmati Allah.

Pertama-tama, mari kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat-Nya kita bisa berkumpul di majelis yang mulia ini dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Agung Muhammad SAW, yang syafaatnya kita nantikan di yaumul qiyamah kelak.

Yang saya hormati para sesepuh, alim ulama, tokoh masyarakat, dan seluruh jamaah yang telah meluangkan waktu dengan ikhlas untuk hadir di tempat ini. Kehadiran Bapak dan Ibu sekalian adalah bukti cinta kepada Baginda Nabi, sekaligus ikhtiar kita untuk menuntut ilmu.

Bapak dan Ibu yang dimuliakan Allah, seringkali kita mendengar Maulid Nabi dirayakan dengan lantunan shalawat dan zikir. Namun, tahukah kita bahwa para ulama terdahulu menuliskan kisah-kisah Nabi dalam kitab-kitab turots yang sangat mendalam? Mari kita tengok sejenak isi kitab Asy-Syama’il al-Muhammadiyah karya Imam At-Tirmidzi. Di sana dijelaskan secara detail bagaimana fisik, perilaku, hingga kebiasaan Rasulullah SAW.

Mengapa kita harus merujuk pada kitab-kitab ulama salaf (klasik)? Sebab, mereka adalah pewaris ilmu yang sanadnya bersambung langsung hingga kepada Rasulullah. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (QS. Al-Hasyr: 7).

Dalam kitab turots lain, yakni Ad-Diba’i atau Al-Barzanji, kita diingatkan bahwa Rasulullah adalah sosok yang sangat memuliakan tetangga dan menjaga silaturahmi. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya." (HR. Bukhari & Muslim).

Pesan ini sangat relevan dengan kehidupan kita di desa. Kehidupan desa yang erat dengan gotong-royong dan kekeluargaan adalah cerminan dari akhlak Nabi. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari harta, melainkan dari sejauh mana ia meneladani sifat Rasulullah dalam berinteraksi dengan sesama.

Maulid bukan sekadar seremonial. Maulid adalah momen "pengisian ulang" iman kita. Jika dulu kita mungkin abai pada tetangga yang susah, setelah maulid ini, mari kita lebih peduli. Jika dulu kita jarang membuka mushaf atau kitab-kitab ilmu, mari kita mulai kembali meluangkan waktu untuk belajar. Ulama mu'tabar mengatakan:

العِلْمُ بِلَا عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلَا ثَمَرٍ

"Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah."

Mari kita bawa pulang semangat Maulid ini ke rumah kita masing-masing. Jadikan rumah kita bercahaya dengan shalawat, jadikan lisan kita basah dengan zikir, dan jadikan akhlak kita lembut sebagaimana akhlak Nabi. Sederhana, namun bernilai besar di sisi Allah.

Sebagai penutup, mari kita berdoa. Ya Allah, jadikanlah peringatan Maulid ini sebagai wasilah untuk kami mendapatkan syafaat Rasulullah SAW. Berikanlah kami kekuatan untuk meneladani akhlak beliau, baik dalam rumah tangga maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Ampunilah dosa-dosa kami, orang tua kami, dan guru-guru kami. Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, waqina 'adzaban-nar.

Saya mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan di hati Bapak dan Ibu sekalian. Semoga Allah senantiasa membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →