اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ. لَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Bapak-bapak yang saya hormati, terutama Bapak Kepala Desa yang wajahnya sudah berseri-seri, mungkin karena baru gajian atau memang bahagia melihat warganya berkumpul. Yang saya hormati para kiai, asatidz, dan asatidzah yang ilmunya luas seluas samudra, serta tentu saja bapak-bapak, ibu-ibu, dan adik-adik warga desa yang saya cintai. Masya Allah, melihat bapak ibu sekalian duduk rapi di sini, saya jadi teringat masa kecil, rasanya seperti menunggu pembagian sembako, tapi tenang, hari ini yang kita bagi adalah "sembako ruhani" yang insya Allah lebih awet daripada minyak goreng.
Bagaimana kabarnya Bapak-Ibu? Sehat? Alhamdulillah. Syukur kita kepada Allah, karena kalau bukan karena izin-Nya, mungkin bapak-bapak di sini lebih milih tidur siang daripada dengerin saya ceramah. Terima kasih sudah meluangkan waktu di tengah kesibukan memanen padi atau merawat ternak. Hari ini, kita akan bicara tentang "Membumikan Akhlak Rasulullah di Zaman Sekarang".
Zaman sekarang ini zaman edan, Ibu-ibu. HP lebih diperhatikan daripada suami sendiri. Kalau suami ngomong, istri asyik scroll TikTok, kalau istri masak, suami asyik lihat Facebook. Padahal, Rasulullah SAW itu adalah role model paling top. Kalau beliau hidup di zaman sekarang, mungkin beliau sudah jadi orang paling santun di grup WhatsApp keluarga, tidak suka menyebar hoaks, dan selalu membalas pesan dengan senyuman.
Allah SWT berfirman: Wa innaka la'ala khuluqin azhim (Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung). Akhlak Rasulullah itu bukan teori, tapi praktik. Beliau tidak pernah kasar, apalagi kalau cuma masalah harga pupuk yang naik atau masalah tetangga yang ayamnya masuk halaman rumah orang. Dalam hadis disebutkan: Innama bu'itstu li-utammima makarimal akhlaq (Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak).
Bayangkan, Rasulullah itu kalau dihina orang, beliau malah mendoakan. Lha kita? Baru diklakson sedikit di jalan saja, langsung keluar semua "kebun binatang" dari mulut kita. Itu tandanya kita belum membumikan akhlak Nabi, baru membumikan emosi. Akhlak Nabi itu membumi, artinya praktis. Contoh kecil: kalau tetangga sebelah rumah sedang kesulitan, apa yang kita lakukan? Apa kita malah membanding-bandingkan penderitaan kita dengan mereka? "Ah, masih mending Bapak, saya malah lebih susah," wah itu namanya curhat, bukan akhlak.
Rasulullah SAW bersabda: Man kaana yu'minu billahi wal yaumil akhiri fal-yukrim jaarahu (Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya). Jadi, kalau mau tahu kita ini beriman atau tidak, jangan tanya ke dukun atau lihat ramalan bintang. Lihat saja, tetangga sebelah rumah itu senang atau malah takut kalau kita datang. Kalau tetangga takut setiap kita lewat, wah itu berarti akhlak kita perlu "diservis" ke bengkel rohani.
Di kehidupan modern ini, kita sering terjebak gaya hidup "pencitraan". Punya HP bagus tapi pelit sedekah. Punya motor keren tapi tidak pernah ke masjid. Padahal Rasulullah itu orang paling sederhana tapi paling dermawan. Beliau tidak punya koleksi baju bermerek, tapi hatinya punya koleksi kasih sayang untuk semua orang. Kita harus meneladani beliau. Mulailah dari rumah. Senyum kepada istri itu ibadah, senyum kepada suami itu juga ibadah, kecuali kalau senyumnya ke istri orang lain, itu namanya musibah.
Imam Hasan al-Bashri pernah berkata: Laisa al-iman bittatammi wa la bit-tahalli, wa lakin ma waqara fil qalbi wa shaddaqahu al-'amal (Iman itu bukan sekadar angan-angan atau penampilan, tapi apa yang menetap di hati dan dibuktikan dengan amal). Jadi, membumikan akhlak itu bukan dengan gaya bicara yang sok puitis, tapi dengan perilaku sehari-hari. Jujur saat berjualan, tidak menggunjing di pos ronda, dan saling membantu tanpa mengharap imbalan.
Bapak-Ibu yang saya muliakan, mari kita simpulkan. Akhlak Rasulullah itu sederhana: jujur, penyayang, pemaaf, dan ringan tangan. Jangan sampai teknologi membuat kita jauh dari akhlak. Gunakan HP untuk hal yang manfaat, gunakan mulut untuk bicara yang baik, dan gunakan hati untuk selalu berhusnuzan kepada sesama.
Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk meneladani akhlak Baginda Nabi Muhammad SAW dalam setiap langkah hidup kita. Semoga desa kita ini menjadi desa yang penuh berkah, warganya saling menyayangi, dan nantinya kita semua bisa berkumpul dengan Rasulullah di surga-Nya.
Mari kita berdoa bersama. Ya Allah, bimbinglah kami untuk meneladani akhlak Rasul-Mu. Jadikan kami pribadi yang santun, sabar, dan dermawan. Ampunilah dosa kami, dosa orang tua kami, dan jadikanlah keluarga kami keluarga yang sakinah. Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, waqina adzabannar.
Mohon maaf lahir dan batin jika ada kata-kata saya yang kurang berkenan, atau mungkin ada yang merasa tersindir, ya tidak apa-apa, itu tandanya pengajiannya kena sasaran. Terima kasih atas segala perhatiannya.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ