اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Yang saya hormati para alim ulama, ustaz dan ustazah yang selalu membimbing kita di jalan yang benar, wabil khusus kepada Ibu Ketua Majelis Taklim kita yang luar biasa sabarnya menghadapi jamaah yang kalau pengajian malah arisan, serta seluruh ibu-ibu jamaah pengajian yang cantik-cantik, cerdas, dan insya Allah ahli surga semua. Amin!
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT. Senang sekali rasanya melihat wajah-wajah ibu-ibu sekalian yang sudah dandan cantik, pakai baju seragam yang warnanya kompak sekali, meskipun saya lihat tadi ada yang sedikit "tegang" karena takut kuenya habis duluan sebelum ceramah selesai. Alhamdulillah, kita bisa berkumpul di majelis ilmu yang penuh berkah ini dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Ibu-ibu sekalian, kenapa kita harus merayakan Maulid Nabi? Jawabannya jelas, karena kita rindu. Tapi rindu yang bagaimana? Bukan rindu seperti anak muda zaman sekarang yang galau karena pesan WhatsApp tidak dibalas. Kita rindu karena Rasulullah SAW adalah sosok yang paling mencintai kita, jauh sebelum kita lahir. Beliau bahkan sempat menangis memikirkan kita, "Ummati, ummati..." (umatku, umatku). Padahal, kalau Rasulullah melihat kelakuan sebagian umatnya sekarang yang lebih sibuk scrolling media sosial daripada baca Al-Qur'an, mungkin beliau akan geleng-geleng kepala sambil senyum manis.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 21:
Jadi, kalau ibu-ibu mau meniru Rasulullah, jangan cuma tiru "sunnah" yang enak-enak saja seperti makan pakai tangan kanan. Tiru juga akhlak beliau. Rasulullah itu sabarnya luar biasa. Kalau ibu-ibu di rumah, suami pulang kerja telat sedikit, mungkin sudah keluar "nada tinggi". Kalau Rasulullah? Beliau sangat lembut. Hadits riwayat Bukhari menyebutkan:
Nah, pertanyaannya, sudahkah kita meneladani sifat beliau dalam rumah tangga? Atau jangan-jangan, saat suami minta kopi, jawabannya malah "Ambil sendiri sana, aku lagi sibuk!" Padahal, Rasulullah saja kalau di rumah suka membantu pekerjaan istrinya, seperti menjahit baju yang sobek. Ibu-ibu di sini ada yang mau menjahitkan baju suaminya? Atau malah suaminya yang disuruh menjahit baju ibu?
Rasulullah SAW adalah teladan dalam segala hal. Beliau adalah sosok yang sangat menghargai waktu. Kita sebagai ibu-ibu sering terjebak dalam "dunia per-gosip-an" kalau lagi kumpul. Ingat ya Bu, waktu itu sangat berharga. Sayyidul Ulama mengatakan dalam kitabnya:
Mari di momen Maulid ini, kita perbaiki hubungan kita dengan Allah dan sesama. Jangan jadi ibu-ibu yang cuma bisa "tahu ilmu" tapi tidak "amal". Ilmu itu seperti pohon, kalau tidak berbuah (amal), ya kering. Jangan sampai nanti di akhirat, kita berebut masuk surga, tapi ternyata kita cuma sibuk mengomentari hidup orang lain di dunia. Rasulullah SAW sudah memberi contoh, beliau pemaaf, beliau dermawan, beliau penyayang. Mari kita bawa pulang "oleh-oleh" dari pengajian ini: satu sifat Rasulullah yang akan kita terapkan mulai besok pagi. Misalnya, mulai besok kalau suami salah, kita tarik napas dalam-dalam, senyum, lalu bilang dengan lembut, "Mas, besok lagi jangan gitu ya," bukan malah lempar piring!
Sebagai penutup, mari kita tingkatkan shalawat. Jangan pelit shalawat, karena Rasulullah sudah janji akan memberikan syafaat bagi yang rajin bershalawat. Semoga kita semua kelak diakui sebagai umat beliau dan bisa berkumpul di surga-Nya. Mohon maaf jika ada kata-kata saya yang kurang berkenan atau membuat ibu-ibu tersinggung, apalagi yang merasa tertohok karena memang "kena banget". Saya manusia biasa yang banyak salah, kalau benar itu datangnya dari Allah, kalau salah itu murni karena kekhilafan saya.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. يَا رَبِّ، اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُومًا، وَتَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُومًا. يَا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Terima kasih atas perhatiannya, ibu-ibu sudah sangat cantik dan sabar mendengarkan saya. Sampai bertemu lagi di pengajian berikutnya, semoga kita semua tetap istiqomah.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ