اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Ibu-ibu yang dimuliakan Allah, yang hatinya senantiasa rindu akan surga-Nya. Mari kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang dengan kelembutan-Nya masih meminjamkan napas kepada kita, masih memberi kita nikmat untuk duduk bersimpuh di majelis ilmu yang barakah ini. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita, cahaya kehidupan kita, Nabi Muhammad SAW. Semoga kita kelak dikumpulkan bersama beliau di telaga Al-Kautsar.
Hadirin yang saya sayangi, izinkan saya menyapa ibu-ibu semua. Yang saya hormati para sesepuh, tokoh agama, Ibu Ketua Pengajian, dan seluruh ibu-ibu jamaah yang tak kenal lelah melangkahkan kaki demi mencari ridha Ilahi. Kehadiran ibu di sini adalah bukti bahwa Allah masih menginginkan kebaikan bagi diri ibu.
Jemaah sekalian, mari kita menatap hati kita sejenak. Di era digital ini, mata kita dipaksa melihat apa yang bukan hak kita. Jari-jemari kita sering kali lebih cepat menghakimi orang lain daripada memohon ampun kepada Allah. Pernahkah kita merasa hampa di tengah ramainya komentar di media sosial? Pernahkah kita merasa lelah membandingkan kehidupan kita dengan orang lain yang nampak berkilau di layar ponsel, hingga kita lupa bersyukur atas nikmat sederhana yang Allah titipkan di rumah kita? Kita sering merasa "dilihat" oleh ribuan follower, namun kita lupa bahwa ada Allah yang Maha Melihat, yang setiap detiknya menatap hati kita, bahkan saat kita sendirian dalam gelap kamar.
Allah berfirman dalam surat Qaf ayat 16:
Bayangkan, Ibu. Kita sering merasa kesepian, merasa tidak ada yang paham dengan jerih payah kita sebagai istri, sebagai ibu. Kita menangis dalam diam setelah lelah mengurus rumah tangga. Namun, ingatlah, Allah Maha Al-Bashir (Maha Melihat). Dia melihat air mata yang jatuh tanpa suara itu. Dia melihat lelah yang Ibu sembunyikan di balik senyum saat melayani suami dan anak-anak. Jika dunia tidak menghargai pengabdian Ibu, cukuplah Allah yang memberi nilai.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
Maka, mari kita tata hati ini. Saat era digital ini menggoda kita untuk pamer (riya'), ingatlah sifat Allah Al-Ghani (Maha Kaya). Kita tidak butuh pujian manusia, karena pujian mereka tidak akan menambah derajat kita di sisi Allah. Sebaliknya, saat kita merasa hina karena ujian hidup, ingatlah sifat Allah Al-Aziz (Maha Perkasa). Dia mampu mengubah keadaan kita dalam sekejap.
Ibu-ibu yang saya cintai karena Allah, mari kita berkaca. Berapa kali kita membuka Al-Qur'an hari ini, dibandingkan dengan berapa kali kita membuka aplikasi media sosial? Kita sering merasa cemas jika handphone tertinggal, tetapi kita sering tenang-tenang saja saat terlambat menunaikan shalat. Kita takut dianggap ketinggalan zaman, tapi apakah kita takut jika hati kita terasing dari Allah?
Sifat Allah Al-Karim, Maha Mulia, senantiasa membuka pintu taubat meski seberapa jauh kita telah melangkah dalam kelalaian. Jangan biarkan hati kita menjadi 'digital' yang mati dan hambar. Kembalikan hati ini agar hidup dengan mengingat sifat-sifat Allah. Jika kita mulai merasa marah atau kesal ketika melihat postingan orang lain, bacalah As-Salam (Maha Memberi Keselamatan). Mintalah kedamaian hati kepada-Nya. Jika kita merasa sedih dengan kurangnya berkat, ingatlah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki). Mintalah rasa cukup di hati kita.
Dahulu, para shalihin menangis di sepertiga malam bukan karena mereka kehilangan ponsel, bukan karena mereka tidak dikenal orang, tapi mereka menangis karena takut hatinya menjauh dari Allah. Saya teringat kisah seorang ibu, setiap malam ia membisikkan doa di telinga anaknya yang sedang tidur, "Ya Allah, jangan biarkan gadget ini menjauhkan anakku dari surga-Mu, sebagaimana ia telah menjauhkannya dariku." Penuh haru, bukan? Betapa berat perjuangan kita hari ini.
Ibu-ibu yang dikasihi Allah, marilah kita tutup pintu-pintu kemaksiatan hati. Mulailah bermuhasabah. Setiap like, comment, dan postingan kita nanti akan ditanya oleh Allah. Jadikanlah jari jemari kita saksi di akhirat nanti, bukan saksi yang memberatkan. Mari perbaiki akidah, perkuat tauhid, agar hati kita terjaga di tengah badai informasi. Jika kita kehilangan dunia, kita masih punya Allah. Tapi jika kita kehilangan Allah dalam hati kita, apa lagi yang tersisa?
Sebagai penutup, mari kita menundukkan kepala. Mohon ampun atas segala kelalaian kita. Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui rahasia hati kami. Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami dalam agama-Mu. Jadikanlah media yang kami gunakan sebagai jalan menuju ridha-Mu, bukan jalan yang menjauhkan kami dari surga-Mu. Ampunilah dosa-dosa kami, dosa suami kami, dan anak-anak kami. Jadikanlah keluarga kami keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah yang kelak Engkau kumpulkan di Jannah-Mu yang abadi.
Terima kasih atas segala perhatian Ibu. Saya hanyalah hamba yang fakir ilmu, jika ada kata yang salah, itu datang dari kedangkalan diri saya sendiri, dan jika ada kebenaran, itu datang dari petunjuk Allah. Mohon maaf atas segala kekurangan. Semoga Allah pertemukan kita di majelis ilmu berikutnya dalam keadaan iman yang lebih baik.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ