اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Yang terhormat para alim ulama, para kiai, asatidz, dan asatidzah, wabil khusus kepada jajaran pengurus masjid/panitia acaranya, serta yang saya cintai, ibu-ibu rempong yang kalau belum kumpul belum afdol, bapak-bapak yang sudah manggut-manggut padahal tadi malam begadang nonton bola, dan seluruh hadirin sekalian yang insya Allah dirahmati Allah.
Alhamdulillah, kita bisa berkumpul di sini. Saya lihat wajah-wajah di sini masih cerah, ya. Mungkin karena sudah sarapan, atau karena tadi di jalan tidak macet? Kalau di tempat saya, ujian zaman itu nyata sekali: niatnya mau ke kajian, tapi pas di perempatan malah belok ke warung nasi goreng. Ya, itu namanya godaan, Pak.
Hadirin, kita ini hidup di zaman yang serba ujian. Zaman di mana gosip di grup WhatsApp lebih cepat viral daripada ayat Kursi. Ujian zaman sekarang itu unik. Dulu ujiannya mungkin fisik, sekarang ujiannya digital. Jempol kita lebih tajam daripada silet. Tapi, di tengah dunia yang makin "panas" ini, Islam mengajarkan kita untuk jadi "pendingin". Kita dipanggil untuk terus menebar kebaikan.
Allah SWT berfirman:
Ada hadits nabi yang menjelaskan ini,
Jadi, kalau Bapak/Ibu manfaatnya cuma buat diri sendiri, apalagi cuma buat kucing peliharaan, ya tingkatannya masih standar banget. Ayo, jadi orang bermanfaat! Jangan jadi orang yang cuma bawa sial. Misalnya, pas ada kerja bakti, eh malah pura-pura sakit encok. Itu mah bukan ujian zaman, itu ujian kemalasan namanya!
Menebar kebaikan itu tidak harus nunggu kaya sampai punya jet pribadi. Senyum saja sudah sedekah. Tapi ya jangan senyum-senyum sendiri di tengah jalan, nanti disangka kurang waras sama tetangga. Intinya, dalam hidup ini, kita harus berusaha memberikan yang terbaik. Ujian zaman itu datang supaya kita semakin "matang" seperti ubi rebus. Kalau tidak ditekan, tidak dikukus, ya tidak bisa dimakan.
Ulama besar, Imam Hasan Al-Bashri pernah berkata:
Nah, jangan sampai kita jadi sebaliknya. Jadi kunci keburukan, yang kalau ada gosip, kita yang pertama kali menyebarkan. "Eh, dengar-dengar si Anu begini lho..." Wah, Ibu-ibu, hati-hati! Itu jempolnya dikontrol, jangan sampai jadi kunci neraka.
Kesimpulannya, menebar kebaikan di tengah ujian zaman itu dimulai dari hal kecil: niat yang bersih, tangan yang ringan membantu, dan mulut yang lebih sering membaca shalawat daripada membicarakan urusan orang lain. Kalau kita sudah terbiasa menebar manfaat, insya Allah, ujian apa pun yang datang ke zaman ini, kita akan tetap tenang karena kita berada dalam perlindungan Allah.
Saya mohon maaf jika ada kata-kata yang menyinggung, terutama buat yang merasa tertohok dengan bahasan "jempol" tadi. Terima kasih atas perhatiannya. Semoga kita semua dikumpulkan di surga-Nya nanti, kalau bisa sih masuknya berombongan biar tidak kesepian.
Mari kita tutup dengan doa. Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang menebar manfaat, lindungilah kami dari segala fitnah zaman, dan mampukan kami untuk tetap istiqamah dalam kebaikan.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ