اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Bapak-bapak yang saya hormati, terutama para sesepuh, tokoh masyarakat yang selalu jadi panutan, para alim ulama dan kiai yang ilmunya luas bak samudera—tapi kalau ditanya kapan bagi-bagi amplop saya bingung jawabnya—serta Ibu-ibu yang paling semangat kalau sudah dengar ada pengajian, terima kasih sudah menyempatkan hadir. Bapak-bapak, tolong ya, itu yang di belakang kalau mau ngantuk, disenderkan saja kepalanya ke tiang, jangan sampai jatuh nanti pas bangun sudah ganti khatib.
Hari ini kita bicara soal meneladani Rasulullah. Jangan dibayangkan berat dulu. Kita teladani Rasulullah dari yang gampang-gampang saja. Rasulullah itu orangnya santun, humoris, dan tidak baperan. Kalau kita di desa, kadang perkara jemuran saja bisa jadi perang dunia ke-3. Padahal Rasulullah ﷺ kalau diganggu orang, beliau malah mendoakan.
Allah SWT berfirman:
Bapak-bapak, meneladani Rasulullah itu artinya meniru cara hidup beliau. Rasulullah itu kalau makan tidak pernah mencela makanan. Kalau di desa kita, wah, kalau sayur kurang asin, istri langsung kena "sidang pleno". Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
Coba bayangkan kalau bapak-bapak praktekkan ini, rumah tangga adem ayem. Istri masak sambal terasi keasinan, bapak tinggal bilang, "Alhamdulillah, mah, ini asinnya bikin saya semangat cari nafkah." Istri pasti senang, bapak selamat, semua bahagia.
Rasulullah itu juga sangat sayang pada tetangga. Beliau bersabda:
Jangan sampai kita di desa ini, tetangga punya mobil baru, kita malah jadi "detektif swasta". "Eh, itu dapat duit dari mana ya? Jangan-jangan piara tuyul." Lah, meneladani Rasulullah itu harusnya kita senang kalau tetangga senang. Kalau tetangga dapat rezeki, kita syukuri, syukur-syukur diajak makan bareng.
Sahabat sekalian, meneladani Rasulullah itu juga soal kesabaran. Ada kisah, Rasulullah didatangi orang Arab Badui yang menarik serban beliau sampai leher beliau merah, sambil membentak minta gandum. Rasulullah tidak marah, malah tertawa dan menyuruh sahabat memberikan gandum. Kalau kita? Baru diklakson sedikit di jalan saja sudah turun dari motor, "Mau ke mana kamu?!". Jauh banget bedanya sama Rasulullah.
Intinya, meneladani beliau itu bukan cuma soal pakai baju gamis atau memanjangkan jenggot—meskipun itu sunnah bagus—tapi bagaimana akhlak kita itu "nyambung" sama beliau. Kita jujur dalam berdagang, tidak bohong kalau lagi rapat desa, dan rajin ibadah berjamaah di masjid.
Mari kita pulang dari majelis ini dengan tekad: kita perbaiki satu saja sunnah Rasulullah minggu ini. Mungkin mulai dari senyum lebih ramah ke tetangga, atau berhenti mencela makanan di rumah. Ingat, masuk surga itu bukan karena kita hebat, tapi karena rahmat Allah yang kita jemput dengan meneladani kekasih-Nya.
Sebagai ringkasan: Pertama, jadilah pemaaf seperti Rasulullah. Kedua, jadilah orang yang selalu bersyukur atas apa yang ada di depan mata. Ketiga, jadilah tetangga yang menyenangkan, bukan yang bikin orang lain curiga.
Mari kita berdoa agar kita semua diberi kekuatan untuk mengikuti jejak Baginda Nabi Muhammad ﷺ.
Ya Allah, jadikanlah kami umat yang mencintai Rasul-Mu, ikutilah langkahnya dalam ibadah, dan izinkan kami berkumpul dengannya di surga-Mu nanti. Ampuni dosa kami, dosa orang tua kami, dan bimbinglah desa kami menjadi masyarakat yang penuh berkah.
Terima kasih atas perhatiannya. Saya mohon maaf kalau ada candaan yang keterlaluan atau kata-kata yang menyinggung perasaan. Namanya juga manusia, kalau sempurna itu namanya kamera HP atau cicilan yang tidak pernah luput dari tagihan.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ