Logo Kangsantri AI

Teladan Cahaya Rasulullah

Ceramah
A
Ahmad Khoiri
23 Agustus 2026 4 menit baca 25 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ و...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. لَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Yang saya hormati para alim ulama, sesepuh desa yang ilmunya menjadi lentera bagi kita, Bapak Kiai, para asatidz dan asatidzah yang luar biasa istiqomah. Bapak Kepala Desa, tokoh masyarakat, dan yang paling saya cintai, Bapak-bapak, Ibu-ibu, serta adik-adik sekalian warga desa yang wajahnya berseri-seri, mungkin karena baru saja makan singkong rebus atau memang karena cahayanya iman.

Alhamdulillah, kita bisa berkumpul di majelis yang penuh berkah ini. Saya lihat Bapak-bapak di sini sepertinya lebih semangat dari biasanya, mungkin karena ada acara ceramah, atau jangan-jangan karena habis ini ada jamuan makan? Ah, tidak apa-apa, niat baik itu harus didukung dengan perut yang kenyang supaya mendengarnya lebih khusyuk. Terima kasih sudah menyempatkan hadir, meski tadi di jalan saya lihat ada yang masih sempat mampir ke warung kopi. Ingat Bapak-bapak, kopi itu memang nikmat, tapi janji kepada Allah dan Rasul-Nya lebih nikmat kalau kita tunaikan.

Tema kita hari ini adalah "Meneladani Rasulullah, Menerangi Setiap Langkah". Bapak dan Ibu sekalian, kalau kita bicara soal meneladani Nabi, jangan dibayangkan yang susah-susah dulu. Misalnya, "Wah, saya harus jadi nabi". Ya tidak bisa, Pak, nabi itu jabatan khusus. Maksudnya, meneladani akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari di desa kita tercinta ini.

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu." (QS. Al-Ahzab: 21).

Ada cerita lucu, dulu ada seorang sahabat yang saking semangatnya meniru Nabi, dia sampai lupa kalau istrinya butuh diperhatikan. Meneladani Nabi itu harus seimbang. Nabi Muhammad SAW itu kalau di rumah, beliau bantu istri. Beliau jahit baju sendiri, beliau perbaiki sandal sendiri. Nah, kalau Bapak-bapak di sini, coba dicek, kalau di rumah sandalnya putus, apakah diperbaiki sendiri atau langsung teriak, "Bu, jahitkan!"? Kalau masih teriak, berarti meneladani Nabi-nya baru sampai di mulut, belum sampai ke sandal.

Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya." (HR. Tirmidzi).

Jadi, meneladani Rasul itu simpel. Kalau lagi di sawah, jangan curang soal batas tanah. Kalau lagi jual hasil kebun di pasar, jangan dikurangi timbangannya. Nabi itu pedagang jujur, sampai-sampai gelar beliau 'Al-Amin' atau yang terpercaya. Kalau Bapak di pasar jual duku, jangan yang busuk ditaruh di bawah yang bagus ditaruh di atas. Itu namanya meneladani setan, bukan Nabi.

Ingat, setiap langkah kita harus diterangi. Kalau kita meneladani Nabi, hidup itu jadi tenang. Tidak perlu iri sama tetangga yang baru beli motor baru. Nabi saja meski beliau pemimpin besar, beliau sangat sederhana. Kalau kita sibuk pamer, kapan mau tenang? Hidup ini cuma mampir minum, jangan sampai kita repot memikirkan omongan orang sampai lupa menyiapkan bekal untuk akhirat.

Seringkali kita merasa sudah jadi orang sholeh hanya karena rajin sholat, tapi mulut masih sering "nyinyir" sama tetangga. Rasulullah itu tidak pernah mencela. Beliau kalau bicara, seperti mutiara, membuat orang yang mendengar merasa sejuk. Nah, ibu-ibu, kalau habis pulang dari majelis taklim, tolong ya, jangan langsung lanjut "konferensi meja makan" membicarakan keburukan orang. Kalau mau bicara, bicarakan resep masakan saja, itu lebih bermanfaat.

Meneladani Rasul itu adalah tentang memperbaiki diri. Mulai dari yang kecil. Senyum kepada tetangga, itu sedekah. Jangan pas ketemu tetangga wajahnya ditekuk kayak baju belum disetrika. Senyum itu ibadah yang paling murah, tidak perlu biaya, tidak perlu kuota internet, tapi pahalanya besar.

Singkat kata, mari kita jadikan hidup di desa ini sebagai cerminan akhlak Nabi. Kalau kita saling membantu, tidak saling menjatuhkan, dan menjaga kejujuran, insya Allah desa kita ini akan menjadi tempat yang penuh keberkahan. Jangan sampai kita menunggu sampai tua baru mau berubah. Karena malaikat maut tidak pernah bertanya, "Apakah Bapak sudah siap?"

Sebagai penutup, mari kita berjanji dalam hati: mulai besok, kita akan jadi pribadi yang sedikit lebih baik. Sedikit saja tidak apa-apa. Sedikit-sedikit kalau rutin, lama-lama jadi bukit.

Ya Allah, jadikanlah kami umat yang mampu meneladani Rasulullah SAW dalam setiap langkah kami. Jadikanlah hati kami lembut, lisan kami jujur, dan perbuatan kami bermanfaat bagi orang banyak. Ya Allah, ampunilah dosa kami, dosa orang tua kami, dan jadikanlah keluarga kami keluarga yang sakinah.

Mohon maaf jika ada kata-kata saya yang kurang berkenan atau terlalu menohok, itu semata-mata karena sayang saya kepada Bapak dan Ibu sekalian. Kalau ada yang lucu silakan tertawa, kalau ada yang kena di hati silakan direnungkan, tapi jangan sampai ada yang pulang terus marah sama istrinya.

Terima kasih atas segala perhatiannya. Semoga kita semua dikumpulkan bersama Rasulullah di surga nanti.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →