اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Yang terhormat para alim ulama, para kiai, asatidz dan asatidzah yang senantiasa menjadi pelita ilmu bagi umat, yang kami muliakan ibu-ibu pengajian yang insya Allah dirahmati oleh Allah SWT. Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah mempertemukan kita dalam majelis yang mulia ini. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, sosok yang hari ini akan kita pelajari kemuliaan akhlak dan kedudukannya di sisi Allah SWT.
Ibu-ibu sekalian yang dirahmati Allah, mengagungkan Nabi Muhammad SAW bukan sekadar ucapan lisan, melainkan sebuah kebutuhan ruhani. Mengapa beliau begitu agung? Karena Allah sendiri yang memuji beliau dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:
Ayat ini adalah legitimasi tertinggi bagi sosok Nabi kita. Dalam kehidupan rumah tangga, beliau adalah teladan yang luar biasa. Beliau tidak pernah kasar kepada istri-istrinya, bahkan beliau membantu pekerjaan rumah tangga. Aisyah RA pernah ditanya, apa yang dilakukan Nabi di rumah? Beliau menjawab: "Beliau membantu pekerjaan istrinya, dan bila datang waktu shalat, beliau segera keluar untuk shalat." (HR. Bukhari).
Ibu-ibu, coba kita renungkan, jika Rasulullah saja yang dijamin surga masih mau membantu meringankan beban istrinya, bagaimana dengan kita? Menjadikan beliau sebagai idola utama adalah jalan pintas menuju keridaan Allah. Nabi Muhammad SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
Mengapa kita harus mencintai beliau melebihi siapa pun? Karena dialah yang menangis di akhir hayatnya bukan memikirkan diri sendiri, melainkan memikirkan umatnya. "Ummati, ummati, ummati," (Umatku, umatku, umatku). Beliau begitu cemas memikirkan kita, sementara terkadang kita lalai dalam bershalawat kepadanya.
Sebagai seorang ibu, didiklah anak-anak kita untuk mengenal sosok Rasulullah melalui sirah nabawiyah. Ceritakanlah bagaimana lembutnya beliau kepada anak kecil, bagaimana sabarnya beliau menghadapi cacian, dan bagaimana kasih sayangnya kepada kaum fakir miskin. Seorang ulama besar, Imam Al-Bushiri dalam Qasidah Burdah berkata:
Mengagungkan Nabi juga berarti menghidupkan sunnah-sunnah beliau. Sunnah bukan hanya perkara besar, tapi hal-hal kecil seperti cara makan, cara tidur, hingga cara tersenyum kepada tetangga. Ketika kita meneladani beliau, rumah tangga kita akan menjadi baiti jannati, rumahku surgaku.
Sebagai kesimpulan, mari kita tingkatkan kadar cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW dengan memperbanyak shalawat, mempelajari sirah beliau, dan mengamalkan akhlak beliau dalam keseharian. Jangan biarkan hari kita berlalu tanpa mengingat beliau.
Mari kita tutup dengan doa. Ya Allah, tanamkanlah di hati kami rasa cinta yang mendalam kepada Nabi-Mu, Muhammad SAW. Jadikanlah kami termasuk umat yang mendapatkan syafaatnya di yaumil akhir nanti. Ampunilah segala dosa kami, dosa orang tua kami, dan bimbinglah kami untuk senantiasa berjalan di atas sunnah beliau.
Terima kasih atas segala perhatian ibu-ibu sekalian. Mohon maaf atas segala kekurangan, karena kesempurnaan hanya milik Allah semata. Semoga pertemuan ini membawa keberkahan.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ