اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Kepada yang terhormat para alim ulama, para asatidz dan asatidzah yang selalu menjadi pelita ilmu, dan yang saya banggakan, rekan-rekan pemuda-pemudi calon penghuni surga yang Allah muliakan.
Segala puji bagi Allah yang masih mengizinkan napas ini berhembus, meski seringkali kita gunakan untuk melanggar aturan-Nya. Terima kasih telah menyempatkan diri hadir di majelis ini. Hari ini, saya tidak ingin berceramah layaknya guru di depan murid, tapi saya ingin mengajak kalian merenung, membelah hati kita yang mungkin sedang keras, agar kembali mengenal Sang Pencipta melalui Hadis Jibril.
Teman-temanku, bayangkan jika hari ini adalah hari terakhirmu. Pernahkah terlintas di benakmu, apakah "Islam" yang kau jalankan hanya sebatas rutinitas? Apakah "Iman" di hatimu hanya sekadar label di KTP? Atau justru "Ihsan"-mu masih jauh dari rasa diawasi oleh Sang Maha Melihat?
Dalam sebuah hadis yang masyhur, Malaikat Jibril datang menyerupai manusia dan bertanya kepada Nabi ﷺ tentang Islam, Iman, dan Ihsan. Rasulullah menjawab:
Wahai pemuda, lihatlah shalat kita. Apakah ia shalat yang membasuh jiwa, atau shalat yang kita kerjakan dengan terburu-buru seolah ingin segera terlepas dari hadapan Allah? Seringkali, kita merasa lelah mengerjakan perintah-Nya, padahal Allah yang memberi kita napas tanpa pernah lelah menjaga kita.
Lalu tentang Iman. Rasulullah bersabda:
Berapa kali kita meragukan kasih sayang Allah saat dunia terasa menghimpit? Saat cinta terkhianati, saat masa depan terasa gelap, kita berteriak, "Mengapa harus aku, ya Allah?" Kita lupa bahwa setiap butir air mata yang jatuh dari mata seorang pemuda yang sedang berjuang di jalan-Nya, Allah catat dengan tinta emas di sisi-Nya.
Namun, yang paling menyayat hati adalah poin ketiga: Ihsan.
Ingatlah kawan, di saat kita berdua-duaan dengan layar ponsel, di saat kita melakukan dosa yang tersembunyi dari pandangan manusia, Allah sedang menatap kita. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata:
Pernahkah kalian merasa malu? Malu kepada Allah yang memberi makan, memberi kesehatan, tapi kita justru menggunakan nikmat-Nya untuk melupakan-Nya. Bayangkan jika orang tua kalian melihat apa yang sering kita lakukan di balik layar, tentu hati mereka hancur. Tidakkah kita lebih takut kepada Allah yang Maha Tahu?
Teman-temanku, dunia ini hanya mampir minum. Masa muda kalian adalah modal yang akan ditanya oleh Allah: "Untuk apa masa mudamu kau habiskan?" Jangan sampai, saat hari kiamat tiba, kita menjadi golongan yang menyesal karena hanya mengejar fatamorgana dunia sementara hati kita kosong dari Allah.
Mari kita tata kembali hati yang retak ini. Bersihkan dengan taubat yang jujur. Islam bukan sekadar status, Iman bukan sekadar ucapan, dan Ihsan adalah saat kita merasa rindu untuk selalu sujud kepada-Nya.
Wahai Allah, bimbinglah hati-hati pemuda ini agar tidak berpaling dari-Mu. Jadikanlah kami hamba yang mencintai-Mu lebih dari segalanya. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami yang tersembunyi, yang membuat kami jauh dari-Mu. Jadikan masa muda kami sebagai saksi kebaikan di akhirat nanti.
Terima kasih atas segala perhatiannya. Mohon maaf atas segala tutur kata yang mungkin menusuk kalbu, karena sejatinya saya pun pendosa yang sedang berusaha memperbaiki diri bersama kalian. Semoga kita dipertemukan kembali di surga-Nya.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ