اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.
Yang saya hormati para alim ulama, bapak kiai, para asatidz dan asatidzah yang ilmunya luas lagi tawadhu, yang saya hormati Bapak Kepala Desa beserta jajaran perangkat desa, tokoh masyarakat, dan yang paling spesial, seluruh bapak-bapak, ibu-ibu, serta remaja masjid yang wajahnya sudah berseri-seri karena sudah lewat jadwal makan siang.
Alhamdulillah, senang sekali rasanya bisa berdiri di sini, di tengah warga desa yang luar biasa. Kalau lihat ibu-ibu di sini, masya Allah, semangatnya luar biasa, meski saya tahu di rumah tadi kopinya mungkin belum sempat diminum karena keburu berangkat ke masjid. Terima kasih sudah menyempatkan waktu. Hari ini kita ngobrol santai ya, karena kalau ceramah terlalu tegang nanti yang lapar malah pusing, yang sudah makan malah mengantuk.
Bapak-bapak, Ibu-ibu, zaman sekarang ini ujiannya bukan main. Dulu ujiannya paling cuma telat panen atau kambing hilang. Sekarang, ujiannya ada di genggaman masing-masing, namanya HP. Anak-anak kita lebih takut kehilangan sinyal daripada kehilangan shalat. Maka dari itu, menjaga keluarga di era "zaman now" ini perlu ilmu dan sedikit humor agar tidak gampang naik darah.
Ingat firman Allah dalam surat At-Tahrim ayat 6 tadi, "Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." Ini perintah, Bapak, Ibu. Bukan saran. Jadi kalau anak-anak kita bandel, bukan berarti kita langsung ajak berantem, tapi kita jaga imannya. Ingat hadis Nabi SAW:
Jadi diingat-ingat, saat hari kiamat nanti, jangan sampai Bapak sibuk cari pahala sendiri, eh, istrinya ditarik malaikat ke arah lain karena Bapak tidak pernah ajak shalat. Bisa berabe urusannya.
Lalu bagaimana cara menjaga keluarga? Pertama, jadilah teladan. Jangan sampai Bapak menyuruh anak shalat, tapi Bapak sendiri masih ke warung kopi pas azan berkumandang. Anak itu seperti fotokopi, kalau yang aslinya miring, fotokopinya ya pasti miring juga. Bahkan mungkin lebih miring.
Kedua, tebarlah kebaikan. Jangan cuma sibuk jadi polisi moral buat tetangga, tapi lupa jadi manusia shalih di rumah sendiri. Rasulullah SAW bersabda:
Jadi kalau di masjid wajahnya ramah, senyum ke semua orang, tapi pas sampai rumah wajahnya seperti "batu akik" yang jarang dibersihkan, itu namanya belum lulus ujian keluarga. Jadilah orang baik yang paling pertama dirasakan manfaatnya oleh anak dan istri.
Ulama besar Hasan Al-Bashri pernah berkata:
Bapak, Ibu, hidup sebentar ini jangan dibuat ruwet karena dengki sama tetangga. Kalau tetangga beli motor baru, ya doakan "alhamdulillah". Jangan malah bilang, "Kira-kira itu motor hasil kredit atau uang gaib ya?". Itu namanya ujian iman lewat mulut!
Intinya, mari kita perkuat iman dengan shalat berjamaah, perbaiki komunikasi di rumah dengan kasih sayang, dan jangan bosan menebar kebaikan. Kalau kita senyum, itu sedekah. Kalau kita bantu orang, itu berkah. Jangan sampai kita mati dalam keadaan membawa dosa besar karena tidak pernah peduli dengan aqidah anak cucu kita.
Mari kita simpulkan, jaga rumah tangga kita, jangan biarkan HP merusak hubungan kita. Terus tebar kebaikan agar desa kita ini menjadi desa yang Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur.
Ya Allah, ampunilah dosa kami dan keluarga kami, kokohkan iman kami di akhir zaman ini. Jadikan keluarga kami keluarga yang sakinah.
Bapak Ibu, mohon maaf kalau ada kata yang kurang berkenan atau bercanda saya yang terlalu "renyah". Saya manusia biasa yang masih belajar dan belum sempurna. Terima kasih banyak atas perhatian dan hidangannya nanti.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ